Kamis, 4 Juni 2026

Dibangun Portugis 400 Tahun Lalu, Rutan Tanjungpinang Masih Tak Mempan Serangan Tikus dan Rayap

Tayang:


TANJUNGPINANG (suarasiber) – Bangunan Rutan Tanjungpinang di Jalan Pemasyarakatan (dulu Jalan Penjara), menjadi saksi tuanya peradaban di Tanjungpinang.

Rutan ini awalnya dibangun kolonialis Portugis. Tapi baru bisa diselesaikan oleh kolonialis Belanda. Ada selang waktu sekitar 300 tahun sejak dimulai Portugis hingga diselesaikan Belanda.

Karena, Portugis menyerbu Bentan (Bintan) sekitar tahun 1526, setelah lebih dulu melantak Kerajaan Melaka sekitar tahun 1511.


Sedangkan Belanda baru berkuasa penuh di Tanjungpinang sekitar tahun 1787. Sebelum ke Tanjungpinang, Belanda menaklukkan Portugis di Malaka sekitar tahun 1641.

“Belanda yang menyelesaikan penjara yang awalnya dibangun Portugis itu sekitar tahun 1867,” kata Kepala Rutan Tanjungpinang Fonika Efendi menjawab suarasiber.com di sela konferensi pers penangkapan kembali Amizar.

Jika dihitung sejak selesai dibangun Belanda itu, berarti usia penjara yang luasnya sekitar 6.000-an meter persegi itu sudah sekitar 152 tahun.

Tapi jika dhitung sejak dimulai Portugis, usia penjara itu bisa sekitar 400 tahun!

Beda dengan bangunan masa kini di Ibu Kota Kepri, meski sudah sangat uzur, bahkan kuno. Namun, penjara yang kini disebut rumah tahanan itu masih tetap kukuh.

Baca Juga :

Nexen: Pemusnahan Mikol Bukan Tanggung Jawab Kami

Sst… Ditemukan Miras Impor dari Kafe di Jemaja, Anambas

Sempena HPN 2019, PWI Kepri Gelar Bakti Sosial

Anggota Bawaslu Kota Batam Diberhentikan!

Hantam Truk, Pegawai Imigrasi Tanjunguban Dilarikan ke Rumah Sakit

Apalagi temboknya memang tebal. Kusen dari kayu kualitas terbaik juga tebal-tebal. Tak mempan dimakan rayap. Apalagi, tikus. Sebaliknya, justru jadi tempat mengurung “tikus berdasi”.

Salah seorang tahanan narkoba, Amizar memang sempat kabur, 22 Desember 2018 lalu dari Rutan buatan Portugis, dan Belanda itu.

Namun, bukan karena menjebol tembok yang rapuh atau mencongkel kayunya yang lapuk karena usianya sudah sangat tua. Temboknya masih sangat kukuh. Kayunya juga masih sekeras besi.

Amizar yang ditangkap lagi itu, bisa kabur dengan melompati pagar, karena lihai membaca situasi, dan memanfaatkannya.

Dia kabur, juga bukan karena takut dengan cerita gaib yang bikin bulu kuduk merinding di penjara itu.

Maklum saja, dalam rentang waktu ratusan tahun, penjara kuno ini sudah digunakan oleh minimal 4 bangsa, Portugis, Belanda, Jepang, dan Indonesia.

Di masa kolonial hingga Jepang, lokasi di sekitar penjara ini disebut-sebut digunakan untuk membantai tawanan. Selain lokasi di tepi laut Tanjungpinang.

Hingga era milenial ini, penjara buatan Portugis, dan Belanda masih kokoh. Dan, dipastikan masih akan tetap berfungsi. Sebagaimana peran yang sudah dijalaninya selama ratusan tahun.

Saat ini penjara tersebut, bahkan sudah dilengkapi fasilitas modern seperti closed circuit television (CCTv).

Kamera CCTv itu sekaligus memastikan fungsi penjara itu akan terus dijalani. Sampai kapan? Paling tidak sampai pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, mampu membangun penjara baru di Tanjungpinang. (mat)

Loading...

BAGIKAN BERITA INI

spot_img

Update

spot_img

BACA JUGA
Berita lainnya

Banyak Orang Masuk Sauna untuk Berkeringat, Teknologi Ini Diklaim Beri Manfaat Lebih dari Sekadar Relaksasi

Pengelola dan tim Biohacking Sauna Zetta Wellness berfoto di depan lokasi layanan sauna kesehatan berbasis teknologi di Kompleks Pertokoan Bintan Centre, Tanjungpinang, Selasa (2/6/2026). Foto - Suarasiber.com/sya.

Pot Bunga dan Bak Mandi Semen Tanjungpinang Makin Diburu, Berawal dari Belajar YouTube Kini Jadi Sumber Penghasilan

Pot bunga hias minimalis menghiasi pekarangan rumah modern, memberikan sentuhan estetika sekaligus mempercantik lanskap hunian,Selasa(2/6/2026). Foto - Istimewa

Wali Kota Lis Saksikan Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden RI Seberat 1,04 Ton di Tanjungpinang

Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, bersama tokoh agama dan masyarakat menyaksikan penyembelihan sapi kurban bantuan Presiden RI seberat 1,04 ton di Masjid At-Taubah, Tanjungpinang, Rabu (27/5/2026). Foto - Diskominfo Tanjungpinang

Tak Hanya Duta Bahasa Kepri, Mahasiswa UMRAH Andi Ampa Djaya Raih Juara Film Pendek Internasional

Andi Ampa Djaya, mahasiswa FKIP UMRAH, menunjukkan trofi dan sertifikat Juara I lomba berbalas pantun tingkat nasional di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 2026. Foto - KJK Kepri