free page hit counter

Air Terjun Resun, “Perawan” yang Menunggu untuk Bangun

Loading...

LINGGA (suarasiber) – Kabupaten Lingga dianugerahi kondisi geografi yang memungkinkan untuk memiliki tempat wisata cantik. Di Daik, terdapat pegunungan yang menyembunyikan “perawan” tengah menunggu untuk bangun.

Namanya Air Terjun Resun, berada di Desa Resun, Daik, Lingga. Dari Pelabuhan Sei Tenam, perjalanan bisa ditempuh kira-kira setengah jam, sebelum memasuki komplek Kantor Bupati Lingga.

Bermain-main di antara yang mengalir di bawah air terjun. f-suarasiber

Jalan masuk menanjak sudah dilengkapi jalan aspal. Batang pohon tinggi menjulang manyapa kedatangan wisatawan.

“Ada juga bule datang ke sini,” ungkap penjaga pos Air Terjun Resun yang siang itu, Sabtu (16/2/2019) menerima suarasiber.com.

Tiket masuknya masih terbilang murah, kendaraan roda empat Rp2,000, sepeda motor Rp1.000, orang dewasa Rp3.000, anak-anak Rp1.000.

Tak jauh perjalanan, kalau jalan kaki paling lama 30 menit, akan terlihat jalan setapak dibungkus paving blok. Sebelah kanan ada toilet dengan air bersih dari sumber air terjun, di sebelahnya ada musala, lalu warung makanan, gazebo, jembatan panggung.

Dari sini air terjun sudah terlihat. Pengunjung bisa turun ke bawah melalui tangga permanen. Bisa juga menyeberangi aliran sungai karena beberapa pijakan kaki dari beton akan menopang kaki para wisatawan. Air mengalir diantara pijakan-pijakan itu.

Baca Juga:

Modalnya Cuma Aplikasi Gratisan, Pria Ini Bisa Tawarkan 65 Wanita Muda ke Pelanggan

Warga Tambal Lubang Jalan, Polisi Bersihkan Pasir yang Bahayakan Pengendara

Silakan mandi, membasuh muka akau sekadar berfoto-foto. Rasanya tak perlu memilih sudut terbaik untuk foto yang akan Anda kirimkan untuk teman atau diunggah ke media sosial. Hampir segala sudutnya elok, hijau. Cobalah hening, maka tumpahan air dari atas bukit akan memperdengarkan lagu indahnya.

Atau ingin menyaksikan jatuhnya aliran air dari atas? Naik saja dari punggung bukit. Sebelah kanan atau kiri sama saja. Hanya perlu kehati-hatian karena jalannya masih berupa tanah yang dibuat undak-undakan.

Anda bisa benar-benar berada di bebatuan besar di atas air terjun yang jatuh di tingkatan terakhir. Sebab ada beberapa tingkat lagi di atasnya. Hati-hati, bebatuan bisa saja licin. Percayalah, “perawan” ini masih bersih. Tak tampak coretan-coretan tangan atau grafiti yang biasanya ditemukan di tempat-tempat wisata seperti ini.

Air Terjun Resun tingkat paling bawah memang tak tinggi, kira-kira 6 – 7 meter, namun melebar. Tumpahan airnya memenuhi kolam alami di bawahnya. Tak heran jika pengunjung tempat ini biasanya tak kuat iman untuk tidak mandi atau berbasah-basahan kaki.

Toilet, musala, warung makan permanen menjadi fitur pelengkap Air Terjun Resun. f-suarasiber

“Indah air terjun ini, setiap Imlek saya biasanya ke sini. Setidaknya masih dalam suasana Imlek,” tutur Susanto, warga Dabo Singkep yang datang bersama istri dan tiga anaknya.

Suara binatang khas pegunungan senantiasa terdengar. Menemani tujuan Anda yang ingin duduk-duduk santai di dua gazebo lain yang ada di sisi kanan air terjun. Cukup untuk menampung belasan orang.

Semuanya masih alami. Hanya tinggal menjualnya lewat pengenalan, bisa lewat media sosial. Tinggal bagaimana mengemasnya, memberinya godaan agar “perawan” ini bangun, menggeliat dan memukau.

Kapan Anda ke sini? Sang “perawan” menanti. Bahkan di musim kemarau, airnya tetap mengalir.(mat)

Loading...