Suarasiber.com (Batam) – Risdianto, warga asal Mesuji, Lampung, yang sekian lama hidup sebatang kara di Batam kini tengah sakit. Ia dirawat di RSUD Embung Fatimah Batam, menunggu operasi ke-3 usus buntunya.
Mengapa sampai tidak ada komunikasi sama sekali dengan keluarganya di kampung, bahkan dianggap sudah meninggal, Risdianto mengisahkannya untuk pembaca suarasiber.com.
Menurutnya, putusnya komunikasi itu setelah dirinya menceraikan istrinya pada tahun 2015. Kala itu ia sedang merantau ke Malaysia. Tanpa menceritakan penyebab perceraian, Risdianto hanya mengakui jika dirinya menceraikan istrinya hanya melalui telepon via WhatsApp.
Tak berselang lama, ia pun merantau ke Batam. Nyaris tak ada lagi komunikasi dengan mantan istrinya. Sejak saat itulah Risdianto hidup sebatang kara di Batam, pekerjaannya tidak tetap. Tempat tinggalnya hanya kamar kos.
“Awalnya saya merantau ke Malaysia awal tahun 2015. Tak berapa lama di Malaysia, saya merantau ke Batam kira – kira akhir tahun 2015,” ungkapnya, kemarin.
Sebelum merantau ke Malaysia, Risdianto tinggal bersama istrinya di Jaya Sakti, RT 004 / RW 003, Desa Jaya Sakti, Kecamatan Simpang Pematang, Mesuji, Lampung.

Putusnya komunikasi serta tak adanya alat komunikasi diduga menjadi penyebab keluarga di kampung menganggapnya sudah meninggal. Apalagi Risdianto juga tak pernah pulang kampung.
Saat dibawa ke RSUD Embung Fatimah oleh Pelopor Pergerakan Pewarta Publik – Wajah Bangsa ( P4WB ) di bawah kepemimpinan Akhirudinsyah Purba dan Kiki sebagai penggerak sosialnya, Risdianto tidak mengantongi identitas apapun.
Risdianto di bantu oleh Pemerintah Kota Batam lewat RSUD – EF dan juga Dinas Sosial dengan status masyarakat terlantar. (***/jas)
Editor Ady Indra P





