free page hit counter

Putin – Rusia seperti Dewa dengan Mata Dewa-nya

Loading...

MENGIKUTI perkembangan operasi militer khusus Rusia di Ukraina selama 90 hari terakhir, kita menyaksikan kehancuran yang sangat luar biasa dibeberapa  daerah  dan Kota di Ukraina. Sperti Luhansk, Donetsk, Kyiv, Izium, Sumi,  Ichnia, Tomak, Mariupol, Odessa, Karkiv, dan sebagainya. 

Beragam sarana, prasana dan fasilitas serta property publik juga privat hancur berkeping-keping. 

Peralatan militer berupa kendaraan lapis baja, tank, pesawat dan helikopter tempur  tidak lagi menakutkan karena sudah menjadi puing-puing rongsok yang tak berfungsi.

Ribuan  manusia kehilangan nyawa dan menjadi pesakitan tergeletak tak berdaya.

Peradaban yang sudah dibangun sekian puluh, ratus, bahkan ribuan tahun yang lalu akhirnya luluh lantak tak berharga bahkan tidak lagi bernilai hanya dalam hitungan hari saja.  

Ibu-ibu yang melahirkan anak, kemudian merawat dan membesarkannya menjadi remaja dan dewasa, kemudian mengabdi sebagai tentara dan maju ke medan tempur akhirnya memekik menangis histeris mendengar berita kematian anaknya.

Begitu juga sang isteri yang telah membina sekian tahun bahkan puluhan tahun hidup bersama berumah tangga dengan damai lalu meratap sedih karena ditinggal mati oleh sang suami tercinta. Semuanya itu terjadi dalam masa 90 hari. 

Untuk mengatasi  semakin besarnya malapetaka tersebut, maka hanya ada satu kata, “Hentikan Perang” dan “Berdamai”.

Vladimir Putin, Presiden Rusia dengan angkatan perangnya terlihat begitu mudah menghancurkan, meluluhlantakkan Ukraina. Meski Ukraina mendapat bantuan  persenjataan dari sekutunya AS-NATO.

Bahkan didukung tentara bayaran yang dikenal dengan batalyon Azov – Neo-NAZI yang berlambangkan tengkorak dan kepala kambing.

Di sisi lain semangat perlawanan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenksy or “The Real Comedians” begitu tinggi dan menggebu-gebu sejak invasi Rusia ke Ukraina 24 Februari 2022 lalu.

Bahkan di awal-awal peperangan, sang presiden hampir setiap hari mem-posting  dirinya dengan mengeluarkan kata-kata puitis nan provokatif layaknya sedang bermain film. 

Sang aktor itu memang piawai dalam ber-akting namun tidak buat berperang. Apalagi berhadapan dengan “The best spying” dari Rusia.   

Ini perang “Bos”! Bukan film perang-perangan. Di sini Anda tidak berperan sebagai sutradara ataupun aktor. Tapi sebagai presiden sebuah negara dengan sekian juta warga negara yang sangat berharap perlindungan Anda.  

Pikir dan pikirkanlah sebaik-baiknya, seperti seorang bapak memikirkan nasib dari istri dan anak-anaknya. Jadilah seorang ayah yang baik (good father).

Perang bukan pilihan  terbaik, mungkin cara diplomasi lebih baik dalam menghadapi peperangan ini, demi perdamaian, ketenangan, dan kemakmuran negara Anda dan dunia. Termasuk saya dan keluarga jika mengarah terjadinya Perang Dunia ke-III.

Perang pasti mendatangkan kematian dan kehancuran. Meminjam kata dari Rocky Gerung, ini bukan fiksi dan fiktif tetapi ini reality. Dan, janganlah menjadi orang-orang dungu. 

Sepenggal dua, ucapan Rocky Gerung itu mengandung makna yang  sangat tinggi apabila mau dimaknai dengan baik. Mungkin  Zelensky perlu  mendengar ucapan berikut nasihat Rocky Gerung tersebut.

Selain penggalan kata Rocky Gerung di atas, saya juga teringat akan judul lagu dari sang musisi  Indonesia, Iwan Fals dengan judul Seperti Mata Dewa. 

Putin – Rusia saya ibaratkan seperti Sang Dewa Perang. Dengan kekuatan angkatan perangnya, yang dalam hitungan hari sebuah negara yang berdaulat dibuatnya hancur dan luluh lantak  berkeping-keping.

Begitu mudahnya angkatan perang Ukraina dilumpuhkan dan begitu mudah pula segala peralatan perang mereka dimusnahkan.  

Dengan peralatan canggihnya Rusia dapat dengan mudah memantau keberadaan angkatan perang Ukraina dan pergerakannya.  
Bahkan dengan mudah, Rusia bisa menemukan lokasi penyimpanan  peralatan  dan logistik perang Ukrania. 

Bukan itu saja,  segala peralatan perang bantuan dari sekutunya yaitu AS-NATO yang sedang diangkut ke tempat gudang persenjataan, ternyata dapat pula di-eleminir oleh Rusia sebelum digunakan.

Sehingga Ukraina dengan militernya menjadi frustasi termasuk para sekutu yang membantunya.

Peralatan militer  Rusia melalui satelit ruang angkasa-nya memudahkan Rusia untuk memantau setiap gerakan yang akan dan sedang dilakukan oleh militer Ukraina.

Dan, tanpa diduga gerakan militer, tank-tank, kendaraan lapis baja dan tempat-tempat peralatan militer gudang dan logistik Ukraina meledak terkena rudal Rusia berpresisi tinggi.  
Begitu juga halnya di medan tempur, tentara Checnya – Rusia dengan gampang mengetahui keberadaan militer Azov – Ukraina. Meskipun sudah bersembunyi di dalam banker dan tempat-tempat perlindungan lainnya.  

Didukung persenjataan perang yang serba modern, tentara Checnya-Rusia mudah saja menembaki tentara Azov-Ukraina dengan senapan mesinnya, setelah mengetahui keberadaan mereka.

Menyadari hal itu, keputusan yang dibuat oleh tentara Azov-Ukraina menyerahkan diri, merupakan sebuah keputusan tepat dari pada mati konyol terkena tembakan yang tak terduga.  

Kembali ke lagu Iwan Fals berjudul Mata Dewa, kekuatan peralatan perang Rusia yang  setiap detik dapat melihat setiap gerakan dan keberadaan militer dengan segala peralatan perang Ukraina.

Sama seperti “Mata Dewa” yang sedang melihat umat manusia di bumi dari atas langit dan singgasananya.

Aaaahhhhh…..begitu lelah memikirkan nasib saudara-saudara saya sesama anak  cucu Adam di Ukraina yang sedang menderita dan sekarat itu.

Alangkah lebih baik sambil mendengar lirik lagu Iwan Fals, Mata Dewa….

Aku berdiri tinggalkan dirimu
Waktu sinarnya jatuh di jiwaku
Gemuruh ombak sadarkan sombongku
Ajaklah aku wahai sang perkasa

Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Seperti mata dewa

Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lupakanlah aku
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lupakanlah aku

Senja di hati…..

Senja di hati, mungkin agak lebih baik…..dari pada …. malam ……gelap…..di hati…….karena mati……tinggalkan dirimu…..tinggalkan peperangan……nyalakan sinar perdamaian dalam jiwa…..sadarlah dari kesombongan……ikutlah sang perkasa……seperti mata dewa…..tinggalkan  dan lupakanlah tangisan…… peace!

Kijanglama, Tanjungpinang (24/5/2022). Salam Perdamaian Dunia. (*)

Penulis Iwan Kurniawan, S.H., M.H., M.Si

Loading...