Suarasiber.com (Tanjungpinang) Berbagai negara telah menerapkan teknik dan strategi untuk menangani banjir berdasarkan kondisi geografis dan kebutuhan spesifik mereka. Berikut beberapa teknik yang telah diterapkan, pelopornya, serta kelebihan dan kelemahannya:
- Tanggul dan Bendungan
Pelopor: Belanda, Tiongkok, Amerika Serikat
Contoh:
Delta Works (Belanda) – Sistem tanggul dan bendungan canggih untuk mencegah banjir laut.
Three Gorges Dam (Tiongkok) – Bendungan raksasa di Sungai Yangtze yang mengontrol banjir dan menghasilkan listrik.
Kelebihan:
Melindungi daerah perkotaan dari banjir besar.
Bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air.
Kelemahan:
Biaya pembangunan dan perawatan sangat tinggi.
Dapat mengganggu ekosistem alami sungai dan laut.
- Kota Terapung dan Rumah Anti-Banjir
Pelopor: Belanda, Thailand
Contoh:
Kota Terapung di Maasbommel, Belanda – Menggunakan rumah apung yang bisa naik saat air meningkat.
Rumah panggung di Thailand – Digunakan oleh masyarakat di daerah rawa dan sungai.
Kelebihan:
Adaptif terhadap perubahan iklim dan ketinggian air.
Tidak menghalangi aliran air alami.
Kelemahan:
Tidak cocok untuk semua wilayah perkotaan.
Biaya konstruksi tinggi untuk rumah apung modern.
- Terowongan Pengendali Banjir
Pelopor: Jepang, Malaysia
Contoh:
Terowongan G-Cans (Tokyo, Jepang) – Sistem drainase bawah tanah raksasa untuk mengalirkan air hujan.
SMART Tunnel (Kuala Lumpur, Malaysia) – Terowongan multi-fungsi yang berfungsi sebagai jalan tol sekaligus saluran banjir.
Kelebihan:
Efektif dalam mengurangi banjir perkotaan.
Mengoptimalkan penggunaan ruang bawah tanah.
Kelemahan:
Biaya pembangunan sangat mahal.
Memerlukan perawatan intensif agar tetap efektif.
- Sistem Kanal dan Sungai Buatan
Pelopor: Jepang, Tiongkok, Inggris
Contoh:
Great Jakarta Flood Canal (Indonesia) – Kanal buatan untuk mengalirkan air banjir ke laut.
Flood Barrier Thames (Inggris) – Pintu air raksasa yang mengontrol pasang surut air Sungai Thames.
Kelebihan:
Efektif untuk mengalihkan air banjir dari daerah berpenduduk.
Bisa digunakan untuk irigasi atau transportasi air.
Kelemahan:
Memerlukan perencanaan jangka panjang.
Bisa terjadi sedimentasi yang mengurangi efektivitasnya.
- Hutan dan Ruang Hijau sebagai Penyerap Air
Pelopor: Amerika Serikat, Jerman, Jepang
Contoh:
Green Infrastructure (New York, AS) – Menggunakan taman kota dan area hijau untuk menyerap air hujan.
Forest City (Cina) – Kota yang dipenuhi tanaman untuk menyerap air dan mengurangi banjir.
Kelebihan:
Ramah lingkungan dan mendukung keseimbangan ekosistem.
Mengurangi efek pemanasan global dan polusi udara.
Kelemahan:
Membutuhkan lahan luas yang mungkin sulit di kota besar.
Efeknya lebih jangka panjang, tidak langsung mencegah banjir besar.
Setiap teknik memiliki keunggulan dan kelemahannya, dan banyak negara kini mulai mengombinasikan beberapa strategi agar lebih efektif dalam menghadapi banjir. (***)
Editor Yusfreyendi





