free page hit counter

Gambir Kepulauan Riau Mengalir Sampai Jauuuh

Loading...

Terminal Seicarang saat ini, hanya sejumlah bus yang menjadikannya rumah harian. Juga tempat bekerja para pegawai, baik PNS atau honorer Dinas Perhubungan yang berkantor di bagian tengah terminal.

Zainal Takdir – Tanjungpinang

Demikian juga dengan Jalan Gambir saat ini, ya jalan biasa saja. Tak ubahnya jalan sempit di sebuah kota yang terus berkembang. Bahkan bagi turis yang melintasinya mungkin tak pernah tahu ada Jalan Gambir.

Soalnya papan nama penunjuk jalannya sudah tak ada lagi. Padahal di ujung jalan, di simpang, pernah terpampang papan ditempeli stiker Jl Gambir dengan huruf latin, lalu di bawahnya ada tulisan huruf Arab.

Kedua lokasi di atas berada di Kota Tanjungpinang, yang sekarang menjadi Ibu Kota Provinsi Kepri.

Melarikan ingatan ke tempo doeloe, pada tahun 1700-an hingg awal abad XX, keduanya ramai bukan main. Hal ini berdasarkan buku Jejak Perkebunan Gambir Di Kepulauan Riau, terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau Tahun 2020.

Terminal Seicarang masih menjadi lautan, ketika pada 1743 Yang Dipertuan Muda Johor Riau, Daeng Celak memerintahkan Punggawa Tarum dan Penghulu Cedun untuk mendapatkan bibit dari Pulau Perca (Sumatra).

Gambir kemudian ditanam di Pulau Bintan, seperti Senggarang, Batu 8, Ekang, Busung, Gesek hingga arah Lagoi. Gambir juga ditanam di Batam, seperti Galang, Mukakuning dan Sembulang.

Gambir di Kepulauan Riau mulau berjaya pada abad ke-18 dan mencapai puncaknya abad ke-19. Naskah yang menjadi arsip sejarah di Belanda, baik itu surat perjanjian (kontrak), surat kabar, laporan perjalanan, dan kitab Tuhfat al Nafis karya Raja Ali Haji menguatkan kondisi kala itu.

Datangkan Pekerja Warga Tionghoa

Hebatnya, pada awal gambir di Pulau Bintan, pekerjanya didatangkan dari Tiongkok. Warga Tionghoa yang bekerja sebagai buruh ditempatkan di Senggarang, yang sekarang pusat pemerintahan Pemkot Tanjungpinang.

Bukti tertulis terkait kebijakan mendatangkan gambir dari Sumatra dan tenaga kerja dari Tiongkok tertulis dalam Tuhfat al Nafis karya Raja Ali Haji. Jumlah pekerja yang didatangkan dari Tiongkok bukan 100 atau 200. Melainkan ribuan.

Dahulu, yang sekarang Terminal Seicarang menjadi lalu-lalang ratusan kapal. Baik kapal dalam maupun luar negeri. Semuanya ingin membawa gambir sepulangnya dari Kepulauan Riau. Seicarang menjadi megapolitan zaman dahulu.

Lautan masih begitu luas, tidak seperti sekarang. Tanah Tanjungpinang banyak direklamasi untuk permukiman dan pusat bisnis. Para pedagang dari luar Kepulauan Riau menambatkan kapalnya, menurunkan barangnya untuk dijajakan di beberapa tempat di Tanjungpinang.

Sementara Jalan Gambir dahulu banyak terdapat bangunan pengolahan daun bernilai ekonomi tinggi.

Mengapa gambir Kepulauan Riau diburu banyak pengusaha dalam dan luar negeri? Ternyata Kepulauan Riau memiliki jenis gambar super. Sebutannya Gambir Riau, dengan nama Riau merujuk pada masa lampau merujuk ke Kerajaan Johor Riau yang pusatnya di Hulu Riau (Sungai Carang).

Dalam pengolahan gambir, pekerja Tionghoa memiliki cara tersendiri. Ini berbeda dengan pengolahan di daerah lain, termasuk Pulau Perca (Sumatera).

Perbedaanya yaitu daun dan ranting yang telah dipetik dikumpulkan pada tempat perebusan. Kemudian dipotong-potong selanjutnya direbus dalam kawah (kuali). Perebusan dilakukan sambil mengaduk-aduk daun dengan lama 4 sampai 5 jam.

