Suarasiber.com (Tanjungpinang) — Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran strategis pers dalam menjaga kualitas informasi publik. Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri, Ady Indra Pawennari, menekankan bahwa insan pers harus berada di garis depan dalam memerangi hoaks di tengah derasnya arus informasi digital.
Ady menyampaikan hal tersebut di Tanjungpinang, Senin (4/5/2026). Ia menegaskan, kebebasan pers merupakan pilar utama demokrasi yang harus terus dijaga, namun tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab moral dan profesionalisme.
“Pers tidak hanya dituntut bebas, tetapi juga harus mampu menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tantangan terbesar saat ini adalah melawan hoaks dan disinformasi yang menyebar sangat cepat,” kata Ady.
Menurut dia, perkembangan teknologi digital telah mempercepat distribusi informasi, tetapi juga membuka ruang luas bagi penyebaran konten yang belum terverifikasi. Kondisi ini menuntut jurnalis untuk semakin cermat, kritis, dan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik.
Ady menilai, jurnalis memiliki peran penting sebagai penjaga kebenaran (guardian of truth) di tengah banjir informasi yang belum tentu valid di media sosial. Karena itu, peningkatan kompetensi dan integritas menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
“Jurnalis harus terus meningkatkan kualitas dan menjaga integritas agar tetap menjadi sumber informasi yang kredibel bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Ady juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap jurnalis dalam menjalankan tugas. Ia berharap seluruh pihak dapat menghormati kerja-kerja pers sebagai bagian dari upaya menciptakan transparansi dan akuntabilitas publik.
Menurutnya, tanpa jaminan keamanan dan kebebasan dalam bekerja, fungsi pers sebagai pengawas kekuasaan tidak akan berjalan optimal.
Ady menambahkan, peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diperingati setiap 3 Mei harus menjadi refleksi bersama bahwa pers yang merdeka dan bertanggung jawab adalah fondasi masyarakat yang cerdas dan demokrasi yang sehat.
“Pers yang kuat adalah pers yang mampu melawan hoaks dan tetap berpihak pada kebenaran,” kata dia.
Komunitas Jurnalis Kepri, lanjut Ady, berkomitmen untuk terus menjadi wadah peningkatan profesionalisme serta memperkuat solidaritas antarinsan pers di daerah.
Di tengah derasnya arus informasi digital, seruan untuk memerangi hoaks dalam momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 menjadi semakin relevan. Kredibilitas pers menjadi taruhan, sekaligus harapan, bagi terjaganya kualitas demokrasi di Indonesia.(***)
Editor Syaiful





