Jumat, 5 Juni 2026

Jering

Tayang:


firdaus-jeringPesing kamar mandi dibuatnya. Melolong-lolong menahan sakit payah kencing dibuatnya. Berdarah-darah air kencing akibat luka tikaman kristal senyawa asam (Oksalat) yang dikandungnya. Tapi wangi pitih hasil penjualannya.

Berpinggan-pinggan nasi batambuah kala menikmatinya. Berderup-derup bunyi kunyahan keping biji yang masih muda.

Payah minta ampun menjatuhkannya dari tangkai singga sana tempatnya bergayut. Kelat-kelat sedap dan renyah kerupuknya.


Apalagi kalau bukan Jering alias Jengkol namanya.

Waktu ku kecil, orang sekampung menyebutnya Jering. Sebab itulah agak nama latinnya Archidendron jiringa. Tak pernah saya dengar kata Jengkol macam sekarang.

Bahasa Perancis sampai tak cukup kosa kata sehingga tetap memanggilnya Jengkol.

Tapi saya suka memanggilnya Jering karena lebih ringan mulut melafas vokal “i”, ketimbang “o”.

Kita banyak berhutang budi pada Ivan Christian Nielsen, Paleontologist dan Naturalist asal University of Copenhagen, Denmark yang pertama memberi nama itu; lahir 18 Februari 1946, meninggal tahun 2007 pada usia 61 tahun.

Manusia pemakan Jering memiliki 23 pasang kromosom (2n=46). Sebaliknya, jering yang dimakan manusia memiliki jumlah kromosom lebih kurang setenganya (2n=26).

Dia termasuk keluarga tumbuhan berpolong (berhantu?). Mungkin karena berhantu itulah, maka pohon Jering legendaris di simpang Jengkol Kota Duri kena tebang. Hilang ikon kota kaya minyak itu. Jadilah simpang bingung yang banyak menyusahkan dan menyesatkan orang memilih arah.

Yang dimaksud adalah Leguminosae, famili tumbuhan yang memiliki bintil akar hasil hubungan intim suka sama suka, saling menguntungkan kedua belah pihak antara bakteri dengan akar Jering.

Simbiosis mutualiasme itu membuat tanaman jering bisa menyemat Nitrogen (Pupuk N) made in ALLAH secara gratis dari udara bebas.

Jadi, tanpa diberi pupuk made in Manusia pun dia tetap akan sintas untuk menyelesaikan siklus kehidupannya dengan cemerlang, gemilang dan terbilang.

Kemampuan jelajah Jering boleh tahan. Asia Tenggara, Banglades, Myanmar, Thailand, Malaysia, lebih-lebih Indonesia adalah wilayah taklukan utamanya.

Dia dapat tumbuh dan beranak-pinak, mulai dari bantaran sungai, wilayah pegunungan (>1.600 dpl) sampai dalam hutan tropika lembab. Singkatnya, dimana biji tercampak, disitu benih berkecambah, lalu tumbuh berserak. Dimana ada lahan marginal, di situ Jering bisa tumbuh bugar.

Meski baunya (odour) menyengat lubang hidung, tapi Jering banyak berfaedah bagi kehidupan kita.
Dapat menyembuhkan kencing manis, gatal-gatal kulit, bahan pewarna. Abu daunnya bisa untuk menyembuhkan luka setelah bersunat (sirkumsisi), shampoo karena mengandung senyawa kimia saponin.

Kehidupan Jering secara ontologis memang sarat dengan misteri. Meski baunya pesing dan hancing, namun ramai orang suka. Lebih memilih jering ketimbang ayam gulai.

Pengulam buah Jering muda pun tak peduli kena sepit Jering, padahal nikmat membawa sengsara. Keuntungan berniaga Jering pun boleh tahan.

Adakah pertalian antara penyuka makan Jering dengan sifatnya yang kedekut macam tangkai jering itu? Secara genetis rasanya tidak. Wallahualam. ***

LN Firdaus
Pemerhati Sampah Kehidupan

Loading...

BAGIKAN BERITA INI

spot_img

Update

spot_img

BACA JUGA
Berita lainnya

Ketika Lapangan Kerja tak Sejalan dengan Lulusan Kampus

Suarasiber.com - Tiap tahunnya, ribuan orang melempar toga ke...

Menolak Lupa: Menghidupkan Marwah Perjuangan BP3KR di Tangan Generasi Muda

Raja Hardiansyah (Pengurus Generasi Muda GMBP3KR Propinsi Kepri)

Menakar Suara Akar Rumput: Mengapa Mayoritas Warga Tanjungpinang Menolak Perwako Nomor 34 Tahun 2025?

Muhammad Syahrial/Pemerhati Kebijakan Publik Kota Tanjungpinang

Perpres 55 Tahun 2022: Kewenangan di Bidang Pertambangan Tidak Dapat Disubdelegasikan ke Bupati/Walikota

Dalam tata kelola pertambangan, satu hal yang tidak boleh...