free page hit counter

Pulau Valentine Ada di Kepri

Loading...

Ini bukan tentang kisah tragis seorang Uskup Valentine pada era pemerintahan Romawi di bawah kedaulatan Claudius II. Melainkan fakta sejarah yang lebih romantis dari penggalan adegan fiksi Romeo dan Juliet.

Yoan S Nugraha – Tanjungpinang

Apa yang sudah menjadi anchor di pikiran kita setiap tanggal 14 Februari? Kebanyakan menjawabnya dengan serentak sebagai perayaan hari kasih sayang bukan?
Menjengah lebih jauh, tentu perayaan Valentine tidak akan lari jauh dengan kisah kelam seorang uskup yang dibunuh pada tanggal tersebut.

Tahukah anda, bahwa di Kepulauan Riau tepatnya di Kota Tanjungpinang ada pulau Valentine yang sejarahnya justru lebih romantis dari kisah fiksi Romeo dan Juliet.
Tidak salah, pulau Penyengat adalah satu-satunya pulau Valentin yang nyata dan patut kita banggakan. Terlepas dari keunikan eksotis tentang masjid telur yang dimilikinya atau sebagai rahim yang melahirkan karya sastra kelas dunia Gurindam XII gubahan Raja Aji Haji, ternyata fakta baru ini juga patut kita syukuri.

Kenyataan Pulau Penyengat sebagai pulau Valentine milik Kepri dibenarkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang. Melalui Sekretaris Disbudpar, Raja Kholidin yang membeberkan fakta sejarah dibalik penetapan tanggal 14 Februari sebagai hari jadi Pulau Penyengat.

“Kami bicara berdasarkan data, bersumber dari Raja Malik Penyengat yang merujuk kepada kitab Thufad al-Nafs Raja Ali Haji, ternyata tahun hijriah ketika Engku Puteri menerima Pulau Penyengat sebagai mas kawin itu diterjemahkan ke dalam tahun masehi maka secara kebetulan jatuh di tanggal 14 Februari,” kata Kholidin yang mengaku atas dasar rujukan tersebut bersepakat menjadikan tanggal 14 Februari sebagai hari jadi Pulau penyengat.

Dari penelusuran suarasiber.com di Kitab Thufad Al-Nafs memang didapatkan data yang dimaksud. Bahwa Engku Puteri Raja Hamidah yang juga merupakan putri dari Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau IV, Raja Haji Fisabilillah, setelah menikah dengan Sultan Mahmud Syah dan diberikan Pulau Penyengat, ia kemudian bermukim di pulau tersebut hingga akhir hayat pada 1844.

Dari putik cinta itulah, mengantarkan Engku Puteri menjadi peramaisuri Sultan Kasultanan Riau III Sultan Mahmud Syah pada 1803 dengan segenap perjuangan heroiknya melawan penjajah laknatullah ‘Alaih.

Cobalah untuk tahun ini, perayaan Valentine yang anda buat lepaskan dari jeratan kado coklat, bunga, boneka atau pernak-pernik lain yang seolah-olah kado tersebut menjadi spesial dan romantis.

Cukup dengan Rp25 ribu dan ajak pasangan anda untuk menelusuri jejak romantis klasik yang berada di Pulau Penyengat dengan bentor (becak motor). Lihat dan rasakan dengan nyata, betapa agungnya Sultan Mahmud Syah memberikan rasa hormat kepada sosok wanita yang dicintainya, hingga memberikan kedudukan spesial dengan menyuguhkan sebuah pulau sebagai mahar perkawinan mereka.

Ingat, Pulau, lho bukan coklat atau boneka. ***

Loading...