Daun dan ranting diangkat dari kawah dan perebusan diteruskan sampai air rebusan (hasil ekstraksi) menjadi kental. Hasil perebusan dituang ke dalam ember plastik. Sekitar 30 menit kemudian diaduk hingga hasil ekstraksi mencapai suhu kamar.

Berikutnya dimasukkan dalam cetakan yang berbentuk segi empat besar terbuat dari papan balok dan diendapkan selama satu malam. Keesokannya cetakan dibuka dan dipotong potong sesuai dengan ukuran yang diinginkan konsumen.

Ekstrak gambir diletakkan dalam tampi yang terbuat dari rotan, dimasukkan dalam ruangan pengering dan dikeringkan dengan cara mengalirkan udara panas yang didapat dari pembakaran kayu ke dalam ruangan pengering.

Bukan hanya pengolahannya, peralatan yang dipakai pun masih menggunakan istilah Tiongkok. Misalnya kuali tempat memasak gambir disebut toatea. Alat membawa daun yang dipanen namanya tekia, alat menjemur gambir namanya ancak. Lalu Totia untuk menyebut pisau dan samhong yaitu alat di atas kuali untuk penahan daun agar tidak bertebaran.

Saat Sultan Mahmud Riayat Syah memindahkan pusat pemerintahan ke Daik Lingga tahun 1787, tanpa buruh Tionghoa. Mereka tetap memilih menetap di Pulau Bintan dan mengerjakan perkebunan gambir.

Karena itulah mereka banyak yang belakangan dikenal sebagai tauke tanah. Bukan membeli, tetapi berawal dari meneruskan perkebunan gambir setelah pusat kerajaan dipindahkan ke Lingga.

Pada masa penjajahan Belanda, gambir Kepulauan Riau mengalir sampai jauh. Bersama daerah penghasil lain, yakni Sumatera Barat dan Bangka Belitung, gambir Kepulauan Riau dibawa menggunakan kapal ke Banglades, India, Pakistan, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Perancis dan Swiss.

Catatan Kejayaan dan Kejatuhan

Jalan Gambir di Kota Tanjungpinang saat ini. Nyaris tak terlihat bekas kejayaan bisnis gambir di sini. Semuanya berubah oleh bergantinya waktu. Foto – zainal/suarasiber

Banyak catatan sejarah tentang gambir di Indonesia, termasuk Kepulauan Riau. Lewat bukunya berjudul Sejarah Sumatra yang dimuat dalam edisi ketiga buku tersebut pada 1811 dan diterbitkan ulang Komunitas Bambu (2013), William Marsden menyebut kejayaan gambir.

Ia mengatakan kala itu gambir merupakan komoditas dagang penting termasuk di kawasan timur Sumatera.

Sumber lain adalah Bun Yip dalam artikelnya ‘Thirty-six Hours in Rhio yang dipublikasi surat kabar The Straits Times, Oktober 1905 (Aswandi Syahri, 2014). Bun Yip menulis di kanan-kiri sepanjang Jalan Gambir dipadati kedai-kedai yang menjajakan gambir.

Semua kedai terang-benderang, dan di sana biasanya ada banyak tempat untuk penjaja makanan, buah-buahan, tembakau, mainan, dan seribu satu macam kemungkinan yang menyenangkan hati orang yang berkulit coklat dan kuning (orang Melayu dan Tionghoa).

Sampai tahun 1930-an, Jalan Gambir ramai sebagai kawasan pusat perdagangan gambir di Tanjungpinang.

Sastrawan dan Budayawan Kepri, Rida K Liamsi bahkan menyebut Jalan Gambir sebagai meeting point-nya. Disebut Jalan Gambira karena memang ada hubungannya dengan gambir saat itu.

“Karena gambir itu perlu diolah, maka didatangkan orang-orang Cina dari Singapura untuk mengolahnya. Jadi dimasak, diolah dan sebagainya ya di Jalan Gambir itu,” terang Rida, Rabu (15/9/2021).

Saat komoditas gambir masih berjaya dulu, persis di tempat yang sekarang dijadikan sebagai Jalan Gambir, pernah berdiri areal gudang, yang digunakan untuk menyimpan komoditas gambir sebelum diekspor ke Singapura. Jadi, para petani gambir yang banyak bercocok tanam di sekitar areal Ulu Riau, Batu Delapan, juga di kawasan Lagoi, Bintan Utara, Kabupaten Kepri, membawa gambir tersebut ke Tanjungpinang.

