free page hit counter

Teluk Bakau Simpan Beragam Biota Laut yang Hampir Punah

Loading...

Laut di Perairan Pulau Bintan bisa dikatakan masih baik dan terjaga. Tak salah jika perairan ini ditunjuk sebagai daerah Konservasi Padang Lamun.

Di Indonesia terdapat 13 jenis lamun, 11 diantaranya terdapat di Perairan Pulau Bintan. Diantaranya enhallus acoroides, cymodocea rotundata, cymodocea serrullata, halodule pinifolia, halodule uninervis, halophila minor, halophila ovalis, halophila spinulosa, syringodium isoetifolium, thallasia hemprichi dan thalassodendron ciliatum.

Pemerintah Kabupaten Bintan telah menetapkan beberapa daerah di Pulau Bintan sebagai daerah perlindungan padang lamun. Yaitu Teluk Bakau, Desa Malang Rapat, Teluk Sebong dan Tanjung Berakit.

Tak heran jika di kawasan tersebut banyak ditemukan biota yang berasosiasi dengan padang lamun. Bahkan biota-biota yang hampir punah pun masih bisa ditemukan di sini.

Beberapa biota laut yang hampir punah diantaranya dugong, penyu, hiu, napoleon, pesut, lumba-lumba, lobster, kuda laut, siput lola dan kima. Spesies tersebut dijaga dan dilindungi oleh DKP Kabupaten Bintan serta instansi terkait lain.

Penulis telah mewawancara Bapak Ade Sato, nelayan Teluk Bakau tepatnya di Kampung Mengkurus, RT 001 RW 001. ia masih menggunakan alat tembak untuk mencari ikan. Ia harus menyelam untuk meggunakan peralatannya tersebut.

Bapak Ade sudah belasan tahun menjalani hidup sebagai nelayan tradisional. Pengakuannya, selama menyalam ia kerap melihat biota-biota yang hampir punah.

“Saya pernah melihat penyu, hiu, lobster, lola, kima, teripang, kuda laut, lumba-lumba dan ikan napoleon,” aku, Senin, 2 Desember lalu.

Warga Teluk Bakau memang ada yang mencari teripang dan kuda laut duntuk dijual di penampungan yang ada di wilayah ini juga.

Namun demikian, pemerintah menetapkan aturan hanya kuda laut dan teripang berukuran besar yang bisa diambil. Sementara untuk penangkapan kima, biasanya untuk dikonsumsi sendiri.

Penangkapan kima sebenarnya dilarang. Sayangnya beberapa nelayan mengambilnya sehingga yang lainnya ikut-ikutan.

Hal ini juga diakui oleh Pak Ade. Bahkan sesekali nelayan pun menangkap biota yang sudah hampir punah.

Dari keterangan tersebut, penulis bisa menyimpulkan masih kurangnya kesadaran nelayan di Teluk Bakau terhadap biota laut yang hampir punah.

Kita sebagai masyarakat memiliki tugas turut menjaga dan melindungi biota-biota tersebut agar selalu tetap terjaga kelestarianya. Salah satu caranya ialah tidak merusak habitat tempat tinggalnya sehingga anak cucuk kita kelak masih bisa melihatnya. Bukan sekadar mendengar cerita.

Penulis Nurasihkin
Mahasiswa UMRAH di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Jurusan Ilmu Kelautan

Loading...