Suarasiber.com (Filipina) – Kabar duka datang dari dunia kreator konten kuliner di Filipina. Emma Amit (51) dilaporkan meninggal dunia setelah mengonsumsi kepiting beracun yang populer dengan sebutan devil crab atau devil reef crab. Insiden tragis ini terjadi di wilayah Pulau Palawan pada awal Februari 2025 dan langsung memicu perhatian luas warganet.
Peristiwa bermula pada 4 Februari ketika Amit bersama beberapa rekannya mencari bahan makanan laut di area hutan bakau yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Aktivitas tersebut bukan hal baru bagi warga pesisir. Selain untuk konsumsi pribadi, hasil tangkapan biasanya juga dijadikan materi konten media sosial karena menarik minat penonton.
Sejumlah kerang, ikan kecil, hingga kepiting berhasil mereka kumpulkan. Semua hasil laut itu kemudian dibawa pulang untuk diolah. Dalam video yang beredar, Amit terlihat merebus dan membumbui tangkapan tersebut sebelum akhirnya menyantapnya di depan kamera. Tayangan itu diunggah melalui akun Facebook dan TikTok miliknya.
Pada bagian video yang kemudian banyak disorot, Amit mengambil satu jenis kepiting karang yang sebenarnya dikenal memiliki racun berbahaya. Tanpa ragu ia memakannya sambil memberikan reaksi kepada para pengikutnya, seolah menunjukkan bahwa hewan tersebut aman dikonsumsi.
Kondisi Memburuk Setelah Syuting
Tak lama setelah konten itu diunggah, kesehatan Amit dilaporkan menurun drastis. Sejumlah warga menuturkan bahwa pada keesokan harinya ia mulai mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak biasa. Gejala yang muncul antara lain lemas, muntah, serta kesulitan bernapas.
Situasi semakin gawat ketika tubuhnya mengalami kejang. Bibirnya disebut berubah warna menjadi kebiruan—indikasi berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Keluarga dan tetangga segera membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit yang memiliki peralatan lebih lengkap.
Meski tim medis berupaya memberikan penanganan intensif, nyawanya tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal pada 6 Februari, atau dua hari setelah menyantap kepiting tersebut.
Kepergian Amit pun menimbulkan duka mendalam bagi komunitas pengikutnya. Banyak yang mengenalnya sebagai figur ramah yang gemar memperkenalkan bahan pangan lokal dan kehidupan pesisir melalui konten sederhana namun autentik.
Mengenal Devil Reef Crab
Kepiting yang dimakan Amit diketahui termasuk jenis kepiting karang beracun yang hidup di kawasan terumbu wilayah Indo-Pasifik. Dalam literatur kelautan, hewan ini sering dikaitkan dengan kandungan racun kuat yang juga ditemukan pada ikan buntal.
Racun tersebut tidak selalu hilang meski sudah dimasak dengan suhu tinggi. Beberapa spesies bahkan tetap berbahaya setelah direbus atau digoreng karena toksinnya menyerang sistem saraf. Dampaknya bisa memicu kelumpuhan, gangguan pernapasan, hingga kematian bila tidak segera ditangani.
Banyak ahli menyebut, masyarakat awam kerap kesulitan membedakan kepiting beracun dengan yang aman dikonsumsi karena bentuknya mirip. Warna cangkang yang menarik atau corak mencolok sering justru menjadi tanda peringatan alami.
Risiko Konten Ekstrem demi Penonton
Kematian Amit kembali memunculkan diskusi soal tren kreator yang mencoba makanan ekstrem demi menarik perhatian audiens. Dalam beberapa tahun terakhir, konten mencicipi satwa liar memang memiliki daya tarik tinggi karena memicu rasa penasaran.
Namun para pakar keamanan pangan mengingatkan bahwa popularitas tidak sebanding dengan risiko. Tanpa pengetahuan spesifik mengenai jenis hewan, habitat, dan cara pengolahan yang tepat, percobaan seperti ini dapat berujung fatal.
Pemerintah Ingatkan Warga
Menanggapi kejadian tersebut, otoritas setempat di Filipina mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat mengambil dan mengonsumsi hasil laut liar. Edukasi tentang identifikasi spesies beracun dinilai penting, terutama bagi komunitas pesisir yang bergantung pada alam sebagai sumber pangan.
Warga juga diminta tidak mudah percaya pada informasi dari media sosial tanpa verifikasi ahli. Apa yang terlihat aman di video belum tentu benar-benar bebas bahaya.
Duka dan Pelajaran
Bagi para pengikutnya, Amit bukan sekadar pembuat konten. Ia dikenal sebagai sosok yang memperlihatkan keseharian masyarakat pesisir dan semangat berbagi. Namun insiden ini menjadi pengingat keras bahwa alam menyimpan risiko yang tak boleh diremehkan.
Tragedi tersebut kini menjadi pembelajaran penting mengenai pentingnya literasi keamanan pangan, terutama ketika berhadapan dengan spesies laut yang belum dikenal secara pasti. (***/sya)
Editor Yusfreyendi





