Suarasiber.com (London) – Pionir trip-hop asal Inggris, Massive Attack, resmi bergabung dengan ratusan musisi dunia dalam kampanye boikot budaya terhadap Israel akibat konflik yang terjadi di Gaza.
Grup dengan hampir delapan juta pendengar bulanan di Spotify itu membuat pernyataan pada Kamis (19/9/2025), menyebut telah meminta label rekaman Universal Music untuk menghapus seluruh katalog musik mereka dari layanan streaming di Israel.
Langkah ini merupakan bagian dari gerakan baru No Music for Genocide, sebuah kolektif musisi yang terinspirasi dari kelompok Film Workers for Palestine di industri film dan televisi. Menurut situs resminya, lebih dari 400 artis dan label kini sudah ikut memblokir atau menghapus musik mereka secara geografis di Israel sebagai bentuk protes terhadap kekerasan di Gaza.
Boikot Spotify Terkait Investasi Militer
Selain memblokir distribusi musik di Israel, Massive Attack juga meminta Universal untuk menarik karya mereka dari Spotify.
Alasannya, CEO Spotify Daniel Ek diketahui berinvestasi besar pada Helsing, perusahaan teknologi pertahanan dan drone militer Eropa. Pada Juni 2025, Ek memimpin konsorsium investor yang menyuntikkan dana sebesar 600 juta euro ke perusahaan tersebut.
Massive Attack yang dikenal sebagai kelompok anti-perang mengkritik hubungan itu dengan menyebut bahwa “uang para penggemar dan karya kreatif musisi justru mendanai teknologi distopia yang mematikan.”
Massive Attack menyinggung boikot budaya terhadap Afrika Selatan pada era apartheid sebagai inspirasi gerakan mereka. Grup ini menyebut keterlibatan dengan Israel “tidak dapat diterima.”
Sebelumnya, setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, banyak label rekaman besar seperti Sony, Universal, dan Warner juga menghentikan operasi di Rusia dan menarik sejumlah artis pro-perang dari platform streaming. Spotify bahkan menutup kantornya di Moskow.
Konser Solidaritas untuk Palestina
Massive Attack juga ikut tampil dalam konser amal bertajuk “Together for Palestine” di London pada Rabu malam (18/9/2025). Acara tersebut menghadirkan musisi papan atas Inggris seperti Bastille, Brian Eno, dan DJ Jamie xx.
Di tengah minimnya sanksi ekonomi internasional terhadap Israel, semakin banyak musisi, aktor, dan penulis dunia yang menggunakan suara mereka untuk menekan pemerintah Barat agar mengambil langkah nyata terkait situasi di Gaza.
Dilihat dari Instagram mereka, @massiveattackofficial pada Senin (29/11/2025), grup ini beberapa kali mengunggah postingan soal solidaritas untuk Palestina. Seperti pada 18 September, 20 Agustus, 4 Agustus dan 19 Juli 2025. (***/sya)
Editor Yusfreyendi





