Kamis, 4 Juni 2026

Scylla Serrata, Si Kepiting Bakau yang Harus Dilindungi

Tayang:


Scylla Serrata atau yang juga dikenal sebagai kepiting-bakau besar adalah sejenis kepiting bakau yang menyebar luas mulai dari pantai-pantai Asia Timur, Tenggara, Selatan, hingga ke Laut Merah. Spesies ini tidak didapati di perairan Dangkalan Sunda.

Ia termasuk Famili Portunidae, kelas Malacostraca, Filum Arthropoda, Kingdom Animalia serta Spesies S Serrata.

Untuk mengetahui apakah kepiting itu kepiting bakau atau tidak, ada beberapa cirinya yang bisa dikenali. Diantaranya ia memiliki warna karapas coklat merah seperti karat. Bentuk alur “H” pada karapas tidak dalam. Tidak memiliki sumber pigmen Polygonal.


Bentuk duri depan tumpul dan bentuk duri pada “fingerjoint” tidak ada dan berubah menjadi vestigial. Bentuk rambut atau setae hanya terdapat pada hepatic area saja Estampador (1949a) dalam: Siahainenia, 2008.

Habitat: hampir di semua perairan pantai terutama yang ditumbuhi mangrove, perairan dangkal dekat hutan mangrove, estuari dan pantai berlumpur (Moosa, et al., 1985); daerah pasang surut yang berubungan dengan daerah estuari (pesisir), rawa-rawa bakau (payau), muara kawasan mangrove dan bahkan di air tawar serta di bagian yang terlindung dari garis pantai pesisir (Hyland et al., 1984).

Spesies ini tinggal di lubang yang digali di dasar berlumpur atau berpasir lumpur, terutama di saat moulting (ganti kulit) hingga karapasnya mengeras. Penyebaran: mempunyai sebaran yang sangat luas dan didapatkan hampir di seluruh perairan Indonesia (Pratiwi, 2011).

Banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dijual di restoran-restoran sea food dengan harga tinggi. Untuk kepiting soka (kepiting yang baru molting, berukuran kecil dan berkulit lunak), harganya lebih mahal dari kepiting bertelur.

Untuk itu perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pembatasan pengambilan. Rata-rata pertumbuhan produksi kepiting bakau di beberapa provinsi penghasil utama mengalami penurunan dan cenderung lambat diantaranya Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Riau.

Di daerah Maluku Tengah, seperti Teluk Pelita Jaya, Seram Barat juga mengalami penurunan (hasil tangkapan dan ukuran juga kecil), karena kemungkinan adanya degradasi lingkungan dan tangkap lebih (over exploitation) (Siahainenia, 2008, Pratiwi, 2011).

Mengingat pentingnya nilai manfaat ekologi maupun ekonomi yang dimiliki komoditas kepiting bakau, maka masalah penurunan produksi kepiting bakau di alam harus segera diatasi dengan melakukan upaya-upaya pengelolaan, baik melalui tindakan konservasi bagi populasi yang masih stabil, maupun melalui tindakan rehabilitasi (restocking) bagi populasi yang sudah tidak stabil dan perlindungan spesies. ***

Penulis Febri Arianto Putra
NIM: 170254241014, Jurusan : Ilmu Kelautan, Fakultas: Ilmu Kelautan dan Perikanan (Universitas Maritim Raja Ali Haji)

Loading...

BAGIKAN BERITA INI

spot_img

Update

spot_img

BACA JUGA
Berita lainnya

Ketika Lapangan Kerja tak Sejalan dengan Lulusan Kampus

Suarasiber.com - Tiap tahunnya, ribuan orang melempar toga ke...

Menolak Lupa: Menghidupkan Marwah Perjuangan BP3KR di Tangan Generasi Muda

Raja Hardiansyah (Pengurus Generasi Muda GMBP3KR Propinsi Kepri)

Menakar Suara Akar Rumput: Mengapa Mayoritas Warga Tanjungpinang Menolak Perwako Nomor 34 Tahun 2025?

Muhammad Syahrial/Pemerhati Kebijakan Publik Kota Tanjungpinang

Perpres 55 Tahun 2022: Kewenangan di Bidang Pertambangan Tidak Dapat Disubdelegasikan ke Bupati/Walikota

Dalam tata kelola pertambangan, satu hal yang tidak boleh...