MASJID Agung Al Hikmah Tanjungpinang, yang awalnya dikenal sebagai Masjid Keling, lahir dari jejak diaspora India yang singgah dan meleburkan diri dalam denyut kehidupan di Tanjungpinang di abad ke-19.
Dibangun sekitar tahun 1850-an, masjid itu mula-mula berbentuk panggung mengikuti tradisi lokal pada masa itu dan dibuat dari kayu kapur atau kayu merah.
Nama “Masjid Keling” melekat karena para perantau India (dulu disebut orang Keling) yang merintis pembangunannya pada pertengahan abad ke-19.
Hampir seabad kemudian, masjid kayu itu dipugar. Tahun 1956 menjadi titik balik, ketika masyarakat sepakat mengubahnya menjadi bangunan permanen.
Pemugaran ini dipimpin seorang ulama besar keturunan Bugis di Tanjungpinang, almarhum Ustadz H Abu Bakar bin Ali (1911-1981).
Tapi yang membuatnya bersejarah bukan hanya sosok pemimpinnya, melainkan cara masjid itu dibangun: dengan gotong royong (hingga sekarang pun masjid ini dirawat dengan gotong royong).
Orang tua menyumbang tenaga, para pedagang mengulurkan biaya, dan para pelajar ikut merelakan uang sakunya demi rumah ibadah yang mereka banggakan.
Sulit membayangkan hal serupa di masa sekarang, ketika pelajar lebih akrab dengan gawai dan media sosial ketimbang kerja bakti memikul pasir.
Dan, di situlah letak nilai sejarah ini: generasi muda masa 1950-an sudah menanamkan teladan bahwa berkarya dan berkorban untuk masyarakat adalah bagian dari identitas mereka.
Kisah ini membuat Masjid Agung Al Hikmah berbeda. Ia bukan hasil proyek besar pemerintah, bukan pula warisan tunggal satu etnis.
Ia lahir dari pertemuan banyak tangan: perantau India yang memulai, ulama Bugis yang memimpin pemugaran, masyarakat Melayu yang bergotong royong, dan pelajar yang dengan polos tapi tulus ikut berkorban.
Kini masjid itu berdiri megah di jantung Tanjungpinang. Namun lebih dari sekadar bangunan, ia menyimpan pesan sejarah: Tanjungpinang adalah kota yang dibangun atas dasar kebersamaan.
Sebuah kota yang lahir dari semangat diaspora, gotong royong, dan lintas generasi.
Merawat Masjid Agung Al Hikmah berarti merawat ingatan. Ingatan bahwa nilai terbesar dari sebuah bangunan bukan terletak pada kokohnya dinding, melainkan pada semangat kebersamaan yang melahirkan dan menjaganya.
Kalau para pelajar tahun 1956 mampu meninggalkan jejak dengan memikul pasir dan menyisihkan uang sakunya, maka apa alasan kita hari ini untuk tidak berkarya lebih baik demi masa depan kota ini?
Masjid Agung Al Hikmah bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah cermin kebersamaan lintas etnis dan lintas zaman.
Inilah warisan yang seharusnya tak hanya dikenang, tetapi juga diteladani. Sebab, kota yang besar selalu berdiri di atas karya besar para pendahulunya.
Tulisan singkat ini dibuat dari rangkuman wawancara beberapa narasumber antara lain sejarahwan Kepulauan Riau, Aswandi Syahri, H M Kasim AB pengurus Masjid Agung Al Hikmah dan sejumlah sumber lainnya. (*)
(*) Sigit Rachmat, wartawan utama di Tanjungpinang





