Suarasiber.com (Bintan) – Kolaborasi internasional mendorong kawasan mangrove Sungai Tiram, Kabupaten Bintan, Kepulauan Kepulauan Riau, dikembangkan menjadi sentra silvofishery dan wisata mangrove berkelanjutan. Konsep ini memadukan pelestarian lingkungan dengan penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
Gagasan tersebut disampaikan pecinta mangrove asal Jepang, Naoto Akune, usai mengikuti kegiatan penanaman mangrove di Sungai Tiram, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Minggu (8/2/2026). Kegiatan ini digelar oleh Komunitas Jurnalis Kepri dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026.
Naoto menilai kawasan mangrove di Bintan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai model pengelolaan ekosistem pesisir berbasis silvofishery, yakni sistem budidaya perikanan yang terintegrasi dengan hutan mangrove.
“Saya sudah berdiskusi agar ke depan kawasan mangrove Sungai Tiram dapat dikembangkan sebagai kawasan budidaya perikanan dengan sistem silvofishery,” ujar Naoto.
Silvofishery: Konservasi dan Ekonomi Berjalan Bersama
Silvofishery merupakan metode budidaya ramah lingkungan yang telah diterapkan di berbagai negara, termasuk Jepang dan sejumlah wilayah Asia Tenggara. Sistem ini menggabungkan tambak perikanan dengan keberadaan hutan mangrove sebagai bagian utama ekosistem.
Dalam konsep yang ditawarkan, sekitar 60–80 persen kawasan tetap dipertahankan sebagai hutan mangrove. Sementara 20–40 persen lainnya dimanfaatkan sebagai parit atau kolam untuk budidaya ikan, udang, maupun kepiting.
Menurut Naoto, mangrove berfungsi sebagai biofilter alami yang menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, serta melindungi kawasan pesisir dari abrasi.
“Mangrove berperan penting sebagai penyaring alami dan sumber nutrisi biota. Dengan silvofishery, kebutuhan pakan buatan dan obat-obatan dapat ditekan, sehingga budidaya lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sistem ini berpotensi meningkatkan produktivitas perikanan sekaligus memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat pesisir tanpa merusak lingkungan.
Didukung Komunitas dan Pemerintah Daerah
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri, Ady Indra Pawennari, menyambut positif gagasan pengembangan silvofishery di kawasan mangrove Sungai Tiram.
Menurutnya, konsep tersebut telah terbukti berhasil di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
“Silvofishery memiliki nilai ekonomi tinggi dan sekaligus menjaga kelestarian mangrove. Sungai Tiram sangat potensial menjadi kawasan percontohan pengelolaan mangrove berbasis ekonomi hijau di Kepulauan Riau,” kata Ady.
Ia berharap pengembangan ini dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar melalui peningkatan pendapatan dan lapangan kerja berbasis lingkungan.
Wisata Menanam Mangrove Jadi Penggerak Baru
Selain silvofishery, pengelolaan mangrove di Bintan juga diperkuat melalui program Planting Tourism atau wisata menanam mangrove yang dikembangkan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kepulauan Riau.
Kepala BPDAS Kepri, Haris Sofyan Hendriyanto, mengatakan program ini mengubah paradigma konservasi dari sekadar penanaman menjadi aktivitas pariwisata berbasis ekologi yang bernilai ekonomi.
“Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya pelestarian melalui penanaman mangrove,” ujar Haris.
Saat ini, BPDAS Kepri telah memetakan sedikitnya sembilan titik di Bintan sebagai pionir wisata menanam mangrove. Beberapa di antaranya dikelola bersama kelompok masyarakat dan komunitas lokal, seperti Pengudang, Gudi Farm, dan komunitas Akar Bumi di Pandang Tak Jemu.
Program ini juga melibatkan biro perjalanan dan sektor perhotelan untuk mengembangkan paket wisata yang menggabungkan rekreasi dengan konservasi lingkungan.
“Potensi utama Kepri adalah wisata dan mangrove. Keduanya bisa dikolaborasikan untuk mendukung pembangunan kehutanan dan ekonomi daerah,” tambah Haris.
Mangrove sebagai Benteng Pesisir dan Sumber Ekonomi
Mangrove memiliki fungsi vital sebagai benteng alami pesisir yang melindungi daratan dari abrasi, erosi, serta gelombang ekstrem. Ekosistem ini juga menjadi habitat penting bagi ikan, udang, dan kepiting yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.
Untuk mendukung rehabilitasi mangrove, BPDAS Kepri menyediakan bibit mangrove gratis yang dapat diambil masyarakat di persemaian Senggarang.
“Jika mangrove dijaga dengan baik dan fungsi ekologinya optimal, maka manfaat ekonominya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Haris.
Menuju Sentra Silvofishery dan Wisata Berkelanjutan
Kombinasi konsep silvofishery dan wisata mangrove berkelanjutan membuka peluang baru bagi pengelolaan mangrove di Bintan. Kawasan Sungai Tiram dinilai berpotensi menjadi model nasional pengelolaan ekosistem pesisir berbasis kolaborasi komunitas, pemerintah, dan mitra internasional.
Kolaborasi internasional yang ditawarkan Naoto Akune menunjukkan bahwa mangrove tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai fondasi ekonomi hijau berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Kepulauan Riau.(***)
Editor Syaiful





