free page hit counter

Era Baru Perikanan Budidaya di Kabupaten Bintan

Loading...

Oleh: Dr. Romi Novriadi, M.Sc (Wakil Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia)

Industri perikanan budidaya (baca: akuakultur) memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat dikembangkan di wilayah Kabupaten Bintan, mengingat lebih dari 96% wilayah geografis yang dimiliki berupa perairan dan hanya 4% wilayah administratif yang berupa daratan. Berdasarkan laporan kinerja Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2019, potensi perikanan budidaya yang dapat dikembangkan di Kabupaten Bintan terdiri atas lahan seluas 639 ha untuk aktivitas budidaya perikanan di darat dan 44,201 ha untuk wilayah pesisir dan laut lepas. Namun ironisnya, nilai Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan yang dihasilkan oleh Kabupaten ini masih tergolong sangat kecil dan hanya mampu memberikan kontribusi 5 – 7% PDRB dan masih sangat jauh bila dibandingkan dengan sektor industri lainnya, seperti industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan. Kalau kita melihat data produksi perikanan budidaya tahun 2018 dan 2019, walaupun ada sedikit peningkatan, namun secara quantity masih sangat kecil. Dimana jumlah produksi yang dihasilkan terdiri atas 549,37 ton untuk ikan laut, 4,694 ton untuk ikan air tawar dan hanya 2,40 ton untuk komoditas air payau di tahun 2019. Peningkatan signifikan untuk ikan air laut dari 83,6 ton di tahun 2018 menjadi 549,37 ton di tahun 2019 diperkirakan salah satunya dipicu oleh faktor peningkatan arus wisatawan mancanegara ke Kabupaten Bintan. Namun, dimasa pandemik ini, nilai produksi diperkirakan akan menurun secara signifikan akibat sektor pariwisata yang terkena dampak cukup signifikan serta kondisi wait and see yang dilakukan oleh ara pembudidaya terhadap trend permintaan komoditas ikan laut dari negara-negara yang umum melakukan import ikan hidup, sepeti China, Hongkong dan Taiwan.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecilnya pertumbuhan ekonomi di sektor perikanan budidaya, diantaranya adalah (1) keterbatasan sarana dan prasarana produksi (unit perbenihan, domestikasi induk, unit produksi pakan, cold storage, dan pengolahan), (2) sumber daya manusia, (3) transfer teknologi, (4) akses perbankan dan (5) kebijakan pemerintah daerah untuk mendorong terbentuknya zona-zona produksi perikanan budidaya yang terintegrasi serta dukungan untuk penerapan good aquaculture practices untuk aktivitas perikanan yang ada, sehingga sistem produksi akuakultur menjadi lebih efisien, terukur, berkelanjutan dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan lingkungan di sekitar wilayah produksi. Seluruh faktor ini harus dapat dijadikan fokus perbaikan, agar nilai tukar pembudidaya ikan menjadi lebih baik dimana biaya produksi dapat diminimalkan, sementara hasil produksi dapat terus dioptimalkan.

Kalau kita ambil contoh di sektor perikanan air payau yang hanya mampu menghasilkan produksi sebesar 0,28 ton di tahun 2018 dan 2,40 ton di tahun 2019 (LKjIP 2019), jumlah ini tergolong sangat kecil mengingat luas daratan yang tersedia sebesar 1.318,21 km2 dan potensi lahan yang tersedia sebesar 250 ha. Salah satu komoditas yang memiliki potensi ekspor dan dapat dikembangkan di perairan payau di Kabupaten Bintan ini adalah udang Litopenaeus vannamei. Saat ini, hanya ada beberapa unit usaha yang sudah beroperasi di Kabupaten Bintan dan salah satunya berada di Desa Malang Rapat – Trikora. Jikalau dikelola secara optimal, tidak menutup kemungkinan komoditas udang Vannamei dapat menjadi sumber penghasilan daerah yang cukup besar. Kalau kita hitung dengan konsep matematika dasar, lahan 250 ha ini dapat dikonversi secara optimal menjadi 600 kolam produksi masing-masing berukuran 0,3 ha. Dengan kepadatan minimum 200 udang/m2 dan tingkat kelulushidupan 80% dapat dihasilkan 9,6 ton udang per kolam per siklus produksi atau sebanyak 5,760 ton udang jikalau dikalikan dengan 600 kolam produksi. Nilai ekonomi yang dihasilkan juga cukup signifikan. Dengan harga per kilogram (Kg) sebesar 60,000 – 70,000/Kg dan margin profit minimum sebesar 50%, maka bisa dibayangkan besaran perputaran nilai ekonomi di Kabupaten Bintan hanya dari sektor perikanan air payau ini. Terlebih dengan kondisi geografis Kabupaten Bintan yang sangat strategis untuk melakukan kegiatan ekspor, Industri ini tentu dapat menjadi push effect bagi hadirnya sektor-sektor industri lainnya di Kabupaten Bintan.

