Suarasiber.com (Bintan) – SLBN Kijang menunjukkan langkah nyata dalam mewujudkan sekolah inklusif yang kreatif dan ramah lingkungan melalui Pagelaran Seni dan Pameran Hasil Karya Murid yang digelar, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus pembuktian bahwa murid berkebutuhan khusus mampu berkarya, mandiri, dan berdaya saing.
Pagelaran seni dan pameran karya tersebut dihadiri Ketua TP-PKK Kabupaten Bintan, Hafizha Rahmadani Putri, S.P.W.K., bersama jajaran pengurus TP-PKK dan Kepala DP3KB Kabupaten Bintan. Kehadiran tersebut menjadi bentuk dukungan langsung pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan inklusif di Bintan.
Dalam kegiatan ini, murid-murid Sekolah Luar Biasa Negeri Kijang menampilkan beragam hasil pembelajaran vokasi, mulai dari tata boga, hortikultura, daur ulang, hingga seni lukis. Selain pameran karya, panggung seni turut dimeriahkan dengan penampilan musik, menyanyi, dan tari yang menggambarkan kreativitas serta potensi murid secara utuh.
Pagelaran ini bertujuan meningkatkan rasa percaya diri murid, menumbuhkan kemandirian, serta membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, Ketua TP-PKK Kabupaten Bintan menyerahkan bantuan peralatan sekolah secara simbolis kepada murid sebagai bentuk kepedulian dan motivasi. Puncak acara ditandai dengan peresmian Ruang Teduh Laksmana Bentan, fasilitas hasil kolaborasi antara LSM Alim Provinsi Kepulauan Riau dan Bank Sampah Kembar Mandiri Tanjungpinang, yang dirancang sebagai ruang ramah lingkungan dan edukatif.
Kepala SLBN Kijang, Tengku Syarifah Nadhrah, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah dan para mitra yang terus bersinergi mendukung pendidikan inklusif.

“Kehadiran Ibu Ketua TP-PKK dan peresmian Ruang Teduh ini menjadi energi baru bagi kami. Ini membuktikan bahwa murid-murid kami tidak berjuang sendirian. Hasil karya yang ditampilkan hari ini adalah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menjadi mandiri dan kreatif,” ujar Tengku Syarifah Nadhrah.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan terhadap sarana pendukung sekolah, khususnya ketersediaan sumber air mandiri.
“Sebagai sekolah yang menuju Sekolah Ramah Lingkungan dan mendukung program Adiwiyata serta vokasi hortikultura, kami sangat berharap adanya pengadaan sumur bor. Air adalah kebutuhan utama dalam pembelajaran vokasi. Kemandirian air akan menjadi investasi penting bagi efisiensi anggaran dan keberlanjutan ekosistem hijau di sekolah,” jelasnya.
Saat ini, operasional sekolah masih bergantung pada pembelian air bersih, sehingga ketersediaan sumber air mandiri dinilai krusial untuk menunjang kegiatan praktik murid dan pemeliharaan lingkungan sekolah.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah, komunitas, dan pihak sekolah, SLBN Kijang optimistis dapat terus mencetak generasi berkebutuhan khusus yang mandiri, kreatif, dan peduli lingkungan. Langkah nyata SLBN Kijang ini menjadi contoh penguatan sekolah inklusif yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan di Kabupaten Bintan. (***)
Editor Syaiful





