free page hit counter

Mau Jadi Pengusaha? SMKN 1 Tanjungpinang Tempatnya

Loading...

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Menyabet berbagai penghargaan tingkat kota, provinsi hingga nasional bukan cerita baru di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Tanjungpinang. Kini, sekolah yang memiliki murid sekitar 1.556 orang juga berkembang menjadi SMK pencetak pengusaha.

Hal itu berarti juga, bahwa sekolah ini tak hanya sekedar menjadi tempat belajar mengajar saja. Namun, menjadi sekolah yang mampu menjadikan muridnya sebagai seorang wirausahawan atau pengusaha muda. Saat ini ada sekitar 59 orang murid SMKN 1 Tanjungpinang, yang sudah menjadi pengusaha muda.

Delisbeth Kepala Sekolah SMKN 1 Tanjungpinang. F-mat

Beberapa murid baru beberapa bulan memulai usahanya, dan sudah beromzet jutaan rupiah sebulan. Ada juga murid yang sudah setahun lebih berbisnis, dan sudah beromzet hingga ratusan juta rupiah setahun. Hal ini disampaikan Delisbeth, Kepala Sekolah SMKN 1 Tanjungpinang menjawab suarasiber.com, kemarin.

“Program tersebut sejalan dengan yang dicanangkan di kementerian melalui direktorat terkait,” kata Delisbeth, yang didampingi guru mata pelajaran simulasi digital, Mardiyana yang biasa disapa Pak Aping.

Menanamkan mental pengusaha sejak dini, ujar Delisbeth, yang dilakukan sekolah ini sekarang. Hal itu sudah diberikan sejak mereka masuk sekolah di semester I. Itu sebabnya, di seluruh penjuru sekolah ada jaringan wifi untuk memudahkan anak belajar menjadi pengusaha.

Tak sebatas mental, sekolah melalui guru-gurunya sekaligus menjadi pendamping, dan pengasuh bagi muridnya. Agar, mereka bisa memulai dan menjalani usahanya. Terbukti ada sejumlah anak yang kreatifitasnya mampu melebihi gurunya.

“Kreativitas anak sudah melebihi gurunya,” ujar Delisbeth, yang dibenarkan Pak Aping.

Ada tujuh jurusan di SMKN 1 Tanjungpinang, akutansi, perkantoran, manajemen bisnis, teknik jaringan komputer, multimedia, perbankan syariah, dan usaha perjalanan wisata. Masing-masing jurusan diberikan pelatihan wirausaha sesuai dengan jurusannya.

“Anak-anak yang membuat seluruh jaringan komputer di sekolah ini,” ujar Pak Aping.

Meski memiliki kemampuan menjadi pengusaha, akan tetapi proses belajar mengajar untuk bidang akademis tetap dilakukan dengan maksimal. Hasilnya bisa terlihat saat dilaksanakan Ujian Nasional (UN). “Anak-anak langganan dapat nilai 10 untuk mata pelajaran akutansi, matematika, dan Bahasa Inggris,” jelas Delisbeth yang penuh semangat saat menceritakan anak-anak didiknya. (mat)

Loading...