free page hit counter

Sarjana PTT, Iwan Fals dan Investor China

Loading...

Suarasiber.com – Dua permintaan besar disampaikan Gubernur Kepri H Ansar Ahmad kepada Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Rabu (2/6/2021).

Pertama, Ansar minta universitas negeri di Provinsi Kepri ini, mampu menciptakan SDM unggul dan Indonesia Emas di Kepulauan Riau. 

Sebuah permintaan sederhana dan memang sudah menjadi visi nyaris seluruh perguruan tinggi di dunia.

Meski untuk mencapai visi itu butuh usaha keras selain waktu yang panjang. Ada yang mampu mewujudkannya, tapi tak sedikit juga yang gagal.

Kedua, Ansar minta program studi (prodi) di universitas ini mampu ada bisa menjawab peluang kerja dan peluang usaha ke depan. 

Permintaan Ansar mungkin sudah sesuai dengan visi universitas. Namun, permintaannya yang kedua, adalah sebuah tantantangan superbesar.

Anggaran Habis tapi Covid tetap Menggila

Sebagai mantan bupati dua periode, Ansar sangat paham kaitan erat pendidikan dengan peluang kerja.

Itu sebabnya, saat menjabat Bupati Bintan Ansar melahirkan sebuah yayasan yang memberikan pendidikan pasca-SMA di Kijang, Bintan Timur.

Yayasan ini memberikan pendidikan keahlian kepada alumninya. Dan, sudah terbukti alumninya mampu bekerja di sektor wisata di seluruh dunia.

Sayangnya, selepas Ansar purnabakti sebagai bupati, konsep jitu Ansar menciptakan SDM unggul yang sekaligus mampu bersaing di bursa kerja ikut dipurnabaktikan.

Kini, setelah menjadi gubernur, Ansar meminta UMRAH yang meneruskan visi pendidikannya.

Ansar yang sarjana ekonomi alumni Uiversitas Riau tentu sangat mengetahui kondisi ekonomi Kepri saat ini. Lembab dihantam wabah covid.

Anggaran pun dipangkas habis-habisan untuk penanganan virus itu. Meski faktanya wabah ini tak kunjung surut dan malah cenderung meningkat.

Lembabnya ekonomi membuat investasi baru menjadi terbatas. Dampaknya peluang kerja pun terbatas.

Sarjana THL

Sementara, setiap tahun setiap perguruan tinggi beberapa kali mewisuda mahasiswa menjadi sarjana. Ribuan sarjana lahir setiap tahun.

Sedangkan peluang kerja baru hanya segelintir yang lahir. Kalaupun ada mereka menuntut pekerja yang siap pakai.

Bukan yang setengah siap. Apalagi belum siap pakai.

Jalan pintas yang diambil, adalah menjadi pegawai honor pemerintah (diawali sebagai tenaga harian lepas alias THL), walau digaji minim dan tak sesuai dengan ijazahnya.

Apa boleh buat itu pun dijalani karena tak ada pilihan lain. Dan, itu pun tidak mudah. Harus ada promotor khusus yang memberi pass masuk.

Tanpa promotor yang punya pass masuk jangan harap bisa jadi THL di semua pemerintahan.

Nyaris serupa dengan masuk jadi PNS di era sebelum 2010, meski tak semuanya 

Sebuah fakta pahit tapi tetap lebih baik daripada tidak bekerja. Daripada mengecewakan orang tua yang sudah bertungkuslumus menguliahkan.

Potongan lagu lawas Iwan Fals yang berjudul Sarjana Muda di bawah ini, seakan selalu update dengan kondisi kekinian.

….Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku

Sia-sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap
maaf ibu…

Potret Buram

Iwan Fals cuma memotret kondisi di masa itu, puluhan tahun lalu. Tak disangka potret buram sarjana sulit mencari kerja itu kembali terjadi di era milenial ini.

