free page hit counter

Ini Tarif Hotel Tempat Bupati Lingga Menginap?

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Bagi sebagian besar kepala daerah, Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS, anggota dewan, dan pegawai honor atau pegawai tidak tetap atau apapun istilah, perjalanan dinas, adalah berkah. Berkah karena ada uang sakunya.

Jumlahnya bervariasi tergantung tinggi rendah jabatannya. Semakin tinggi eselonnya, semakin besar pula uang sakunya per hari.

Selain uang saku, semua biaya transportasi, dan akomodasi ditanggung negara. Kecuali biaya makan minum, dan biaya entertaint atau biaya buat menyervis rekan khusus.

Untuk anggota dewan pangkatnya disetarakan dengan jabatan eselon II. Jadi, standar hotelnya adalah yang bintangnya banyak.

Sedangkan untuk pimpinan dewan disetarakan dengan kepala daerah. Standar hotelnya juga yang berbintang banyak.

Dan, itu sah! Sesuai dengan aturan daerah yang dibuat bersama oleh eksekutif, dan legislatif.

Tak Mau Ikut-ikutan “Kenduri” Anggaran Perjalanan Dinas

Di awal tulisan di atas disebut bagi sebagian besar. Artinya, masih ada kepala daerah atau pejabat yang tidak mau aji mumpung.

Mumpung menjabat, dan dibiayai negara, semua fasilitas hotelnya harus yang mewah. Transportasi daratnya harus pakai mobil sewaan sekelas Alphard, minimal Camry.

Salah satu kepala daerah yang saya dengar tidak mau ikut-ikutan “kenduri” anggaran perjalanan dinas, adalah Alias Wello yang akrab dengan panggilan AWe, Bupati Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri.

Selama ini, saya hanya mendengar cerita dari orang-orang dekatnya. Tentang kebiasaan Alias Wello saat perjalanan dinas.

Jika kepala daerah lainnya didampingi minimal dua staf. Untuk pembawa koper, dan mengurus administrasi perjalanan dinas. Alias Wello justru lebih suka sendirian.

Dia sendiri yang mengurus tiket pesawatnya, dia sendiri yang bawa ransel. Bukan koper! Ke mana-mana dia memang selalu bawa ransel. Untuk makanan minuman dan lainnya, dimasukkan ke kantong kresek. Ditenteng sendiri.

Makan Prata Kambing bersama AWe

Itu saya dengar dari cerita orang dekatnya, dan secara kebetulan berjumpa dengannya, Kamis (13/9/2019). Malam itu, saya sedang menyeruput kopi bersama teman di kawasan Nagoya, Batam.

Tanpa banyak basa-basi khas pejabat, Alias Wello langsung mengajak makan prata kambing di Batam Center. Asik… kata saya dalam hati.

Diajak makan oleh kepala daerah saja, sudah sebuah kehormatan bagi saya. Apalagi, makan prata kambing. Ughh… Nikmatnya rezeki dari Yang Maha Kuasa.

Pertemuan saya dengan Alias Wello malam itu, tak direncanakan. Kebetulan, saya sedang transit menuju Denpasar, Bali. Sedangkan AWe akan berangkat ke Jakarta.

Sekitar 20 menit perjalanan dari Nagoya, tibalah kami di sebuah rumah makan dengan menu khas ala Timur Tengah. Meski rencana awalnya makan prata kambing. Tapi, AWe memilih nasi briani kambing untuk kami bertiga.

Banyak hal yang kami bicarakan dengan AWe malam itu. Mulai soal ekonomi, investasi, politik, kekuasaan dan kepemimpinan di Lingga. Tentu saja juga tentang suksesi kepala daerah di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020.

Tak Mau Ikut Pilkada Lingga Lagi

Ada banyak sekali info A1 (istilah yang kami pakai untuk akurat, dan valid), yang saya dengar dari AWe. Tentu saja tidak bisa saya tulis di sini. Karena, memang bukan untuk wawancara.

Berulangkali saya pancing dengan pertanyaan bagaimana kesiapannya memimpin Lingga untuk periode keduanya? Tapi, jawabannya tetap tegas dan konsisten seperti beberapa waktu sebelumnya.

