free page hit counter

Tanpa Uang, Semangat Mereka Tak Pernah Lekang

Loading...

Satu persatu anggotanya mundur lantaran kekurangan dana operasional. Namun semangat dan ide tak mampu mematikan langkah yang tersisa, terus berjuang untuk satu hal: wisata.

Nurali Mahmudi

Tak kenal maka tak sayang, jangan anggap kuno pepatah yang memang sudah kuno ini. Meski di blog resmi mereka namanya pokdarwis, tetapi jangan beranggapan ini nama orang atau manusia.

Pokdarwis adalah Kelompok Sadar Wisata. Didirikan oleh sekelompok anak muda Dompak pada 2015 silam. Keuletan mereka mengenalkan potensi wisata di Pulau Dompak bahkan membuat Wakil Wali Kota Tanjungpinang mengukuhkan keberadaan kelompok ini pada Oktober tahun itu.

Awalnya muncul keprihatinan, mengapa Tanjungpinang tak memiliki wisata pantai yang mudah ditempuh oleh masyarakat. Dodi Irawan, perantau yang menikahi gadis Melayu dan tinggal di Dompak tergelitik untuk berbuat sesuatu. Lalu ia berbincang dengan pemuda lainnya untuk membentuk kelompok yang bertujuan mengenalkan Tanjung Siambang sebagai lokasi wisata pantai.

Awalnya, anggota Pokdarwis cukup banyak. Namun perjuangan, hambatan, rintangan, akhirnya menyisakan beberapa orang yang aktif. Selain Dodi yang dipercaya sebagai ketua, ada Nur Alam sebagai wakilnya, Siti Mariana sebagai sekretaris, Yeni Norlia, Yumarwin sebagai ketua bidang pramuwisata. Mereka dibantu Razali dan Azwanliyanto. Bidang keamanan dipegang oleh Agustiar.

Dompak ya Dompak. Begitulah kira-kira yang ada dalam benak warga Tanjungpinang. Bahkan setelah pembangunan kantor pusat Pemerintahan Provinsi Kepri digalakkan di sini, kebanyakan orang tahunya ya Dompak tadi.

Padahal, konon nama Dompak tak lepas dari sebuah kampung tua yang bernama Tanjungsiambang. Dompak sendiri terbagi menjadi tiga, Dompak Lama, Dompak Seberang dan Dompak Laut. Tanjungsiambang sendiri ada di Dompak Laut.

Dompak, bagi masyarakat Tanjungsiambang, lahir dari kata Dumpak yang artinya sekumpulan rumah warga. “Kalau ada yang mengatakan Dompak dari kata Rompak atau perompak, itu perlu diluruskan. Jelas tidak mungkin bisa diterima oleh masyarakat Dompak khususnya Tanjungsiambang,” tutur Dodi saat berbincang ringan di sebuah kedai kopi di Bintan Centre, beberapa masa yang lalu.

Butuh perjuangan untuk mengenalkan Tanjungsiambang kepada masyarakat. Karena mereka sudah terdogma, kalau wisata pantai ya Trikora atau Lagoi. Paling-paling kalau di Tanjungpinang ya Tepi Laut. Ada Pulau Sore, namun butuh waktu dan biaya untuk menyinggahinya.

Memperkenalkan sebuah tempat wisata bukan hanya memostingnya di media massa atau promosi mulut ke mulut. Jauh sebelum Tanjungsiambang siap dilaunching, pantainya harus dibersihkan. Ada tempat untuk parkir kendaraan atau fasilitas lain yang tak kalah pentingnya. Tempat makan misalnya. Atau gubuk sederhana untuk berteduh.

Pokdarwislah yang melakukannya. Dan jika dilihat sekarang, Tanjungsiambang menjadi pilihan terdekat bagi warga Tanjungpinang. Saat liburan, pantainya menjadi arena bermain anak-anak, remaja, dan orangtua. Sejumlah pondok pun siap menanti kunjungan keluarga. Parkir yang luas dan jalan masuk ke objek wisata ini sudah diaspal. Hanya jalan masuk dari jalan utama ke dalam yang masih jalan tanah. Pun jaraknya tak lebih dari 500 meter.