Pemerintah memang masih tak mampu menciptakan lapangan kerja baru, kecuali jadi THl.

Karenanya, pemerintah mendorong investasi baru sebanyak-banyaknya. Agar, peluang kerja baru tercipta selain membuat pembangunan bergerak.

Agar, tidak ada lagi bangunan mangkrak seperti tiang-tiang beton di kota mati, Bintan Buyu.

Akan tetapi di masa wabah covid ini, memang sulit berharap banyak ada investasi baru yang masuk. Kecuali, investasi dari China di Bintan.

Juga di beberapa daerah di Tanah Air dan dunia. Masalahnya, peluang kerja untuk sarjana,  nyaris tidak ada di investasi China ini. Kalaupun ada, akan sulit diisi.

Sebab, kita nyaris tidak pernah diajarkan atau diberi pelajaran Bahasa Mandarin dari SD sampai jadi sarjana.

Caltex

Beda kondisinya saat ekspatriat Amerika memenuhi Rumbai, Pekanbaru di masa perusahaan minyak Caltex mengeksploitasi minyak bumi di Riau.

Tak ada yang heboh, tak ada yang menolak. Selain pemerintahan yang terkontrol penuh dari pusat dan belum ada medsos, juga karena banyak orang Indonesia yang bisa bekerja di Caltex.

Karena mampu berbahasa Inggris. Selain, punya keilmuan yang sesuai dengan lapangan kerja. Seperti yang diminta Ansar di atas.

Ada banyak ekspatriat bule yang berbahasa Inggris, yang bekerja di Indonesia. Umumnya mereka bekerja di perusahaan tempat asal negaranya berinvestasi di Indonesia.

Dan, pelajaran Bahasa Inggris pun jadi mata pelajaran wajib hingga kini di pendidikan menengah. Les dan kursus Bahasa Inggris pun berkembang pesat.

Deng Xiaoping

Zaman berubah, nyaris segelintir saja yang bisa memprediksi China bisa jadi negara kaya dan hanya dalam tempo 40 tahun. Yang diawali oleh Presiden Deng Xiao Ping.

Deng membungihabuskan kebijakan Mao Zedong dan memulai revolusi ekonomi China dengan konsep, “Tidak masalah mau kucing kuning atau kucing hitam, asalkan bisa menangkap tikus.”

Bukan cuma dunia pendidikan yang tak siap menyambut kehadiran raksasa ekonomi dunia baru, dunia pun kaget.

Tak menyangka konsep Deng yang membuat kapitalisme tumbuh subur di negeri komunis, mengubah China jadi negara superkaya.

Yang mampu membuat pengusahanya berinvestasi di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia.

Semoga saja permintaan bernada peringatan halus Ansar ke UMRAH, tidak hanya sebatas pemanis kata di sebuah acara.

Tentu juga tak mungkin UMRAH dan semua perguruan tinggi di Keprii, segera membuka jurusan Bahasa dan Sastra Mandarin.

Karena, untuk mendapatkan dosen S2 Bahasa Mandarin dan harus PNS, jelas sangat-sangat sulit sekali.

Mental

Akan tetapi, ke depannya paling tidak bisa dilahirkan sarjana-sarjana yang bermental wirausaha atau jasa. Mental! Sesuatu yang memang nyaris tak pernah diajarkan.

Agar, saat mereka lulus kuliah dan diwisuda tak terdampar hanya menjadi THL dan PTT. Itupun kalau punya channel.

Sebagai universitas negeri sulung di Provinsi Kepri, UMRAH dituntut jadi leader. Untuk mengubah mental mahasiswa menjadi seorang wiraswasta.

Bisa jadi petani modern, pekebun, usaha jasa dan lain-lain.

Jika sukses jadi wirawasta mereka pasti lebih cepat kaya, tanpa harus mencuri-curi perjalanan dinas. Tanpa harus menjadi hamba pejabat. Tanpa harus korupsi. (sigit rachmat) 

Loading...