free page hit counter

Boncengan Motor Sama Istri, Hormati Budaya Antre

Loading...

Mengenang Keseharian Mantan Kapolres Tanjungpinang, Irjen Arief Sulistyanto (1)

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Bab II di buku Arief Effect, Revolusi Senyap di Dapur Polri, yang berjudul Prestasi dari Kalimantan Barat, yang berisi dasar Irjen Pol Arief Sulistyanto dipilih Kapolri menggawangi SSDM Polri. Sarat prestasi, keras dalam kebijakan, dan bersih.

Di Kalbar, Arief ditugaskan untuk membenahi Polda yang saat itu dinilai bermasalah. Tak hanya memberantas kongkalikong antara penyelundup dengan oknum aparat. Perwira Polda Kalbar pun yang terlibat korupsi dan narkoba dilipat habis.

Jauh sebelum menjabat Kapolda Kalbar, Arief Sulistyanto bertugas di Tanjungpinang sebagai Kapolres. Tepatnya dari 13 Juli 2005 – 4 September 2006. Banyak kenangan baik yang ditinggalkannya untuk masyarakat di kota ini.

Arief yang selalu bertututur lembut dan jika berbicara disertai senyuman, dikenal tegas dan keras pada segala bentuk penyimpangan oleh anggota kepolisian. Seperti saat menangkap sejumlah oknum anggota polisi yang terlibat narkoba. Meski ada di antara oknum itu yang anak perwira, tapi tindakan yang diberikan tetap sama.

Di masa memimpin Polres Tanjungpinang, Arief juga dikenal sebagai pribadi yang taat beribadah. Nyaris setiap Arief salat Subuh di berbagai masjid, sendirian atau ditemani istrinya, tanpa pengawalan tanpa protokoler. Usai salat, Arief akan memantau langsung pos-pos penjagaan polisi.

Tak jarang anggota polisi kehilangan sepatunya, jika ketiduran. Bukan hilang dalam arti sebenarnya tapi sepatunya dipindahkan ke kantor Polres. Esoknya diambil tentu dengan disertai teguran ringan dari Arief.

Selain itu, hanya berdua berboncengan sepeda motor dengan istrinya di malam hari, Arief berkeliling memantau langsung situasi atau makan malam sambil berbaur dengan masyarakat.

Salah satu tempat favoritnya makan malam adalah di kedai ikan bakar Siantan di Jalan Kamboja, Tanjungpinang. Tempat makan yang sederhana di pinggir jalan, tanpa pendingin ruangan. Namanya pergi tanpa protokoler ke rumah makan, kadang kursinya sudah penuh.

“Kalau sudah penuh bapak dengan ibu (Arief dan istri, red) ikut antre juga. Tak pernah marah-marah atau suruh orang pergi,” kata Joatju, yang berjualan ikan bakar bersama suaminya Pajono menjawab suarasiber.com, malam itu.

Joatju bertutur, “Pak Arief suka nasi goreng seafood, dan ayam goreng bawang telur dadar.”

“Kalau ibuk suka ikan steam bawal.
Ibuk juga suka sup keladi,” imbuh Joatju,

Seringnya makan di Siantan ini membuat Arief dan istri dekat dengan anak Pajono dan Joatju. Begitu juga anaknya yang saat itu masih kecil yang bernama Edi Santana.

Figura kaca berisi kliping koran usianya sudah 12 tahun tapi masih terjaga dengan baik. Kacanya bekilap tanda sering dibersihkan. Kliping koran itu berisi wawancara khusus dengan Kapolres Tanjungpinang tahun 2006, AKBP Arief Sulistyanto. Judulnya: Berpikirlah Apa yang Bisa Diberikan kepada Masyarakat.

Arief Sulistyanto, yang kini menyandang dua bintan di pundak, Irjen Pol (Inspektur Jenderal Polisi) tak hanya beretorika, sebagaimana umumnya pejabat zaman now. Bersama istrinya, dr Niken Manohara, Arief benar-benar mengimplementasikan apa yang disebut di bibir dengan perbuatan nyata.

Keras dalam kebijakan, lembut dalam bertutur, apalagi kepada masyarakat umum. Benar ya benar, salah ya salah. Kalau pun harus dibantu, tidak untuk mendapatkan imbalan.

Pasangan suami istri Arief Sulistyanto dan dr Niken Manohara juga sama-sama tak suka merepotkan orang lain. Persis seperti judul wawancara yang dikliping itu.

Tak heran jika kepergian pasangan suami istri ini dari Kota Tanjungpinang, untuk melanjutkan tugas ke tempat yang baru dilepas segala lapisan masyarakat hingga ke pelabuhan. Dan, dengan cucuran air mata. (mat/bersambung)

Loading...