free page hit counter

Buat yang Ogah Vaksin, Dengarkan Ini! Ahli Sebut Vaksinasi Covid-19 Kurangi Risiko Berat hingga Kematian

Loading...

Suarasiber.com – Hingga saat ini masih ada masyarakat yang ogah bahkan menolak vaksin. Terkait hal ini ahli Virologi dan Molekuler Biologi Universitas Udayana Prof. I Gusti Ngurah Mahardika mengatakan pentingnya vaksinasi.

Menurutnya, vaksinasi memang tidak membuat seseorang bebas dari paparan Covid-19. Namun dengan vaksinasi bisa menurunkan risiko berat atau bahkan kematian.

Vaksinasi juga mampu mengurangi tekanan terhadap rumah sakit karena meringankan gejala infeksi pada pasien.

“Untuk itu amat penting untuk divaksin untuk mengurangi risiko berat,” ujar Prof. Mahardika dalam keterangan tertulis, dikutip dari detik.com, Jumat (23/7/2021).

Soal tingginya angka kematian harian, menurut Prof. Mahardika, efek vaksinasi memang baru terlihat terhadap laju penyebaran Covid-19 jika yang divaksin paling tidak 50%.

Dia mencontohkan, di negara yang capaian vaksinasi Covid-19 di atas 50 persen, seperti Amerika Serikat dan Inggris, angka kematian rendah walau lonjakan kasus positif kembali tinggi.

Menurut Prof. Mahardika, saat ini berdasarkan data Kementerian Kesehatan jumlah yang menerima vaksinasi dosis pertama sebanyak 43,1 juta. Sementara untuk dosis kedua mencapai 16,8 juta atau telah vaksinasi lengkap.

Jadi sudah hampir 60 juta dosis yang sudah disuntikkan. Namun jika dilihat persentase dari jumlah penduduk Indonesia yang amat banyak, angka tersebut baru 8 persen dari target vaksinasi masyarakat yang sudah lengkap vaksinasi dan 20,7 persen yang sudah divaksin dosis pertama.

“Jadi masih jauh dari herd immunity atau kekebalan kelompok,” ujar Prof. Mahardika.

Vaksin masih menjadi hal yang penting dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada Kamis meminta maaf karena program vaksinasi Covid-19 yang lamban, sementara negara bagian terpadat di Australia melaporkan lonjakan infeksi satu hari terbesar dalam 16 bulan terakhir.

“Saya minta maaf karena kami tidak dapat mencapai nilai yang kami harapkan di awal tahun ini,” kata Perdana Menteri Scott Morrison di Canberra, 22 Juli 2021.

Australia telah memberikan kurang dari 150.000 vaksin setiap hari, jauh tertinggal dari negara-negara maju lainnya.

Hal serupa juga dilakukan pemerintah Singapura yang kembali menerapkan lockdown setelah hampir 3 minggu “berdamai” dengan corona. Lockdown diambil setelah muncul klaster baru yang menyebabkan kasus harian di negara ini meningkat tajam. (man)

Loading...