“Sudahlah, cukup satu periode saja. Jadi pemimpin itu, tak boleh lama-lama. Ia harus melahirkan pemimpin baru yang jauh lebih baik,” katanya berseloroh.

Hampir dua jam lamanya kami bebual mesra dengan AWe. Apesnya bagi saya yang perokok berat, di ruangan itu dilarang merokok.

Jadilah segala makanan minuman yang ada di meja saya sental masuk mulut. Padahal, saya cukup selektif menjaga makan. Bukan karena diet.

Cuma ingin sehat seperti Dr Mahatir Mohamad, PM Malaysia yang hingga usia 93 tahun tetap bugar, dan cerdas. Resepnya sederhana saja, berhenti makan menjelang perut terasa kenyang.

Tapi, sesekali tak apalah hantam aturan buat diri sendiri. Anggap saja sebagai tangkal, yang menahan perintah merokok dari urat syaraf ke otak saya he he he…

Tak Perlu Formil

Jangan coba-coba berdialog dengan AWe, jika tak menguasai bahan dialog. Karena, alumni S2 IPDN ini sangat cerdas.

Jangan pernah juga membayangkan berdialog dengannya seperti dengan pejabat atau kepala daerah lainnya. Yang tak suka didebat, dan apalagi meminta saran.

Gaya debatnya juga tak harus membuat tubuh bersikap sempurna. Mau naikkan kaki ke sebelah atau gaya apa, terserah. Dengan catatan, kuasai bahan diskusi atau selesai makan langsung pulang.

Ada sejumlah konsepnya tentang memajukan Kepri ke depan. Konsep yang sederhana tapi perlu keberanian untuk mengeksekusinya.

“Kalau sudah buntu ajukan ke mahkamah (pengadilan, red). Biar mahkamah yang buat putusan yang mengikat semua pihak,” tukasnya.

Perbincangan kami semakin hangat, dan semakin lama. Menyusul kedatangan Dr. Romi Novriadi, Director for World Aquacultural Society Asian – Pasific Chapter. Doktor lulusan Amerika Serikat yang humble, dan low profile itu, menambah hangat diskusi.

Inovasi teknologi di bidang perikanan budidaya, yang dilakukannya ibarat gayung bersambut dengan pemikiran AWe. Ide yang segera dieksekusi.

Menjelang tengah malam, kami bubar. Saat keluar dari rumah makan itu, AWe mengantar Romi sampai ke tempat parkir mobilnya.

Menginap di Hotel Melati

Saya tiba-tiba punya ide ingin mengorek informasi tentang AWe dari sopirnya. “Mas, Pak Bupati nginap dimana malam ini?”

Sang sopir, yang baru saya kenal malam itu, langsung menunjuk sebuah hotel melati yang tak jauh dari tempat saya berdiri. Saya hampir tak percaya mendapatkan informasi itu.

Untuk memastikan kebenarannya, saya coba croscheck dengan Satuan Pengamanan (Satpam) hotel yang berdiri depan pintu masuk. Tanpa tedeng aling-aling, saya langsung menanyakan berapa tarif kamar hotel yang dijaganya itu per malam.

“Rp230 ribu sampai dengan Rp280 ribu per malam, Pak,” tegasnya.

Saya pun geleng-geleng kepala. Ternyata, di gaya hidup hedonis, dan glamor seperti sekarang ini, masih ada yang berprinsip. Padahal, dengan jabatannya AWe berhak hidup ala jetset di daerah.

Ke mana-mana dikawal, kalau perlu jalan yang dilewati dilapis karpet merah, dan dipayungi. Agak mirip gaya feodal tempo dulu.

Tapi AWe konsisten dengan prinsipnya, tetap sederhana. Dan, tidak aji mumpung. Mumpung jadi bupati.

Saya jadi malu dengan diri sendiri. Karena, kebetulan, malam itu saya tidur di hotel yang menurut saya sudah sangat murah. Tarif Rp308 ribu per malam. Ternyata tarif itu lebih mahal dari kamar hotel AWe, yang cuma Rp230 ribu per malam. (mat)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •