Suarasiber.com (Tanjungpinang) – Suasana Car Free Day di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta berubah menjadi panggung aksi seni dan edukasi iklim. Festival seni jalanan bertajuk “Warna untuk Bumi” digelar oleh WWF-Indonesia bersama Earth Hour Indonesia, Pusat Perbukuan (Kemendikbudristek), dan Program INOVASI untuk Anak Sekolah Indonesia (kolaborasi Pemerintah RI dan Australia), sebagai bentuk seruan bersama atas krisis iklim yang kian nyata.
Acara yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB ini bukan sekadar ajang kreatif. Melalui seni mural, aktivitas melukis inklusif, dan pembagian buku anak bertema lingkungan, festival ini menyatukan berbagai komunitas lintas usia dan latar belakang untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya literasi, inklusi, dan perlindungan bumi.
Kolaborasi Lintas Komunitas untuk Bumi
Lebih dari 100 anak muda, termasuk penyandang disabilitas, terlibat dalam mural kolaboratif sepanjang lima meter bertema “Bumi dan Pendidikan Berkelanjutan.” Lukisan raksasa itu menjadi simbol solidaritas antar generasi dalam menyuarakan kepedulian terhadap perubahan iklim melalui pendidikan.
Tak hanya itu, sebanyak 200 paket buku bacaan anak non-teks berjenjang juga dibagikan oleh Pusat Perbukuan. Buku-buku ini dirancang agar anak-anak bisa mengembangkan kemampuan literasi mereka secara bertahap, menyenangkan, dan kontekstual dengan isu lingkungan.
Sementara itu, sekitar 250 peserta dari berbagai usia ikut dalam kegiatan melukis dan mewarnai kanvas serta batik dengan tema keberagaman hayati dan perubahan iklim. Aktivitas ini terbuka bagi semua, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas, sebagai ruang ekspresi inklusif tentang masa depan bumi.
Generasi Muda Jadi Motor Perubahan
“Melalui ‘Warna untuk Bumi’, kami ingin menanamkan bahwa aksi kecil bisa berdampak besar jika dilakukan bersama. Saat mereka membaca buku atau mewarnai mural tentang laut tercemar, itu menjadi awal dari kepedulian yang akan tumbuh hingga dewasa,” ujar Ari Muhammad, Manajer Iklim dan Energi WWF Indonesia.
Sementara itu, Supriyatno, Kepala Pusat Perbukuan Kemendikbudristek, menekankan pentingnya distribusi buku anak yang terjangkau dan berkualitas dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan sadar lingkungan pada generasi masa depan.
Feiny Sentosa, Wakil Direktur Program INOVASI, menyebut kolaborasi seni, literasi, dan inklusi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang tangguh terhadap perubahan iklim. “Anak-anak bukan hanya perlu tahu apa itu perubahan iklim, tapi juga dibekali keterampilan dan semangat untuk menjadi bagian dari solusinya,” jelasnya.
Aksi Serentak di Berbagai Daerah
Tidak hanya berlangsung di Jakarta, Festival “Warna untuk Bumi” juga digelar serentak di Mataram, Nusa Tenggara Barat dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 25 Mei lalu, menunjukkan bahwa kepedulian terhadap iklim adalah gerakan nasional yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Lebih dari 200 relawan muda dari komunitas Earth Hour, komunitas literasi, hingga komunitas K-Pop ikut menggerakkan aksi damai bertajuk Festival Poster dengan membawa pesan edukatif seputar gaya hidup hijau, toleransi, dan pentingnya aksi kolektif menghadapi perubahan iklim.
“Warna untuk Bumi” bukan sekadar festival seni, melainkan ruang bersama untuk mengajak masyarakat berpikir ulang soal hubungan kita dengan bumi—dan bagaimana kita bisa menjaga rumah kita bersama lewat aksi yang nyata, kreatif, dan inklusif. (***)
Editor Yusfreyendi