Di tempat inilah terjadi transaksi antara petani gambir dengan pedagang. Gambir dari Bintan sangat terkenal, terutama varian udang, cubadak, dan Riau.

Fasilitas kesehatan yang kini dikenal dengan umah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjungpinang juga tak lepas dari kemasyhuran gambir.

Cikal bakal rumah sakit ini dulunya dibangun para tauke gambir, lada dan karet yang ada di Pulau Bintan awal abad 20.

Dari catatan sejarah dituliskan mulai 1975 gambir bukan lagi menjadi primadona. Satu persatu pebisninya melego mangsang atau gudang mereka kepada investor. Tak ada lagi kebun gambir tersisa.

Tapi, tentang cerita kejayaan para saudagar gambir itu dari mulut ke mulut, masih dapat didengar.

Sebuah Daerah Bernama Gesek

Kejayaan gambir di Kepulauan Riau juga tak lepas dari sisi seramnya. Di Bintan ada nama daerah Gesek, diambil dari asal kata aktivitas memotong kayu dan membuatnya menjadi kayu olahan. Di masa lalu, hal itu memang dimungkinkan.

Kayu yang sudah dipotong dan diolah dibawa melalui Sungai Gesek ke Tanjungpinang. Dan, selanjutnya ke berbagai tempat lain.

Kedua, Gesek berasal dari aktivitas memotong leher. Ya. Leher manusia yang dipotong. Bukan sembarang manusia, tapi pekerja yang melawan tauke-tauke pemilik kebun gambir dan karet di wilayah itu.

Tauke atau toke, adalah sebutan untuk bos dari etnis Tionghoa. Bos-bos ini menguasai perkebunan yang banyak terdapat di Pulau Bintan.

Perkebunan gambir yang terus berkembang pekerjanya pun terus bertambah. Baik yang didatangkan dari Tiongkok, Jawa, Sumatera dan lainnya. Besarnya usaha perkebunan menuntut para bos kebun, untuk memiliki pengawas dan pengawal yang disebut samseng atau samsing.

Jangan cari arti kata samseng atau samsing di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Itu sebuah sebutan lokal, yang kini pun sudah jarang disebut atau terdengar.

Samseng tak hanya mengawas, tapi juga menjadi algojo yang menghukum pekerja yang bertingkah atau melawan. Hukuman terberatnya, adalah mati.

Di masa kini, hukuman mati dilakukan dengan cara ditembak senjata api. Di masa itu, hukuman matinya berupa potong kepala alias gesek. Dan kabarnya nama Gesek di Bintan berasal dari kata tersebut.

Kegunaan Gambir

Bentuk dan dan bunga pada pohon gambir. Foto – dedi arman untuk suarasiber

Sejarawan dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri, Dedi Arman menyayangkan generasi muda Kepulauan Riau tak familiar dengan gambir. Kalaupun tahu, sebatas campuran makan sirih.

“Padahal gambir saat ini kondisi harganya cukup bagus, berkisar antara Rp30-40 ribu per kilogram,” beber mantan wartawan ini.

Melihat harganya yang stabil bahkan cenderung naik, daerah penghasil gambir utama di Indonesia, seperti Limapuluhkota dan Pesisir Selatan (Sumbar) kini perekonomiannya bangkit. Petaninya bersemangat dengan bagusnya harga gambir beberapa tahun belakangan.

Dedi menjelaskan, tanaman gambir merupakan tanaman perdu, termasuk salah satu di antara famili Rubiace (kopi-kopian) yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Yaitu dari ekstrak (getah) daun dan ranting mengandung asam katechu tannat (tanin), katechin, pyrocatecol, florisin, lilin, fixed oil.

Kandungan kimia gambir yang paling banyak dimanfaatkan adalah katechin dan tanin. Kegunaan gambir secara tradisional adalah sebagai pelengkap makan sirih dan obat-obatan.

Di Malaysia gambir digunakan untuk obat luka bakar, di samping rebusan daun muda dan tunasnya digunakan sebagai obat diare dan disentri serta obat kumur-kumur pada sakit kerongkongan.

Secara moderen gambir banyak digunakan sebagai bahan baku industri farmasi dan makanan, di antaranya bahan baku obat penyakit hati dengan paten “catergen”, bahan baku permen yang melegakan kerongkongan bagi perokok di Jepang karena gambir mampu menetralisir nikotin.

Sedangkan di Singapura gambir digunakan sebagai bahan baku obat sakit perut dan sakit gigi.

