free page hit counter

Abdul Haris, Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas yang Pernah Jadi Satpam Hotel

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Gagal menjadi bintara polisi, jadi guru, dan jadi PNS, Abdul Haris yang dilahirkan di Tarempa, Anambas, 3 Mei 1968, justru sukses menjadi pemimpin di Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), menjadi bupati.

Rekam jejaknya yang bersih dari segala bentuk skandal, dan penyimpangan sejak jadi anggota DPRD di tahun 2004 – 2009, dan terpilih lagi 2009 – 2014, membuatnya dipercaya menjadi Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas 2016 – 2021.

Sebelum jadi bupati, Haris menjabat sebagai Wakil Bupati KKA 2010 – 2015. Saat itu, Haris mendampingi Tengku Mukhtaruddin sebagai bupati.

Putra kelima dari tujuh bersaudara (seorang sudah meninggal) anak petani kecil di Tanjungmomong, Anambas ini, tak pernah menyangka menjadi pemimpin bagi warganya. Bahkan, bercita-cita menjadi pemimpin pun tidak.

Sebagai anak petani kecil, Haris awalnya hanya ingin menjadi polisi. Menjadi bintara polisi. Dengan harapan bisa membanggakan orang tua.

Itu sebabnya, selepas tamat SMA di Tarempa, Haris menuju ke Pekanbaru, Riau. Tujuannya, supaya bisa ikut tes masuk bintara polisi di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Gobah, Pekanbaru.

Haris yang saat duduk di Madrasah Ibtidaiyah (setara SD), harus mendayung sampan sekitar sejam hingga dua jam, agar bisa sekolah, gagal di seleksi masuk secaba polisi. Gagal, karena syarat izin orang tua baru sampai di Pekanbaru dari Tarempa, Anambas, setelah tes masuk polisi ditutup.

Gagal Jadi Polisi, Guru, dan Jaksa

haris muktamar ppp
Abdul Haris menjadi peserta sebuah muktamar PPP. Foto – dok pribadi

Pupus sudah cita-cita jadi polisi, Haris beralih cita-cita menjadi guru. Dia pun ikut tes masuk Diploma II keguruan di sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru. Lagi-lagi tak lulus.

Gagal di dua cita-cita itu, Haris putar haluan mengarahkan cita-citanya. Dia ingin menjadi jaksa, jadi PNS di lingkungan kejaksaan.

Karena itu, dia pun mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru, Riau. Haris lulus, dan kuliah hingga tamat dengan gelar Sarjana Hukum (SH).

Bagi sebagian orang masa kuliah, adalah masa yang indah. Bagi Haris, masa kuliah adalah masa perjuangan hidup. Untuk mencukupi kebutuhan kuliahnya, Haris harus nyambi bekerja. Bekerja sebagai kuli bangunan.

Haris bersukur sejak masa sekolah dasar hingga tamat SMA, sudah terlatih bekerja keras. Sehingga, meski menyambil jadi kuli bangunan saat kuliah, dia tak canggung lagi.

Kerja keras sudah dimulai saat dia duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI). Rumahnya berada di seberang Kota Tarempa, dan saat itu tidak ada jalan darat. Laut menjadi satu-satunya sarana transportasi.

Dengan perahu dayung, Haris mendayung perahu (disebut menciau) antara sejam hingga dua jam, supaya bisa sekolah. Sekali dua kali dia bolos ke sekolah, karena baju dan celananya basah kuyup.

Basah karena perahunya terguling dihajar ombak. Bagi anak laut, terguling dari perahu dianggap hal biasa. Lepas sekolah, dia melanjutkan bekerja di kebun membantu orang tua. Tidak ada waktu untuk berleha-leha.

“Sejak masih di tingkat sekolah dasar (MI) sudah diajar bekerja di kebun. Begitu juga di MTs, dan SMA. Waktu SMA mau ke sekolah bawa sayur, antarkan dulu ke kedai-kedai baru ke sekolah. Sebab, sebagai laki-laki kan nantinya harus bekerja,” kata Abd Haris dalam perbincangan dengan suarasiber.com, kemarin.