Untuk mewujudkan hal ini, ada beberapa jurus yang dapat dilakukan dan ini juga terkait dengan upaya untuk memperbaiki faktor-faktor penghambat yang telah disebutkan diatas. Jurus yang pertama adalah pemerintah daerah harus memiliki grand design dan keinginan untuk membangun unit pengelolaan induk, benih dan pakan secara mandiri. Kita dapat membayangkan besarnya biaya produksi yang dapat direduksi kalau unit produksi benih dan pakan udang Vananmei hadir di Kabupaten Bintan. Kalau kita kembali ke hitungan konversi lahan diatas, maka akan ada kebutuhan sekitar 360 juta benur udang Vannamei dan ±7000 ton pakan yang dibutuhkan per satu siklus produksi. Kehadiran mesin pakan dan unit produksi mandiri dapat secara signifikan menurunkan biaya produksi akibat mahalnya biaya transportasi yang dikeluarkan ketika harus mendatangkan benur dan pakan dari daerah lain. Di sisi lain, kehadiran mesin pakan dan unit perbenihan ini dapat menjamin kualitas dan kesegaran bahan-bahan produksi ketika sampai di tangan para pelaku usaha produksi. Jurus kedua, tentu harus ada cold storage dengan jumlah dan kapasitas yang memadai. Nilai produksi diatas hanya dalam hitungan satu siklus produksi. Sementara dalam satu tahun, produksi udang Vannamei dapat dilakukan sebanyak tiga siklus. Kehadiran cold storage akan memastikan kesegaran udang hasil produksi di tangan customer atau unit-unit produksi serta menjamin kualitas udang bila Kabupaten Bintan berkeinginan untuk menjadikan komoditas ini sebagai salah satu komoditas utama ekspor mengikuti kampanye yang dilakukan Kementerian Kelautan dan perikanan untuk meningkatkan jumlah ekspor komoditas udang Vannamei hingga 250% di tahun 2024.

Jurus selanjutnya adalah pembangunan sumber daya manusia. Beberapa hari yang lalu, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) dan Politeknik Ahli Usaha Perikanan (sebelumnya: Sekolah Tinggi Perikanan) Jakarta bersama Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) telah menandatangani perjanjian kerjasama internal untuk membangun sumber daya manusia di Kabupaten Bintan. Momen ini tentunya harus dapat ditangkap dan dimanfaatkan untuk pembangunan sumberdaya manusia yang terampil, ahli, kompeten dan professional di bidang perikanan budidaya. Arah pembangunan sumberdaya manusia ini juga dapat disertai dengan penerapan jurus berikutnya yaitu transfer teknologi yang bersifat aplikatif dan dibutuhkan untuk optimalisasi hasil produksi. Beberapa teknologi yang dapat diterapkan diantaranya remote water quality monitoring system, penggunaan automatic feeder based on cloud system, penggunaan microbubble diffuser hingga kepada pembangunan solar panel yang dapat mengurangi ketergantungan pada ketersediaan listrik. Semua inputan teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas sistem produksi. Keberadaan UMRAH juga mengandung makna strategis bagi Kabupaten Bintan, karna UMRAH merupakan satu-satunya universitas dengan tagline maritim di Indonesia yang dapat menyediakan sumber daya terampil tidak hanya bagi Kabupaten Bintan namun untuk kebutuhan nasional untuk membantu mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Kita menyadari selanjutnya bahwa industri udang Vannamei merupakan industri yang membutuhkan modal cukup tinggi. Oleh karena itu, perlu dukungan dari pemerintah Kabupaten Bintan untuk meyakinkan pihak perbankan bahwa industri udang Vannamei merupakan salah satu industri yang cukup kompetitif dan bahkan tidak mengalami “gangguan” di masa pandemik ini. Langkah berikutnya terkait dengan jurus terakhir yaitu kepastian izin lokasi dan usaha. Hal ini tentu akan menarik banyak minat investor. Lahan non produktif sisa galian tambang juga dapat dimanfaatkan untuk produksi udang Vannamei dengan sistem konstruksi kolam yang sesuai sehingga efek toksik sisa galian tambang tidak mempengaruhi sistem produksi udang. Dengan adanya kepastian usaha, regulasi yang nyaman serta sistem transportasi yang baik, maka Kabupaten Bintan memiliki peluang untuk menjadi salah satu sentra produksi udang Vannamei di Indonesia melalui keberadaan Kampung-kampung Vannamei sebagai pilar pembangunan ekonomi di Kabupaten Bintan.

Sangat diharapkan bahwa para pengambil kebijakan di Kabupaten Bintan mengetahui potensi ekonomi yang dapat dihasilkan oleh sektor industri perikanan budidaya. Hal ini juga termasuk potensi pembangunan ekonomi perikanan budidaya melalui pemanfaatan wilayah pesisir dan laut lepas. Konsep produksi industri akuakultur yang dipadukan dengan konsep pariwisata berbasikan maritim melalui penyediaan destinasi dan pengalaman wisata baru diharapkan dapat menjadi alternatif pemasukan daerah yang lebih baik dan bersifat sustainable serta ramah lingkungan.***

Loading...