Gambir juga digunakan sebagai bahan baku dalam industri tekstil dan batik, yaitu sebagai bahan pewarna yang tahan terhadap cahaya matahari. Disamping itu juga sebagai bahan penyamak kulit agar tidak terjadi pembusukan dan membuat kulit menjadi lebih renyah setelah dikeringkan.

Begitu pula industri kosmetik menggunakan gambir sebagai bahan baku untuk menghasikkan astrigen dan lotion yang mampu melembutkan kulit dan menambah kelenturan serta daya tegang kulit.

Di zaman keemasan gambir produksi Pulau Bintan itu bahkan sempat diburu oleh para saudagar pabrik kulit dari Italia.

Getah gambir diyakini, dan terbukti, dapat menjadi alat pencampur yang baik dalam proses produksi sutera dan kulit di Italia.

Selain itu, saudagar minuman keras dari jenis anggur di Perancis juga rajin berburu gambir di Bintan.

Tapi semua itu hanya tinggal kenangan indah para petani gambir di Bintan.

Direkonstruksi Petani di Karimun dan Lingga

Seicarang bukan lagi pelabuhan dan pusat kerajaan, meski setiap sekian kalender diselenggarakan Festival Sungai Carang. Tak ada agenda napak tilas kejayaan gambir, yang ada lomba perahu naga.

Lapak-lapak dan tenda banyak di kanan kiri sungai, namun bukan menjajakan gambir. Ada nasi Padang, nasi lemak, es cendol dan es krim pabrikan.

Jalan Gambir berubah menjadi deretan ruko. Memang pemiliknya tetap warga Tionghoa, namun jualannya bukan lagi gambir.

Ada yang menjual makanan, karpet, kelontong hingga pakaian yang seksi menggoda.

Beruntung masih ada petani di Kundur, Kabupaten Tanjungbalai Karimun dan Desa Kudung, Kabupaten Lingga.

Mantan Gubernur Kepri, Almarhum HM Sani pernah mengarang buku berjudul Untung Sabut. Ia senang karena petani di kampung halamannya, Kundur, mulai memperluas areal kebunnya untuk peningkatan produksi. Hal ini didukung kondisi harga gambir yang cenderung relatif bagus.

“Ke depan, perluasan areal tanam juga harus dilakukan di Kundur dan Lingga. Kalau dibiarkan, nasib gambir di Kundur dan Sungai Raya, Singkep Barat akan sama dengan nasib gambir di Pulau Bintan,” pesan Sani.

Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Karimun juga mulai memberikan perhatian dan pembinaan kepada para petani gambir.

Kabid Kehutanan dan Perkebunan Distanhut Kabupaten Karimun M. Affan, beberapa waktu lalu menyatakan, Kundur memiliki banyak potensi yang perlu terus digalakkan.

Salah satu upaya Distanhut Karimun ialah mengajari petani bisa lebih kreatif menciptakan berbagai macam home industri dari tanaman gambir. Narasumbernya didatangkan dari Balai Pengkajian Teknis Pertanian (BPTP) Sumatera Barat.

Selain di Karimun, saat ini gambir masih bisa dijumpai di Kabupaten Lingga. Di sini ada usaha perkebunan gambir bernama Mongsul Bangsal yang berada di Desa Sungai Raya, Kecamatan Singkep Barat.

Kebun dikelola oleh keluarga Aleng Loya secara turun-temurun hingga kini sudah dijalankan gerenasi ke enam. Pada tahun 2006 – 2008, luas kebun gambir keluarga ini masih 200 hektare.

Rentang tahun itu harga per kilogram daun gambir mencapai Rp50 ribu, paling rendah Rp30 ribu. Produk gambir Mongsul Bangsal ini diekspor ke Jepang via Singapura. Gambir dijual pada perusahaan Jepang di bawah bendera Jintan Coorporation. Kerja sama ini berlangsung hingga 40 tahun.

Namun, belakangan gambir langsung dikirim ke Jepang via Singapura. Benderanya tetap sama, Jintan. Selain ke Jepang, gambirnya juga dijual ke India.

Namun kini kebun gambir milik keluarga Aleng Loya berkurang drastis, tinggal seperempatnya saja.

Dengan keterlibatan pemerintah, bukan tidak mungkin gambir di Kepulauan Riau akan mengalir lagi sampai jauh. Dengan kapal-kapal yang lebih canggih, pelabuhan yang semakin moderen.

Semoga. ***

Loading...