Suarasiber.com – Ady Indra Pawennari menggelar rapat pertamanya sebagai Ketua Keluarga Sulawesi Selatan Kepulauan Riau (KKSS Kepri) di Hotel Laguna Tanjungpinang, Minggu 14 Juli 2024 pagi.
Rapat ini merupakan janjinya usai dilantik Sabtu (13/7/2024) di Laman Tugu Sirih Tepi Laut Tanjungpinang. Bahwa ia akan bergerak cepat dengan mengadakan Rakerwil.
Seluruh pengurus BPW KKSS Kepri hadir dalam rapat ini. Pembahasan yang dilakukan menyangkut sejumlah hal.
Dalam sambutannya, Ady mengatakan program kepengurusannya akan menitikberatkan kegiatan sosial dan budaya. Salah satunya ialah soal Tudang Sipulung.
Kegiatan sosial digarisbahahinya, bukan hanya untuk warga Sulawesi Selatan, melainkan juga masyarakat Kepri secara luas.
Khusus tudang sipulang, Ady menginginkan dilaksanakan beberapa kali setahun.
“Saya minta ada beberapa kali setahun. Agar bisa kita persiapkan, agar bisa terlaksana,” tambahnya, dikutip dari radarkepri.com.
Mengutip sejumlah sumber, tudang sipulung adalah sebuah tradisi budaya yang unik dan penting di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar.
Istilah “tudang sipulung” berasal dari kata “tudang” yang berarti “penutup” atau “perlindungan” dan “sipulung” yang berarti “berkumpul” atau “bersama-sama”. Secara harfiah, tudang sipulung dapat diterjemahkan sebagai “berkumpul di bawah satu penutup” atau “berkumpul bersama”.
Sejarah Tudang Sipulung
Asal Usul: Tradisi tudang sipulung diyakini telah ada sejak berabad-abad lalu di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar. Tradisi ini bermula sebagai sebuah cara untuk menyatukan masyarakat dalam memecahkan berbagai masalah dan mengambil keputusan bersama.
Kegiatan ini sering kali dilakukan di balai desa atau tempat pertemuan lain yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Fungsi Sosial: Tudang sipulung berfungsi sebagai wadah komunikasi yang sangat efektif di antara anggota masyarakat. Dalam acara ini, para tetua adat, pemimpin masyarakat, dan warga biasa dapat berkumpul untuk mendiskusikan berbagai isu penting seperti masalah sosial, ekonomi, dan politik.
Diskusi ini dilakukan dengan cara yang terbuka dan demokratis, di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.
Ritual dan Simbolisme: Tudang sipulung biasanya diiringi oleh berbagai ritual dan simbolisme yang kuat. Salah satu aspek penting dari acara ini adalah penggunaan payung besar (tudung) sebagai simbol perlindungan dan persatuan.
Payung ini melambangkan semangat gotong royong dan kebersamaan di antara masyarakat. Selain itu, ada juga penggunaan berbagai alat musik tradisional seperti gendang dan gong untuk mengiringi acara ini.
Peran dalam Pelestarian Budaya: Tudang sipulung memainkan peran penting dalam pelestarian nilai-nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Bugis dan Makassar. Melalui acara ini, generasi muda dapat belajar tentang tradisi dan nilai-nilai luhur dari para tetua adat. Ini juga merupakan cara untuk memperkuat identitas budaya dan mempererat hubungan antar anggota masyarakat.
Perkembangan dan Adaptasi
Seiring berjalannya waktu, tudang sipulung mengalami berbagai perubahan dan adaptasi. Di era modern, tradisi ini masih dipertahankan oleh banyak komunitas di Sulawesi Selatan, meskipun dengan beberapa penyesuaian agar sesuai dengan konteks zaman sekarang.
Acara tudang sipulung kini sering kali diselenggarakan dalam bentuk yang lebih informal, seperti pertemuan di rumah-rumah warga atau di aula pertemuan.
Namun, esensi dari tudung sipulung tetap sama, yaitu sebagai sebuah forum untuk membangun kebersamaan, mendiskusikan masalah-masalah bersama, dan mengambil keputusan secara kolektif.
Tradisi ini terus menjadi simbol kekuatan persatuan dan solidaritas di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar.
Tudang sipulung adalah salah satu warisan budaya yang sangat berharga dari Sulawesi Selatan. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan kebijaksanaan dan kearifan lokal masyarakat Bugis dan Makassar, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, masyarakat Sulawesi Selatan dapat terus mempertahankan identitas budaya mereka dan memperkuat ikatan sosial di antara mereka. (***/syaiful)
Editor Yusfreyendi