Pulang dari sekolah saat SMA, Haris pun melanjutkan dengan bekerja di kebun. Semua pekerjaan di kebun dia bisa, termasuk memanjat pohon cengkih.

Jadi Kuli Bangunan untuk Mencukupi Biaya Kuliah

Begitu lincahnya memanjat pohon hingga dia pernah jatuh, dan cedera berat. Sehingga, sekolahnya sempat tertunda setahun saat itu. Namun, hal itu tak membuatnya kapok. Begitu sehat, dia kembali ke sekolah, dan tetap membawa sayur mayur ke kedai.

Sebab itu, Haris tidak ada rasa segan, malu atau canggung membawa sayur sambil berangkat ke sekolahnya. Pengalaman bekerja keras sejak usia sekolah dasar, menjadikan Haris sebagai pekerja keras yang tangguh. Dan, tak kenal gengsi.

Kepada tiga orang anak-anaknya, yang berarti anak bupati, Haris juga membiasakan mereka terbiasa bekerja sejak usia dini di rumah. Beragam pekerjaan rumah bisa dikerjakan anak-anaknya. Meski, sebagai anak bupati mereka bisa asal main tunjuk.

“Anak-anak sudah dilatih kerja di rumah, karena itu akan menjadi bekal bagi mereka kelak. Jangan karena anak bupati, tak bisa apa-apa,” ujar Haris.

Pengalaman masa kecil, dan sekolah terbukti sangat bermanfaat saat Haris kuliah. Minimnya kiriman tak membuatnya mengaduh, dan mengeluh.

Mengangkat batu, pasir, semen, dan mengocok semen menjadi adonan yang matang, dijalani dengan riang. Saat yang lainnya makan dari rantangan, Haris memasak sendiri.

Bekal ikan asin yang dibawa ke Pekanbaru, diolah menjadi beragam masakan. Bahkan, memasak gulai dengan bumbu lengkap yang terdiri dari belasan jenis, dan bumbu pun dia bisa. Sekaligus memarut kelapa, dan memerahnya.

Berijazah S1 dan Bekerja sebagai Satpam Hotel Central di Tanjungpinang

Haris akhirnya menyelesaikan kuliahnya di FH UIR, Pekanbaru, Riau. Masa-masa menerima kiriman wesel pos pun usai. Dia harus mulai berjuang sendiri menghidupi dirinya.

Sebagai alumnus FH, Haris yang bercita-cita menjadi jaksa (pegawai negeri sipil) pun mengikuti seleksi penerimaan. Ternyata, tidak lulus juga.

Dengan demikian, tiga cita-citanya, yakni jadi polisi, jadi guru, dan jadi jaksa pupus semuanya. Sejak itu dia bikin hidupnya mengalir seperti air.

Sesuai bidang keilmuannya, dia pun mulai bergabung dengan kantor pengacara. Namun, ternyata tidak mudah mendapatkan perkara. Sulitnya mencari kerja di Pekanbaru, membuat Haris pulang ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Dengan bekal ijazah S1, Haris melamar ke mal-mal di Batam. Tak ada panggilan, meski dia sudah siap untuk ditempatkan di gudang sebagai tukang pikul.

Sekitar tahun 1998, Haris mencoba melamar sebagai personalia di Hotel Central Batu 6 Tanjungpinang. Dia diterima. Tapi sebagai satpam, karena badannya besar.

Sarjana Hukum ini, akhirnya menjadi Satpam di Hotel Central yang dijalani sekitar satu tahun. Setelah setahun bekerja sebagai Satpam, dan boleh mengambil cuti, Haris balik kampung ke Tarempa dengan bekal tabungan Rp900 ribu di tahun 1999.

Pulang Kampung yang Mengubah Perjalanan Hidup Haris

Momentum pulang kampung inilah yang kemudian mengubah Haris, untuk selamanya.

Di kampungnya dia didaulat memimpin PAC Partai PPP, karena dia punya bekal pendidikan S1. Pas pada masa itu ada Pileg dan Pilkada di Natuna, yang baru terbentuk menjadi daerah otonom.

