Suarasiber.com (Tanjungpinang) – Sister city (atau kota kembar) adalah bentuk kerja sama antar dua kota dari negara yang berbeda, yang biasanya dilakukan untuk mempererat hubungan budaya, ekonomi, pendidikan, pariwisata, dan bahkan pembangunan kota. Hubungan ini bersifat formal dan biasanya ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama oleh pemerintah kota masing-masing.
Konsep ini bisa melibatkan berbagai kegiatan, seperti:
- Pertukaran pelajar,
- Pameran budaya,
- Investasi bersama,
- Kolaborasi pengelolaan kota.
Siapa Pencetus Sister City?
Gagasan sister city pertama kali dipopulerkan oleh Presiden Dwight D. Eisenhower (Amerika Serikat) pada tahun 1956 lewat program bernama People-to-People Program.
Tujuannya waktu itu adalah untuk membangun perdamaian dan pengertian antarwarga di berbagai negara, terutama setelah Perang Dunia II, dengan pendekatan hubungan kota-ke-kota.
Manfaat Sister City
- Peningkatan Ekonomi Lokal
- Membuka peluang kerja sama bisnis dan investasi antar dua kota.
- Transfer Ilmu dan Teknologi
- Kota bisa saling belajar dalam pengelolaan transportasi, sanitasi, pengelolaan sampah, smart city, dll.
- Promosi Budaya dan Pariwisata
- Pertukaran budaya meningkatkan daya tarik wisata dan pemahaman antarbudaya.
- Pengembangan Pendidikan
- Pertukaran pelajar dan riset antar universitas atau sekolah di kedua kota.
- Kolaborasi Tata Kota
Kota bisa saling sharing pengalaman dalam merancang kebijakan atau pembangunan berkelanjutan.
Pendapat Ahli Tata Kota
Menurut Kevin Lynch, seorang arsitek dan perencana kota terkenal, kolaborasi lintas kota seperti sister city membantu dalam:
“Membangun identitas kota yang kuat melalui interaksi budaya, penataan ruang publik yang adaptif, dan pertukaran gagasan mengenai desain kota.”
Ahli tata kota modern juga melihat sister city sebagai bagian dari konsep “Global Urban Network”, di mana kota-kota tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tapi menjadi bagian dari jejaring global yang mempercepat pertumbuhan dan inovasi.
Sister city adalah strategi hubungan antar kota di negara berbeda, yang bertujuan mendorong pertumbuhan, kerja sama, dan pemahaman antarbudaya, dengan manfaat langsung untuk masyarakat dan pemerintah. Di era globalisasi, hubungan semacam ini membantu mempercepat pertukaran inovasi dan menjawab tantangan urban yang makin kompleks. (***/sya)
Editor Yusfreyendi





