free page hit counter

Mengetahui Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ciri-cirinya

Loading...
Ayu Santika

Pemberdayaan menurut arti secara bahasa adalah proses, cara, perbuatan membuat berdaya, yaitu kemampuan untuk melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak yang berupa akal, ikhtiar atau upaya (Depdiknas, 2003).

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat, 2009).

Dalam beberapa kajian mengenai pembangunan komunitas, pemberdayaan masyarakat sering dimaknai sebagai upaya untuk memberikan kekuasaan agar suara mereka didengar guna memberikan kontribusi kepada perencanaan dan keputusan yang mempengaruhi komunitasnya (Foy, 1994).

Pemberdayaan adalah proses transisi dari keadaan ketidakberdayaan ke keadaan kontrol relatif atas kehidupan seseorang, takdir, dan lingkungan (sadan,1997).

Dengan demikian, menurut penulis pemberdayaan masyarakat adalah upaya fasilitas yang bersifat non instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan, dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi lintas sektoral maupun LSM dan tokoh masyarakat.

Istilah itu dapat dengan mudah kita temukan artinya di internet. Baik oleh blogger, media maisntream atau media sosial. Namun jika melihat apakah sebuah kegiatan disebut sebagai pemberdayaan masyarakat atau bukan, tentunya tak bisa hanya dengan mengerti artinya.

Menurut penulis, sebenarnya tidak sulit untuk mengetahui apakah kegiatan itu sebuah pemberdayaan masyarakat atau tidak.

Salah satunya dengan mengerti ciri-ciri yang terkandung dalam pemberdayaan masyarakat itu sendiri.

Berikut ini adalah ciri-ciri yang menurut penulis akan membantu memudahkan kita memahami pemberdayaan masyarakat.

Pertama community leader, bisa diartikan leadernya harus melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat atau pemimpin terlebih dahulu. Misalnya Camat, lurah, kepala adat, ustaz, dan sebagainya.

Jika ada yang tiba-tiba masuk tanpa permisi atau mengenalkan diri, ada potensi akan ditolak oleh masyarakat sehingga pemberdayaan masyarakat akan gagal.

Kedua, community organization, harus iketahui apakah sebuah kelompok di masyarakat bisa dijadikan mitra untuk sama-sama memberdayakan masyarakat. Kalau kelompok yang dicoba didekati memiliki kecenderungan sulit diajak kerja sama, lebih baik dipikirkan ulang.

Ketiga, community fund, harus ada kesepahaman bahwa dana yang diputar harus dikembangkan dengan prinsip gotong royong sebagai salah satu prinsip pemberdayaan masyarakat.

Gotong royong sudah menjadiri ciri khas warga negara Indonesia, sehingga dengan pemberdayaan masyarakat maka mengingatkan kembali pentingnya gotong royong tersebut.

Keempat, community material, artinya setiap daerah memikili potensi yang berbeda-beda. Jadi tidak bisa disamakan misalnya satu desa dengan desa lainnya bisa diberlakukan pemberdayaan masyarakat yang sama.

Karakteristik ini perlu dipahami agar pemberdayaan masyarakat yang dilakukan tepat sasaran. Misalnya desa yang banyak pasir bisa saja diberdayakan untuk membangun jalan, desa yang memiliki potensi peternakan banyak diperdayakan tentang membuat pupuk kandang kemasan dan sebagainya.

Kelima, community knowledge, pemberdayaan bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan berbagai kegiatan. Harus diingat bahwa yang diajak bicara dan tukar pendapat adalah masyarakat dengan pola pikir berbeda.

Jika tokoh pemberdayaan masyarakat mendapatkan hambatan sudah seharusnya ia terus maju dan bisa memberikan pemahaman yang sama pada akhirnya.

Keenam, community technology, yakni teknologi sederhana di komunitas dapat digunakan untuk pengembangan program pemberdayaan masyarakat. Salah satu contohnya ialah teknologi sederhana menyaring air keruh atau air hujan menjadi air bersih yang siap dikonsumsi.

Demikianlah uraian penulis tentang cara mudah memahami pemberdayaan masyarakat. ***

Penulis: Ayu Santika; NIM: 18101035; Jurusan Ilmu Administrasi Publik Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Loading...