free page hit counter

Hj Rahma SIP, Wali Kota yang Tak Pernah Malu Akui Mantan Sales Susu

Loading...

Di tempat yang sama, Gedung Daerah, Tepi Laut, Kota Tanjungpinang. Jumat 21 September 2018 Gubernur Kepri Nurdin Basirun melantik H Syahrul SPd dan Hj Rahma SIP sebagai Wali Kota/Wakil Wali Kota Tanjungpinang 2018 – 2023. Senin, 21 September 2020 Gubernur Kepri Isdianto melantik Hj Rahma SIP sebagai Wali Kota Tanjungpinang.

Tuhan selalu punya kehendak yang tidak diketahi umat-Nya. Pun dengan Rahma, H Syahrul yang dianggapnya seperti ayah sendiri meninggal dunia karena Covid-19 pada 28 April 2020. Kondisi itulah yang mengantarnya menjadi Wali Kota Tanjungpinang, menyelesaikan sisa masa jabatannya hingga 2023.

Rahma bukan anak pengusaha, orang kaya. Ia adalah anak desa yang membuktikan diri mampu menjadi pemimpin berkat kegigihan. Sejak kecil, gigih adalah kata yang dibenamkan dalam sanubarinya. Bukan hanya ditempelkan.

Ia lahir di Sungai Danai, Indera Giri Hilir (Inhil) pada 11 Mei 1975. Ayahnya, H Abdul Gani adalah petani sementara ibunya, Hj Sairah ibu rumah tangga. Meski tak pernah menyadari tengah melakukan sebuah kegigihan, nyatanya sejak kecil waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membantu orang tuanya.

Blusukan mendatangi warganya seperti ini sudah dilakukan Rahma sejak duduk sebagai anggota dewan di DPRD Kota Tanjungpinang. Foto – humas pinang

Rahma mempunyai tiga orang saudara kandung, seorang abang yang bernama M Amin Gani Mhd. Syahrul si bungsu dan saudara kembarnya, Hj Rohani SAP yang juga Anggota DPRD Kabupaten Karimun 2014 – 1019.

Selepas SD di kampung halamannya, Rahma melanjutkan ke MTsN di Tanjungbatu pada 1991. Berikutnya ia masuk ke MAN di kota yang sama dan lulus 1994. Hebatnya, demi mengawal anaknya sekolah, kedua orang tuanya bahkan pindah dari Inhil ke Tanjungbatu.

Selepas MAN, gadis desa yang mulai beranjak remaja itu ingin kuliah. Dengan niat kuat, ia memberanikan diri merantau ke Pekanbaru pada tahun 1995. Ia memang diterima di Institut Agama Islam Negeri Sultan Syarif Qasim (kini jadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim).

Namun Rahma hanya mampu menikmatinya setahun karena keterbatasan biaya. Dengan kesedihan mendalam, ia pulang kampung. Rupanya ia dendam karena tak bisa menyelesaikan kuliahnya. Enam bulan di kampung rasanya sepuluh tahun baginya.

Rahma nekad kembali ke Pekanbaru, ia meneruskan kuliahnya di IAIN. Kali ini ia mencoba mencari uang dengan bekerja. Rupanya nasib belum berpihak padanya. Rahma harus keluar dan memilih kursus mengajar TK. Ada harapan dalam hatinya, kelak ia akan menjadi guru TK untuk membantu kehidupan orang tuanya.

Rahma harus berjuang sendiri. Beruntung ia mengantongi senjata bernama “kegigihan” di hatinya. Untuk membiayai biaya kursus dan membayar sewa kamar, ia tak malu menjadi buruh cuci pakaian teman kosnya sendiri.

Sales Susu dan Farmasi

Lahir dari orang tua petani dan ibu rumah tangga, Hj Rahma SIP dekat dengan warga yang kesusahan. Foto – humas pinang

Mengingat kebutuhannya banyak, Rahma juga menjadi Sales Promotion Girl (SPG) susu bayi dan obat-obatan di rentang 1996 – 1997.

Pada 1997 Rahma dipindahkan ke Kota Batam. Setahun kemudian ia dipindah ke Tanjungpinang dan harus stay di kota ini. Meski beda perusahaan namun tetap saja sebagai sales representatif farmasi.

“Di Batam sales, di Tanjungpinang ya sales juga. Cuma sasarannya lebik tinggi, yakni para dokter,” ujar Rahma dalam sebuah wawancara.

Lahir dari pasangan sederhana, mau kuliah tak mampu, bekerja juga hanya sebagai sales, nyatanya tak membuatnya kecil hati. “Saya tak pernah merasa malu, karena segala pekerjaan yang halal tak perlu malu untuk dikerjakan. Yang penting mendapatkan ridha dari Allah atas pekerjaan yang dilakoni dan keberkahan rezeki yang diterima,” imbuhnya.

