free page hit counter

Kemasan Ramah Lingkungan untuk Daging Kurban

Loading...
kemasan ramah lingkungan 2

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Kemasan ramah lingkungan menjadi hal yang mulai dipraktikkan pada Hari Raya Kurban 2019. Salah satunya yang dilakukan oleh Polres Tanjungpinang, Provinsi Kepri. Panitia kurban menggunakan pembungkus kuno.

Pada Idul Adha kali ini, Polres Tanjungpinang kembali menyembelih hewan kurban. Jumlahnya lima ekor sapi dan tiga ekor kambing. Yang menarik ialah, pembungkus yang digunakan sebagai kemasan daging kurban yang sudah dipotong-potong.

Petugas kurban tidak menggunakan kemasan makanan food grade atau packaging alumunium foil. Melainkan menggunakan wadah yang bisa dibilang “kampungan” namun nyatanya sangat ramah lingkungan. Ya, mereka menggunakan besek yang terbuat dari bilah-bilah bambu yang dianyam.

Besek bambu ini merupakan barang yang penting di kampung-kampung Jawa zaman dahulu. Sebelum serbuan wadah plastik buatan pabrik, hampir setiap acara yang melibatkan makanan menggunakannya. Entah itu sunatan, khitanan atau yasinan dan doa bersama.

Untuk menggunakannya juga sangat mudah, karena kemasan ramah lingkungan ini terdiri dari sepasang. Ada wadah dan tutupnya, tinggal dilapisi daun bagian bawahnya, lalu ditutup dan diikat.

Membudayakan Kemasan Ramah Lingkungan di Hari Raya Kurban

plastik ramah lingkungan

Dari berbagai sumber yang diperoleh suarasiber, penggunaan besek bambu sebagai wadah daging kurban tak hanya dilakukan di Tanjungpinang.

Dilansir dari ntmcpolri.info, Polres Banyuwangi, Jawa Timur juga menggunakan besek bambu untuk membagikan daging kurban. Di sini disembelih 9 ekor sapi dan 13 ekor kambing. Dengan jumlah hewan kurban sebanyak itu tentu membutuhkan bungkus yang banyak.

Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi turut berkurban. Sementara Penggunaan besek untuk daging kurban dilakukan sebagai bentuk kepedulian aparat kepolisian terhadap lingkungan. Agar air yang terkandung dalam daging segar tidak bocor, lapisan bawah besek diberi daun pisang.

“Kami turut serta mengurangi sampah plastik dalam kurban kali ini. Selain itu juga ini instruksi secara nasional. Kita gunakan besek sebagai pembungkus daging hewan kurban,” ujar Taufik, dikutip dari ntmcpolri.indo, Ahad (11/8/2019).

Ratusan besek bambu sengaja didatangkan dari Bondowoso, Jawa Timur. Biasanya, besek ini digunakan sebagai pembungkus tape. “Saya memang pesan khusus dari Bondowoso. Dulu saya bertugas di sana, wajib harus pakai besek tanpa plastik,” katanya.

Selain itu panitia kurban Masjid Istiqlal pun melakukan hal yang sama. Alih-alih menggunakan plastik ramah lingkungan, para petugas kurban justru memilih besek bambu sebagai kemasan ramah lingkungan.

Daging Kurban untuk Anggota dan Masyarakat

korban kapolres tanjungpinang 2019

Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi hadir pada pemotongan hewan kurban. Ia didampingi Pejabat Utama, Personel dan PNS Polres Tanjungpinang serta Bhayangkari Cabang Tanjungpinang. Ada juga 300-an warga yang datang ke lokasi pemotongan, depan Barak Tribrata Mapolres Tanjungpinang.

Melalui Kabag Sumda, Kompol Jaswir SH, Kapolres dan jajaran mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1440 Hijtiyah. Semoga setiap langkah dan perbuatan selalu diiringi dengan kebaikan.

“Diberi kecukupan rezeki dan sukses dalam pelaksanaan tugas dan karir,” kata Jaswir menyampaikan pesan Kapolres.

Rangkaian kurban di Polres Tanjungpinang diawali dengan penyerahan hewan oleh Kapolres kepada panitia. Selanjutnya dilakukan penyembelihan. Daging kurban yang dibungkus kemasan ramah lingkungan kemudian dipotong-potong. Saat semuanya terpotong, dimasukkan besek bambu lalu dibagikan kepada anggota Polres dan juga masyarakat. (mat)

Pentingnya Kemasan Ramah Lingkungan

kemasan makanan food grade

Kemasan ramah lingkungan pun menjadi hal yang paling sering disampaikan Kementerian Perindustrian RI. Dilansir dari bppi.kemenperin.go.id, kemasan harus unik.

Namun unik belum cukup, harus kuat. Sudah banyak pelaku industri yang beralih menggunakan kemasan ramah lingkungan atau yang biasa disebut dengan sustainable packaging.

Pencemaran lingkungan menjadi permasalahan yang cukup sulit diatasi. Penyumbang terbesar pencemaran lingkungan ini adalah akibat penggunaan kemasan plastik yang tidak bisa diurai. Ditambah pemakaian palstik pada kehidupan sehari-hari pun tidak bisa dihindari.

Menurut data riset Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia, sampah plastik yang terbuang kini mencapai kurang lebih 26.500 ton per hari. Untuk itu, pemerintah membuat kebijakan dengan memberikan biaya tambahan jika ingin menggunakan kantong plastik pada saat berbelanja di Supermarket atau mall.

Nah, selain besek yang dipakai sebagai kemasan ramah lingkungan pembungkus daging kurban, berikut alternatifnya:

Plastik Berbahan Polypropylen

Penggunaan styrofoam yang sering diaplikasikan oleh pengusaha kuliner kini sudah mulai ditinggalkan. Hasil penelitian bahan tersebut sangat sulit untuk dilebur. Diperlukan minimal 100 tahun untuk melebur kemasan dari bahan tersebut.

Oleh karena itu, banyak pengusaha yang memulai mengganti kemasan dengan materian sintesis tersebut dengan wadah plastik. Namun bukan sembarang plastik, melainkan berbahan dasar polypropylen yang ramah lingkungan.

Biofoam

Biofam juga bisa digunakan sebagai kemasan pengganti Styrofoam yang berbahan dasar alami. Bedanya dengan styrofoam, biofoam mudah mengalami proses penghancuran. Bahan baku untuk membuat biofoam adalah pati dengan tambahan serat untuk memperkuat struktur.

Keduanya bisa ditemukan dari tanaman pangan yang mengandung unsur-unsur tersebut. Proses pembuatannya menggunakan teknologi thermopressing. Yakni mencampurkan adonan pati serat dan bahan aditif lain ke dalam komposisi tertentu. Berikutnya dicetak pada suhu 170-180 derajat celcius selama 2-3 menit.

Edible Packaging

Bahan ini bentuknya pelapis atau adible coating dan juga edible film atau lembaran. Dengan bahan ini maka makan sesuatu tak harus membuang bungkusnya. Makan saja bungkusnya hehe. (man)

Loading...