Awalnya Haris tidak mau terjun ke politik. Namun, desakan yang sangat kuat. Ditambah lagi dukungan para pengurus partai lainnya, membuat Haris luluh. Dan, bersedia mengurus Partai PPP.

Partai ini sukses menempatkan wakilnya di DPRD Kabupaten Natuna. Sebagai pimpinan partai, Haris bisa saja mengambil kursi itu untuk dirinya. Tapi, justru memberikannya ke kader partai yang sudah lama mengurus partai.

“Saya mundur baik-baik jadi Satpam hotel. Bikin surat pengunduran diri ke manajemen, dan pamit ke kawan-kawan di hotel,” ucap Haris, mengenang masa itu.

Kembali ke Natuna -yang sedang menyiapkan Pilkada pertama-, sebagai pimpinan partai yang punya wakil di dewan, Haris sempat ditawari menjadi wakil Hamid Rizal.

Tawaran yang akhirnya hanya sebatas tawaran. Karena, ditinggal begitu saja tanpa kejelasan. Tapi dia ikhlas menerima. Dan, dia tetap tunak mengurus partai hingga maju ke Pileg 2004. Haris terpilih untuk pertama kalinya menjadi anggota DPRD Natuna.

Setelah jadi anggota dewan, dia ditawari lagi menjadi wabup untuk mendampingi Daeng Rusnadi. Kali ini, Haris yang enggan menerima.

Kembali ke Anambas menjadi Wabup Lalu Bupati

Tahun 2009, semua anggota DPRD Natuna asal Anambas kembali ke kampung halamannya. Sebab, Anambas sudah terbentuk menjadi daerah otonom, Kabupaten Kepulauan Anambas.

Setelah jadi daerah otonom, Haris diajak menjadi Wakil Bupati KKA mendampingi T Mukhtaruddin. Mereka terpilih, dan Haris resmi menjadi Wakil Bupati KKA tahun 2010 – 2015.

Saat menjabat Wabup Anambas, Haris punya visi menjadikan Anambas setara dengan daerah otonom lainnya di Tanah Air. Meski secara geografis terletak di tengah lautan. Lautan yang ganas.

“Minimal, Anambas bisa mandiri. Itu harapan saya waktu jadi wabup,” ucap Haris.

Dibesarkan dengan bekal pendidikan agama yang kuat, membuat Haris yang masig jadi wabup juga punya impian lain. Impiannya, Anambas punya masjid besar yang bisa menampung ribuan jemaah sekaligus.

“Alhamdulillah, Masjid Agung di Tarempa saat ini sudah hampir selesai. Kapasitasnya sekitar 3.000 orang. Dalam beberapa bulan ke depan, InsyaAllah kita resmikan,” jelas Haris, yang kini adalah Bupati KKA.

Abdul Haris SH, terpilih menjadi Bupati KKA tahun 2016 – 2021. Dia maju ke Pilkada bersama Wan Zuhendra sebagai wakil bupati.

Manusia berhak punya rencana, dan berusaha keras. Tapi Tuhan yang punya kuasa menentukan. Haris kecil boleh bermimpi menjadi polisi, guru, dan jaksa.

Namun, ternyata Tuhan menentukan Haris menjadi pemimpin yang lebih besar tanggungjawabnya. Pria bertubuh tinggi besar ini, ditakdirkan mengawali kepemimpinannya secara bertahap.

Baca Juga:

Roger Danuarta dan Cut Meyriska Menikah, Foto-fotonya Bikin Iri

Makan Kerupuk, Lomba Agustusan yang Melegenda

Ratusan Pesepeda dan Ribuan Warga Tumpah di Dompak, Tanjungpinang, Kepri

Dimulai dari memimpin Partai PPP di Anambas, menjadi anggota DPRD, dan menjadi wakil bupati. Setelah matang, barulah menjadi Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas.

Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Thailand, Kamboja, Vietnam, dan gelombangnya bisa sampai lima meteran di musim utara.

Semoga saja Haris bisa mewujudkan impiannya, menjadikan Anambas setara dengan daerah otonom lainnya di Indonesia. (sigit rachmat)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •