free page hit counter

Asal Usul Nama Gesek di Bintan, Potong Leher atau Kayu?

Loading...

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Ada sejumlah nama wilayah di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, yang unik. Salah satu nama unik itu, adalah Gesek.

Sebuah kampung kecil yang berjarak sekitar 20 Km dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjungpinang ke arah utara.

Dari kampung kecil inilah, kolonialis Jepang sekitar tahun 1942 atau 1943 membangun jalan raya yang membuat Tanjungpinang dan Tanjunguban yang berjarak sekitar 70 Km, terhubung.

Romusha

Pemerintah kolonial Jepang mengerahkan pekerja paksa atau romusha, yang didatangkan dari Jawa dan daerah lainnya di Indonesia.

Pekerja paksa juga didatangkan Jepang ke Kijang, Bintan Timur. Untuk melanjutkan eksploitasi bauksit dari tangan kolonialis Belanda.

Jepang membangun jalan raya itu, untuk memudahkan distribusi bahan bakar dari Tanjunguban ke Tanjungpinang.

Karena, saat itu di Tanjunguban sudah ada tangki penimbunan bahan bakar yang dibangun kolonial Belanda sekitar tahun 1932 – 1933.

Dengan terbangunnya jalan itu distribusi bahan bakar untuk kepentingan Jepang di Tanjungpinang menjadi lebih cepat.

Kisah Jepang dan romusha itu, mungkin bisa membuat nama Gesek menjadi agak menarik. Karena, memang tidak ada hal lain yang menonjol di Gesek.

Tidak juga terdapat sesuatu yang khusus tentang Gesek. Selain, sebuah waduk yang kini terkesan tidak terurus dengan baik.

Kedai Kopi dan Kelenteng

Selain waduk mungil yang rerumputan airnya sudah lebih tinggi dari permukaan air, Gesek juga dikenal dengan kedai kopinya.

Ada beberapa kedai kopi di sekitar persimpangan Gesek, yang rasa kopinya benar-benar kopi. Ada kedai kopi yang sudah lumayan maju.

Ada juga kedai kopi yang bangunanya terkesan kuno. Dindingnya dari kayu. Tiang-tiangnya juga dari kayu bulat. Letaknya berdekatan dengan kelenteng.

Kelenteng tua itu mungkin jadi sebuah fakta. Bahwa, di masa lalu wilayah ini lebih dikuasai warga dari etnis Tionghoa.

Sejarah, barangkali bisa membuat nama Gesek bisa menjadi lebih menarik. Dengan asumsi itu, suarasiber.com pun berselancar ke alam gaib, ke dunia maya.

Setelah masuk ke alam gaib alias ke dunia maya, jejak Gesek memang sangat menarik dari namanya.

Bahwa nama Gesek berasal dari kisah yang terkait dengan aktifitas tentang potong memotong. Ada dua versi di laman kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Perkebunan Gambir

Pertama, nama Gesek berasal dari aktifitas memotong (menebang) kayu dan membuatnya menjadi kayu olahan. Di masa lalu, hal itu memang dimungkinkan.

Kayu yang sudah dipotong dan diolah dibawa melalui Sungai Gesek ke Tanjungpinang. Dan, selanjutnya ke berbagai tempat lain.

Kedua, Gesek berasal dari aktifitas memotong leher. Ya. Leher manusia yang dipotong. Bukan sembarang manusia, tapi pekerja yang melawan tauke-tauke pemilik kebun gambir dan karet di wilayah itu.

Tauke atau toke, adalah sebutan untuk bos dari etnis Tionghoa. Bos-bos ini menguasai perkebunan yang banyak terdapat di Pulau Bintan.

Perkebunan gambir sudah dikenal sejak tahun 1700-an di Kesultanan Johor Riau, yang berpusat di hulu Sungai Riau (Sei Carang), Tanjungpinang.

Penguasa kesultanan saat itu, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I (1722-1760), mendatangkan pekerja dari China. Untuk mengurus perkebunan gambir itu.

Ada beberapa lokasi perkebunan gambir kesultanan, di antaranya di hulu Sungai Riau (Sei Carang), Batu 8, Lagoi, dan Busung.

Perkebunan gambir itu ditinggalkan kesultanan sekitar tahun 1787. Menyusul berpindahnya pusat kekuasaan kesultanan dari hulu Sungai Riau di Tanjungpinang ke Daik, Lingga.

Seluruh yang terkait dengan kesultanan pindah ke Daik. Kecuali, perkebunan gambir dan para pekerjanya.

Samseng

Perkebunan gambir itu terus berkembang dan pekerjanya pun terus bertambah. Baik yang didatangkan dari China, Jawa, Sumatera dan lainnya.

Besarnya usaha perkebunan menuntut para bos kebun, untuk memiliki pengawas dan pengawal yang disebut samseng atau samsing.

Jangan cari arti kata samseng atau samsing di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Itu sebuah sebutan lokal, yang kini pun sudah jarang disebut atau terdengar.

Samseng tak hanya mengawas, tapi juga menjadi algojo yang menghukum pekerja yang bertingkah atau melawan. Hukuman terberatnya, adalah mati.

Di masa kini, hukuman mati dilakukan dengan cara ditembak senjata api. Di masa itu, hukuman matinya berupa potong kepala alias gesek.

Terserah mau menyimpulkan nama Gesek dari kegiatan pemotongan kayu atau dari potong kepala. Yang jelas, nama Gesek berasal dari aktifitas potong memotong.

Gesek mungkin pernah menjadi pusat ekonomi besar melalui perkebunan gambir, karet dan perkayuan. Atau, pernah jadi pangkalan Jepang saat membangun jalan raya ke Tanjunguban.

Kini, Gesek hanya sebuah kampung kecil. Meski terletak di persimpangan jalan yang strategis. (mat)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Loading...