Apakah Dompak hanya Tanjungsiambang? Tidak bagi Pokdarwis. Masih satu pantai dengan Tanjungsiambang, ada Tanjungsetumu. Sama seperti di Tanjungsiambang, pantai di sini justru lebih menawan. Pantai berbatu, sementara bukit di atasnya rimbun.

“Saat ini bagi yang ingin menginap di bawah tenda bisa dilakukan di Tanjungsetumu,” ungkap Dodi.

Gagasan untuk menjadikan Tanjungsetumu sebagai wahana tempat berkemah, oubond dan family gathering tak lepas dari tekstur bukitnya yang bertanah keras. Ada stepa atau padang rumput yang luas, ada semak belukar dan pepohonan tinggi sebagai penghalang panas. Bukit inilah yang diolah Pokdarwis Dompak.

Satu lagi, Tanjungsetumu menyimpan begitu banyak pohon kemunting. Bagi warga pesisir, pepohonan ini bisa mengingatkan kepada kehidupan masa kecil. Saat musimnya berbuah, bocah bocah asyik memetik buahnya untuk disantap. Bagi yang belum tahu seperti apa buah kemunting, Tanjungsetumu akan menunjukkannya.

Gerakan Pokdarwis Dompak tak terhenti. Sebuah pulau bernama Basing pun dijajaki. Ada cerita menarik di sini, saat Dodi dan teman-temannya mencoba membersihkan lahan ada yang menganggap mereka ingin menguasai tanah di pulau ini. Setalah dijelaskan tujuannya, masyarakat pun memberikan dukungan. Karena ketika suatu hari nanti Pulau Basing ramai, masyarakat juga yang akan mendapatkan hasilnya.

Pokdarwis Dompak pun menjalin kerja sama dengan nelayan setempat. Apabila ada pengunjung dari Tanjungpinang ingin ke Pulau Basing, bisa menyewa perahu nelayan.

Di Pulau Basing, Pokdarwis Dompak membuat kursi sederhana dari kayu. Dengan biaya seadanya, mereka harus kreatif. Saat mengolah Pulau Basing sebagai destinasi wisata inilah ujian sebenarnya dihadapi Pokdarwis Dompak. Karena ketiadaan biaya, untuk menyeberang ke pulau ini Dodi dan teman-temannya harus menumpang perahu nelayan yang kebetulan melintas. Masalah pun terpecahkan. Alhamdulillah anggota yang sempat keluar akhirnya bergabung lagi.

Berjuang bermodal semangat dan keikhlasan diyakini semua anggota Pokdarwis Dompak akan ada hasilnya, kelak. yang terpenting adalah bagi masyarakat setempat. Bagi anak-anak muda yang tergabung di dalamnya, pencapaian impian mereka akan lebih bermakna jika terus menghadapi rintangan. Bahkan kegagalan dijadikan bekal untuk menggapai sukses.

Saya pernah ke Tanjungsetumu. Hanya untuk membuktikan apakah pantainya memang bisa mengistirahatkan sejenak otak yang lebih sering panas karena aktivitas sehari-hari. Mulai melewati jalan masuk hingga ke pantai yang dihiasi bebatuan beraneka bentuk, Tanjungsetumu memang bagus.

Jika sekarang seperti kata Dodi bisa digunakan untuk family gathering, bumi perkemahan, berarti banyak hal yang telah dilakukan Pokdarwis Dompak di sini. Tanpa modal uang, semangat mereka tak pernah lekang. Tak dibiarkan melayang begitu saja.

Atau ada di antara Anda ingin mengajak saya kembali mengencani Tanjungsetumu? Dan meneruskannya menyeberang ke Pulau Basing?

Loading...