“Bagi saya, sama sekali tidak malu mengakui perjalanan hidup saya sebagai sales susu dan farmasi,” tutur Rahma.

Justru ia memandang perjalanan hidupnya sangat luar biasa. Berkat kegigihannya ia naik jabatan, meski tak jauh dari dunia sales. Pagi hari ia mempromosikan produk susu bayi ke rumah sakit, malamnya ke tempat praktik dokter anak.

Rahma mengenang, banyak anak yang pernah dia kunjungi saat masih sebagai SPG susu sekarang sudah dewasa. Bahkan beberapa orang kini bekerja di lingkungan Pemkot Tanjungpinang.

Sebuah keputusan harus diambil pada 2003. Ketika perusahaan tempatnya bekerja mengharuskannya pindah ke Batam, ia memilih keluar untuk menjaga anak-anaknya dan keluarga.

Pada tahun 2000 Rahma menikah dengan H Muhammad Agung Wira Dharma SH MH. Pernikahan ini membuahkan tiga anak, yakni Dessy Puspita Sari, Muhammad Adhi Wiratama dan Cathlina Devina.

Mulai Melirik Organisasi

Kebijakannya melawan pandemi Covid-19 dilakukannya dengan menerbitkan SE, termasuk jam operasional tempat usaha. Foto – humas pinang

Di Tanjungpinanglah Rahma mulai belajar berorganisasi. Meski statusnya sebagai istri dan ibu, namun tak mengurangi waktunya dengan berorganisasi.

Kemudian ia berpolitik, karena awalnya prihatin dengan nasib rakyat. Keinginan untuk bisa berpartisipasi membangun Tanjungpinang begitu menggelora di dadanya.

Debutnya di dunia politik mengalami kegagalan, ia tak terpilih saat Pemilu Legislatif pada 2004.

Begitulah Rahma, gigih di mana-mana. Kali ini, untuk membuatnya tetap memiliki kegiatan ia membuka kedai kecil di rumahnya. Kalah menjadi anggota dewan tak membuatnya kapok. Sambil berjualan sembako, ia masuk menjadi agen asuransi.

Ia lalu aktif di berbagai kegiatan sosial dan bekerja di sebuah kantor advokat. Di sinilah proses belajar hidup kembali menempa Rahma.

Rahma juga pernah menjadi guru honor di SD 008, Sebauk, tahun 2009. Ia mengucapkan subhanallah tatkala mengingat, kepala sekolah yang menerimanya sebagai guru honor sekarang kepala Dinas Pendidikan di Pemkot Tanjungpinang.

Pada Pemilu Legislatif 2014 ia terpilih dan menjadi anggota DPRD Kota Tanjungpinang masa bakti 2014 – 2019.

Saat menjadi wakil rakyat, Rahma benar-benar menjadi wakil masyarakat. Ia rajin blusukan, kegiatan di masjid-masjid dan acara warga. Hal yang tidak diketahui banyak orang. Bahkan saat ia tak bisa meninggalkan blusukannya serta memberikan bantuan kepada warga, ada yang menyebutnya pencitraan.

Salah satu kegigihan Rahma ialah memperjuangkan listrik untuk masyarakat. Ia tak lagi berpikir apakah itu warga di Dapilnya atau tidak. Bukti keuletannya ialah listrik yang sekarang menerangi Dompak.

“Demikian juga di Tanjung Setumu, Sekatap, Kampung Haji hingga ke wilayah TPA. Alhamdulillah sudah terealisasi. Waktu itu saya jalin komunikasi intens dengan PLN,” tuturnya.

Wakil Wali Kota ke Wali Kota

Dilantik Gubernur Kepri Nurdin Basirun sebagai Wakil Wali Kota Tanjungpinang mendampingi H Syahrul SPd, 21 September 2018. Foto – humas pinang

Sepak terjangnya terdengar oleh H Syahrul SPd yang maju sebagai calon Wali Kota Tanjungpinang 2018 – 2023. Lagi-lagi ini ujian buat Rahma. Karena itu artinya ia harus mundur sebagai Anggota DPRD Kota Tanjungpinang.

Rahma tahu, itu adalah pertaruhan memang dan kalah. Kalau menang tentu tak sesulit jika akhirnya kalah. Apa rencananya jika waktu itu Syahrul – Rahma kalah?

“Saya harus kembali menjadi ibu rumah tangga,” jawabnya.

Meninggalnya Syahrul membuat Rahma kembali diuji dan ditempa melalui proses yang panjang. Satu hal yang membuatnya yakin melangkah ialah apa yang sudah diajarkan Ayah Syahrul kepadanya. Saat menjadi Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul memberinya peran yang bukan hanya pendamping apalagi pajangan.

