Senin, 8 Juni 2026

Hari Marwah Kepri ke-24: Saat Para Pejuang Menjaga Bara yang Tak Pernah Padam

Tayang:


Suarasiber.com – Di atas meja hanya ada nasi kuning lengkap dengan bunga telur. Tidak ada panggung megah. Tidak ada dekorasi berlebihan. Tak terlihat kemewahan yang mencolok sebagaimana lazimnya acara seremonial besar.

Sangat sederhana. Begitulah suasana peringatan Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ke-24 yang digelar di Gedung Juang Yayasan BP3KR, Jalan Hang Tuah Nomor 7 Tanjungpinang, Jumat (15/5/2026).

Gedung tua itu berdiri tanpa kesan gagah. Jika dibandingkan dengan gedung-gedung baru di sekitarnya, mungkin ia tampak biasa saja.


Bahkan dulu, setiap hujan turun, genangan air seolah menjadi penghuni tetapnya.

Gedung itu merupakan hibah mantan Gubernur Kepri H Nurdin Basirun kepada Yayasan BP3KR—rumah perjuangan yang dipimpin duet legendaris pembentukan Provinsi Kepri, H Huzrin Hood dan Ir Sudirman Almoen.

Perlahan, dengan dana pribadi dan tanpa bergantung pada APBD, bangunan itu dipoles. Diselamatkan. Dihidupkan kembali.

“Dulu kondisinya berat. Sekarang disulap dengan dana sendiri, tanpa meminta dari APBD,” kata Sudirman Almoen.

Tokoh pembentukan Provinsi Kepulauan Riau bersama Wagub Kepri Nyanyang Haris Pratamura beserta unsur pemerintah, TNI-Polri, dan masyarakat berfoto usai peringatan Hari Marwah Kepri 2026 di Gedung Juang Yayasan BP3KR, Tanjungpinang, Jumat (15/5/2026). Foto – Istimewa

Namun sesungguhnya kemewahan Hari Marwah Kepri bukanlah soal gedung atau hidangan.

Kemewahan itu ada pada sesuatu yang tak bisa dibeli. Kemewahan pertama hadir lewat ikhtiar penyusunan buku sejarah pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.

Sebuah catatan agar generasi mendatang tak lupa bahwa Kepri lahir bukan karena keberuntungan, melainkan oleh keringat, air mata, dan perjuangan panjang.

Buku yang dikerjakan secara mandiri itu ditulis tim yang diketuai Prof Abdul Malik bersama Assoc. Prof Zamzami A Karim, dan direncanakan diluncurkan pada Hari Marwah Kepri ke-25 tahun 2027.

Namun kemewahan paling mahal hari itu bukan buku. Melainkan sorot mata para pejuang.

Mata-mata yang dahulu menatap masa depan Kepri dengan semangat menyala.

Mata yang dulu berjaga dalam rapat panjang, bergerak dari kota ke kota, menggalang dukungan dan menyuarakan mimpi lahirnya Provinsi Kepulauan Riau.

Kini rambut mereka telah memutih.
Langkah tak lagi secepat dulu.
Gigi tak lagi lengkap.

Tenaga tak lagi sekokoh masa muda.
Namun ada satu hal yang rupanya belum berubah:Api itu masih ada.

Api yang sama seperti puluhan tahun silam.
Ironisnya, banyak dari mereka bukanlah penikmat utama hasil perjuangan itu.

Tak semua memperoleh jabatan.
Tak semua hidup dalam kemapanan.
Tak semua mendapat panggung.

Bahkan Sudirman Almoen hingga kini masih harus terus “membajak sawah” di Jakarta demi kehidupannya.

Tetapi waktu rupanya tak berhasil merampas satu hal: cinta mereka kepada Kepri.

Hari itu yang mewah bukan gedungnya. Bukan makanannya. Bukan pula seremoni atau kursi-kursi kehormatan.

Yang mewah adalah kesetiaan orang-orang yang tak pernah meninggalkan Kepri, bahkan saat Kepri mungkin telah meninggalkan mereka.

Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan. Namun siang itu, di Gedung Juang BP3KR, kalimat tersebut terasa nyata.

Sebab di ruangan itu duduk orang-orang yang pernah menghabiskan masa muda, tenaga, pikiran, bahkan hidupnya demi sebuah nama: Provinsi Kepulauan Riau.

Kini usia telah mengubah banyak hal.
Tetapi satu hal rupanya menolak ikut menua:
Api perjuangan mereka.

Semangat itu terlihat jelas saat H Huzrin Hood membacakan Maklumat Hari Marwah.

Sepuluh poin dibacakan. Semuanya berbicara tentang masa depan Kepri.
Tentang harapan agar daerah ini terus tumbuh dan lebih diperhatikan.

Salah satunya desakan agar DPR RI segera mengesahkan RUU Provinsi Kepulauan.

“Kami bersama 11 provinsi kepulauan mendesak DPR RI agar segera mengesahkan RUU tersebut,” ujar Huzrin.

Bang Huzrin—begitu banyak orang
memanggilnya—kini memang tak lagi muda.
Rambutnya memutih.
Langkahnya pelan.
Tetapi semangatnya masih menyala.
Bara itu seperti menolak padam, meski badai hidup berkali-kali menghantamnya.

“Tanpa Bang Huzrin, nyaris mustahil Provinsi Kepri terbentuk,” ucap Sudirman Almoen.

Kalimat itu terasa sederhana. Namun mungkin menjadi salah satu kalimat paling mahal siang itu.

Sebab sejarah memang sering kejam.
Ia dinikmati banyak orang, tetapi diperjuangkan hanya oleh segelintir orang.

Semoga pada Hari Marwah Kepri ke-25 tahun 2027 nanti, perayaannya lebih semarak. Bukan demi kemewahan. Bukan demi pesta.

Tetapi sebagai rasa syukur. Bahwa perjuangan panjang itu… akhirnya benar-benar bernama Provinsi Kepulauan Riau. (sigit rachmat).

Loading...

BAGIKAN BERITA INI

spot_img

Update

spot_img

BACA JUGA
Berita lainnya

Sejarah di Hongaria! Marc Marquez Gabung Klub 100 Kemenangan Grand Prix

Marc Marquez kembali menorehkan sejarah di lintasan MotoGP. Foto – Xmotogp

Samsung Vision AI Meluncur, Era Baru Televisi Pintar yang Mampu Memahami Penggunanya

Samsung Vision AI TV menjadi pusat perhatian dalam momen kebersamaan sebuah keluarga kecil. Foto - news.samsung.com

Marc Marquez Menggila di Balaton Park, Rebut Pole Position dan Kirim Peringatan Keras untuk Rival

Pembalap Ducati, Marc Marquez. Foto - motoGP

Polri Perkuat Pembinaan Generasi Muda Lewat E-Sport Kapolri Cup 2026

Peluncuran E-Sport Kapolri Cup 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Foto - Humas Polda Kepri