Di bibir samudra yang luas ombak menimang sejarah yang tua menyanyikan kembali nama-nama yang pernah jaya seperti rahasia yang tersimpan di bawah karang.
Di tiap pulau terhampar doa dan perjanjian laut di setiap teluk terpantul jejak kaki perantau dan pelaut dan angin selatan menyisir rambut pohon-pohon kelapa sambil menyebut pelan nama-nama kerajaan dan kampung nelayan.
23 Tahun sudah engkau lahir dari nyanyian nelayan dan kidung kerajaan yang samar di cakrawala dari debur ombak yang menelan senja dan nyala lampu-lampu perahu yang setia mengapung di malam hari.
Lautmu bukan sekadar biru melainkan kitab terbuka yang menampung jejak manusia setiap riaknya seperti aksara tak selesai yang ditulis ulang oleh badai dan doa.
Pada hari jadi ini aku mendengar suara jangkar kuno dan layar yang bergetar seperti suara para perantau yang pulang membawa harum cengkih, lada, dan kisah-kisah perlawanan, membawa rindu yang tak pernah lekangdan nama-nama leluhur yang tetap mengalir di nadi anak cucu.
Di antara riak-riak ada bahasa Melayu yang lembut dan tabah, ada adat yang terajut di tikar-tikar rumah panggung ada pantun yang lahir dari lidah rakyat dan doa yang disulam pada setiap anyaman ada tangan-tangan yang sabar menjahit budaya agar tidak lepas dari tubuhmu sendiri meski zaman kerap menarik-nariknya.
Namun kini di sela-sela ombak wisata dan gedung baru aku dengar pantun jadi pajangan tanyak jadi cenderamata bahasa ibu dipotong-potong jadi slogan dan anak-anakmu tersenyum asing di depan rumah kebudayaan mereka sendiri.
Wahai kepulauan di ujung peta kau bukan sekadar garis di atas atau latar belakang cerita wisata, kau denyut laut, kau napas angin, kau api sejarah yang menghidupi seluruh garis pantai Nusantara.
Semoga engkau tak sekadar dikenang dalam wacana melainkan dijaga seperti laut menjaga karang seperti angin menjaga layar perahu kecil di tengah badai seperti ibu menjaga anaknya dari lupa.
Selamat 23 Tahun Negriku semoga sejarah dan masa depan berjumpa di dermaga semoga anak-anakmu tak lagi menjadi tamu di rumah kebudayaan mereka sendiri tetapi menjadi tuan rumah yang gagah menyambut zaman dengan jati diri yang tak lapuk ditelan ombak. (*)
(*) Zainal S.Sos, Praktisi Budaya





