Suarasiber.com (Lingga) – Di sudut selatan Kepulauan Riau, tersembunyi sebuah pulau kecil yang menyimpan warisan sejarah panjang dan jejak budaya maritim yang kaya: Pulau Pekajang. Meski kini tak setenar destinasi wisata modern, pulau ini menjadi saksi bisu hubungan erat antara Kesultanan Riau-Lingga dengan penjajahan kolonial Belanda, serta tradisi leluhur yang tetap hidup hingga hari ini.
Menurut Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dedi Arman, Pulau Pekajang tercatat dalam perjanjian antara Pemerintah VOC/Hindia Belanda dengan Kesultanan Riau pada tahun 1748 hingga 1909. Keberadaan pulau ini sebagai bagian dari wilayah Kerajaan Lingga-Riau diperkuat melalui sejumlah dokumen resmi dan peta lama peninggalan kolonial.
“Dalam peta Riaow en Lingga Archipel dan Residentie Riouw En Onderhoorigheden Blad: 1 tahun 1922, Pulau Tujuh atau Pekajang jelas digambarkan berada di bawah Pulau Singkep,” terang Dedi, Kamis (19/6/2025).
Dari ‘Kajang’ Menjadi Pekajang
Nama “Pekajang” sendiri menyimpan kisah unik yang merefleksikan kehidupan masyarakat bahari. Konon, saat masyarakat dari Daik, Lingga hendak menyeberang ke pulau tersebut, mereka menempuh perjalanan laut berhari-hari dengan perahu yang beratap kajang — tikar anyaman dari daun nipah.
Lambat laun, perjalanan yang disebut sebagai “berkajang” itulah yang membentuk istilah “Pekajang”.
Tak hanya satu nama, pulau ini juga dikenal dengan sebutan Cebia — berasal dari nama kapal Belanda yang sempat terdampar di sana. Namun di peta Belanda, pulau ini dicatat sebagai bagian dari Pulau Tujuh, mengacu pada gugusan tujuh pulau yang membentuk kelompoknya.
Kepemimpinan Tradisional dan Warisan Pusaka
Pada masa Kesultanan Riau-Lingga, Pulau Pekajang dipimpin oleh seorang tokoh adat bernama Encek Diah, yang diangkat langsung oleh Sultan. Ia menerima pusaka kehormatan berupa pedang berkepala naga dan sepasang tombak berambu, simbol legitimasi dan kepercayaan.
“Pusaka ini masih ada dan dijaga oleh keturunan Encek hingga hari ini di pulau tersebut,” ungkap Dedi.
Dari Batin ke Kepala Desa: Jejak Pemerintahan Lokal
Setelah Indonesia merdeka, Pulau Pekajang menjadi desa definitif dalam wilayah Kecamatan Lingga. Sistem kepemimpinan kala itu masih disebut sebagai kebatinan, dengan pemimpin adat bernama batin.
Beberapa nama yang pernah memimpin sebagai batin di Pekajang antara lain:
- Encik Idris (1945 – 1 Desember 1953)
- Dul Ali (1953 – 1964)
- Dul Said (1964 – 1975)
Setelahnya, kepemimpinan beralih ke kepala desa, dimulai oleh Bujang Ayub (1975 – 1999), disusul oleh sejumlah pejabat sementara (Pjs) seperti Amin Komeng, Siman, hingga Abdul Sadar.
Simbol Identitas dan Kedaulatan Daerah
Pulau Pekajang bukan sekadar gugusan daratan di tengah laut. Ia adalah bagian dari identitas historis masyarakat Melayu pesisir. Ia adalah saksi zaman, dari layar perahu beratap kajang hingga tinta perjanjian kolonial. Dan hingga kini, namanya tetap hidup dalam setiap cerita yang dituturkan turun-temurun.
Dengan latar sejarah yang kuat, Pulau Pekajang menjadi salah satu penanda penting dalam peta kebudayaan dan geopolitik Kepulauan Riau. Sebuah pulau kecil yang menyimpan sejarah besar. (disadur dari kepriprov.go.id)
Editor Yusfreyendi





