free page hit counter

Tatkala Merah Putih Memberinya Nafas Kebahagiaan

Loading...

Bagi Hendra, Merah Putih bukan sekadar bendera Republik Indonesia. Kepadanya ia menggantungkan rezeki setiap kali menjelang bulan Agustus.

Eko Sulestyo – Tanjungpinang

Agustus 2018 ini, genap 11 tahun sudah Hendra menekuni pekerjaannya sebagai penjual bendera Merah Putih. Sebagai penjual di kaki lima, penghasilannya memang tak menentu. Namun dengan niat serta rasa hormat yang mendalam akan simbol negara ini, ia tersenyum dengan hasilnya.

Jika belakangan ini Anda melintas di jalan raya, tepatnya depan Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri, akan tampak bendera, umbul umbul atau bentuk lain dari kain yang hanya dua warna, merah dan putih.

Hendra melayani warga yang membeli tiang bendera. F-cr1

Bendera ini dipajang dengan cara dibentang agar mudah terlihat. Selain yang dipajang, Hendra yang berusia 40 tahun ini juga memiliki stok dagangan yang akan dikeluarkan ketika ada pembeli.

“Saya juga menjual kayu sebagai tiang bendera,” tutur lelaki yang tinggal di Batu 2, Tanjungpinang ini, dua hari lalu kepada suarasiber. Per batang tiang bendera dijualnya 20 ribu.

Hendra mengakui, menjual bendera itu unik baginya. Hampir setiap menjelang datangnya Agustus, atau mepet-mepetnya awal Agustus, selalu saja ada yang membeli dagangannya. Padahal kalau dipikir, bendera bukanlah barang habis pakai.

“Mungkin itu berkah menjual bendera. Bagaiamana pun dulu para pejuang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan Merah Putih,” katanya.

Untuk berjualan bendera sepertinya, tak membutuhkan tempat khusus. Hanya butuh tempat yang agak luas, ada pohon untuk berlindung dari panas matahari serta kesabaran.

Sambil menunggu pembeli, Hendra akan setia menunggu dengan duduk santai di atas alas terpal. Hari itu ia membawa terpal biru untuk tempatnya duduk menunggu rezeki diberikan Tuhan kepadanya.

Sebuah karung plastik berwarna putih dengan bagian atas dilipat menyisakan bagian bawah bertuliskan kode wilayah pengiriman barang. Itu artinya hendra harus mendatangkan bendera dari luar Tanjungpinang menggunakan jasa pengiriman atau ekspedisi.

Segala bentuk bendera ada di sini. Dalam arti yang umum digunakan. Untuk rumahan biasanya warga membeli yang ukuran dan bentuknya yang lazim, dengan harga Rp20 ribu per bendera.

Untuk kantor pemerintah atau swasta, ada juga bendera merah putih dalam bentuk yang lain. Bendera jenis ini biasanya dipasang di depan pintu masuk. Di tengah warna merah terdapat gambar Garuda pancasila. Sementara warna putihnya dijahit di luar warna merah tadi.

Hendra membuka lapak sederhananya dari jam tujuh pagi sampai enam sore. Dengan catatan hari tak sedang hujan. Omzet per hari tidak tentu.

“Paling sedikit lima ratus ribu. Kadang lebih kadang kurang tetapi rata-rata segitu,” ujarnya.

Jumlah itu belum termasuk hari ramai. Jika sedang ramai bahkan Hendra bisa mengantongi Rp3 juta sehari. Jumlah ini tercapai ketika banyak pembeli bendera untuk keperluan menghias kantor atau instansi pemerintah atau swasta. Untuk bendera sebagai hiasan kantor, harganya Rp300 ribu.

Instansi atau kantor yang besar kadang membeli beberapa bentuk bendera. Sekalian umbul-umbul. Dan nyaris semua kantor pemerintah atau instansi memasang bendera setiap kali Agustus datang. Bukan hanya kantor pemerintah, toko toko yang ada di tepi jalan pun sudah biasa memasang atribut kemerdekaan ini.

Bendera belum dipajang semua di tiang gantungan. Hari yang cerah adalah doa dari pedagang atribut Agustusan seperti Hendra. F-cr1

“Agustus itu bulan berkah bagi usaha saya. Agustus juga banyak dipakai orang yang punya usaha untuk memberikan promo. Coba Mas lihat cek di Tanjungpinang, pasti ada yang memberikan diskon harga khusus bulan Agustus,” kata Hendra yang hanya berjualan bersama temannya.

Sebelas tahun menekuni jualan bendera Merah Putih mengasah naluri bisnisnya. Salah satu yang dilakukannya ialah menawarkan benderanya kepada sejumlah pedagang di Batam.

Berkah tak terduga dirasakannya pada Agustus 2016 silam. Dalam sebulan berjualan, omzetnya tembus Rp20 juta.

Lalu, apa makna Agustus bagi Hendra?

“Semoga anak cucu kita tetap menghargai jasa pahlawan. Tidak usah yang sulit sulit, memasang bendera di depan rumah masing-masing saja,” jawabnya. Tetap ada bumbu promosi dagangannya, namun soal tetap menghargai jasa pahlawan agaknya kalimat yang harus ada dalam darah kita. warga Negara Indonesia. ***

Loading...