“Selama saya mendampingi Ayah, awalnya saya merasakan posisi sebagai Wakil Wali Kota sangat terbatas, namun Ayah Syahrul tidak demikian. Terus terang, saya diberikan oleh beliau kesempatan luas untuk saling bersinergi dan berbuat lebih banyak untuk masyarakat,” syukurnya.

Kini Hj Rahma SIP adalah Wali Kota Tanjungpinang. Bukan berarti ia sudah melupakan kegigihannya.

Senantiasa Berniat Baik dalam Bekerja

Diganjar penghargaan oleh Koran Tempo Grioup sebagai satu dari 50 Perempuan Berpengaruh di Indonesia Melawan Covid-19. Hj Rahma SIP pun diundang sebagai narasumber seminar online untuk membagikan pengalamannya. Foto – humas pinang

Jasa ayah – bundanya senantiasa diingatnya. Maka itulah dia terus mengingat apa yang telah dipesankan oleh ayah yang dipanggilnya Ambok. Menurutnya, Ambok pernah mengatakan meskipun Ambok tidak sekolah tinggi, anak-anak harus terus belajar agar bisa menjadi orang sukses.

“Ambok berpesan kepada saya dan anak-anaknya agar tidak mudah putus asa, gigih dan jangan lupa bersyukur dalam hidup kepada Allah, karena kita harus yakini bahwa hidup adalah suatu proses, serta perjuangan yang sudah Allah tentukan,” jelasnya sembari menyeka air mata.

Kritikan adalah makanan sehari-hari Rahma, bahkan saat masih menjadi Wakil Wali Kota Tanjungpinang. Ia terus dikritik habis-habisan ketika mengeluarkan sebuah kebijakan. Tudingan, kalinat tak sopan, menghasut kerap sekali dibuat di media sosial.

Meski demikian, Rahma tak pernah merasakan sakit hati atau membenci orang tersebut. Ia menyebut dirinya bukan antikritik. Semuanya dianggapnya masukan sehingga dijadikannya bahan evaluasi.

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan tahun 2014 ini meyakini, untuk berbuat baik pasti ada jalan terjal. Apalagi ia hanyalah manusia biasa. Sementara Nabi Muhammad saat berdakwah melalui perjuangan yang lebih berat.

Karenanya, Rahma harus terus bekerja. Apalagi sejak negara ini diterjang pandemi Covid-19, banyak program kerja yang terpaksa ditunda. Itu artinya aspirasi masyarakat belum terakomodir. Toh soal refocussing anggaran bukan hanya dilakukan di Pemkot Tanjungpinang, melainkan juga daerah lain bahkan di pusat.

Beruntung Rahma tanggap, membantu masyarakat tidak melulu harus menggunakan uang APBD. Lalu muncullah kebijakan zakat ASN 2,5 persen yang dibayarkan ke Baznas Tanjungpinang untuk dikelola. Justru dengan uang yang dikelola Baznas inilah Rahma sering blusukan.

Dari sekadar membelikan peralatan memasak untuk UMK, memberikan santunan anak yatim, bersedekah ke kaum duafa dan sebagainya lebih mudah menggunakan uang zakat ASN tadi. Dengan demikian, di tengah Covid-19 UMKM di Tanjungpinang tidak akan mati.

Bantuan semacam ini tidak harus menggunakan duit APBD, melainkan dari zakat ASN 2,5 persen yang dikelola Baznas. Foto – humas pinang

Baru-baru ini Koran Tempo Group menobatkan Hj Rahma SIP sebagai satu dari 50 Perempuan Berpengaruh Melawan Covid-19. Si bocah gigih ini pun diundang sebagai salah satu narasumber daring untuk membeberkan kiatnya melawan Pandemi Covid-19.

Dalam seminar itu, Rahma mendapatkan giliran berbicara usai Menteri Sosial, Tri Rismaharini.

Suara miring, sumir, adalah semacam kord gitar yang salah karena jari-jemari terpeleset senar gitar. Saat jemari kembali menemukan senar yang benar, maka terwujudlah sebuah lagu.

Hj Rahma SIP adalah ujung dari lagu itu. Ia selalu sadar selalu ada nada sumbang. Sebagai pemimpin ia hanya melandasi langkah kakinya tak akan salah jika semuanya dilandasi niat yang tulus. Ikhlas membantu masyarakat yang dipimpinnya.

Selamat ulang tahun yang ke-46, Hj Rahma SIP, Wali Kota Tanjungpinang. Doa-doa baik mengalir buat Ibu, semoga tetap gigih berjuang meski di masa sulit seperti ini. Untuk kota dan masyarakat Tanjungpinang. (sigit rachmat)

Loading...