SEMINGGU ini saya tidak berfungsi dengan baik. Ada kerawanan dalam dada setiap kali membuka laman berita lokal, kerawanan yang sama ketika tahun lalu membaca kabar serupa, dan tahun sebelumnya, dan seterusnya. Hanya saja, kali ini lebih sering. Terlalu sering untuk sebuah kota kecil bernama Tanjungpinang.
Beberapa jiwa dalam sepekan. Bukan karena sakit. Bukan pula kecelakaan. Mereka memilih pergi dengan caranya sendiri, cara yang paling menyakitkan bagi yang ditinggalkan, cara yang paling kita sesalkan, cara yang dalam ajaran agama dan adat Melayu kita adalah jalan yang terlarang.
Raga memang duduk di kedai kopi langganan, menyeruput kopi susu panas sambil menghisap rokok sebatang. Tetapi jiwa dan pikiran sedang terbang ke pertanyaan demi pertanyaan: apa yang terjadi dengan kota kita? Apa yang hilang dari masyarakat kita? Dan pertanyaan yang paling menusuk: apakah kita, yang masih diberi kesempatan bernapas, punya andil dalam kepergian mereka?
Tanjungpinang Bukan Lagi Seperti Cerita Nenek
Dulu, kata beliau, kota ini adalah tempat di mana orang saling kenal. Bukan sekadar tahu nama, tetapi tahu kabar siapa yang sedang susah, siapa yang baru dapat rezeki, siapa yang butuh pertolongan. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” bukan sekadar pepatah yang indah untuk diucapkan. Itu adalah cara hidup. Itu adalah pegangan.
Sekarang? Kita bahkan tidak tahu nama tetangga yang rumahnya hanya berjarak lima meter dari pagar kita.
Saya tidak tahu persisnya kapan perubahan itu terjadi. Apakah ketika mall pertama berdiri? Ataukah saat smartphone mulai menjadi anggota keluarga yang paling diperhatikan? Atau mungkin lebih dini lagi, ketika televisi mengajarkan kita bahwa kesuksesan hanya diukur dari rumah, mobil, dan liburan ke luar negeri?
Yang pasti, ada yang hilang. Dan kehilangan itu, saya kira, turut membawa pergi nyawa-nyawa yang harusnya masih bisa diselamatkan.
Saya bukan ahli psikologi. Saya hanya anak negeri yang juga pernah entah berapa kali terjaga sepanjang malam dengan pikiran yang tak kunjung tenang. Pernah merasai beratnya hidup di kota kecil yang makin hari makin tak bersahabat. Pernah berada di titik di mana bangun pagi terasa sia-sia, di mana setiap napas terasa berat, di mana pikiran terus berbisik.
Yang menyelamatkan saya bukanlah motivasi dari internet. Bukan pula ceramah tentang bersyukur yang disampaikan orang-orang yang tak pernah merasai gelap seperti yang saya alami. Yang menyelamatkan saya adalah seorang teman yang duduk di sebelah saya, diam saja, tidak memberi nasihat, hanya ada. Hadir. Mendengar. Tanpa menghakimi.
Sesederhana itu.
Tetapi ternyata, di zaman ini, kehadiran yang tulus adalah barang langka. Kita lebih sering hadir di media sosial daripada hadir untuk orang-orang di sekitar kita. Kita lebih rajin memberi like daripada memberi telinga. Kita lebih pandai menggurui daripada mendengarkan.
Ada stigma yang masih amat kuat dalam masyarakat kita terhadap mereka yang mengalami gangguan mental. Kata-kata seperti “gila”, “lemah iman”, atau “kurang bersyukur” kerap dilontarkan tanpa empati. Padahal, gangguan mental adalah penyakit, sama seperti demam, diabetes, atau patah tulang. Bedanya, luka jiwa tidak terlihat mata.
Maka, ketika seseorang mengatakan “saya lelah,” jangan anggap itu hanya keluhan biasa. Ketika seseorang tiba-tiba menarik diri dari pergaulan, jangan buru-buru cap dia sombong. Ketika seseorang curhat tentang beban hidupnya, jangan jawab dengan “Bersyukurlah, masih banyak yang lebih susah dari kamu.”
Itu bukan menghibur. Itu justru menambah beban.
Dalam falsafah Melayu, kita mengenal “setitik darah Melayu, segenggam tanah dipijak” kita adalah satu kesatuan yang seharusnya saling menopang. Kita juga punya pepatah “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah, kita setara dalam kemanusiaan.
Tetapi di mana nilai-nilai itu sekarang?
Di mana gotong-royong yang dulu jadi kebanggaan kita? Di mana kepedulian yang dulu membuat tetangga saling menjaga? Di mana ruang aman untuk bicara tanpa takut dihakimi?
Saya tidak tahu.
Yang saya tahu: kita perlu mengembalikan itu semua. Bukan besok. Bukan lusa. Sekarang. Karena nyawa-nyawa yang hilang minggu ini seharusnya bisa diselamatkan jika saja ada yang hadir, mendengar, dan peduli.
Kepada pemerintah daerah: kesehatan mental bukan lagi wacana. Ini darurat. Kita butuh layanan konseling yang mudah diakses dan terjangkau atau bahkan gratis. Kita butuh sosialisasi masif untuk menghapus stigma. Kita butuh tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan belasungkawa di media sosial setiap kali ada korban baru.
Kepada tokoh masyarakat dan agama: ajarkanlah empati, bukan sekadar simpati. Ciptakan ruang aman di mana umat bisa bicara tentang kesulitannya tanpa takut dicap lemah iman. Ingatlah bahwa Rasulullah sendiri pernah menangis, pernah bersedih. Kesedihan adalah bagian dari kemanusiaan, bukan tanda kekufuran.
Kepada kita semua: kembalilah kepada akar kita sebagai masyarakat Melayu. Tanyakan kabar tetangga yang terlihat murung. Ajak bicara kerabat yang sudah lama diam. Dengarkan tanpa menghakimi. Hadiri tanpa pamrih. Jadilah “payung tempat berteduh, perahu tempat berlindung” seperti yang diajarkan nenek moyang kita.
DAN kepada kamu yang sedang berjuang dengan beban berat di hati: bertahanlah.
Saya tahu rasanya ketika dunia terasa gelap dan tidak ada harapan. Saya tahu rasanya ketika kamu merasa sendirian. Saya tahu rasanya ketika bangun pagi adalah perjuangan terberat. Tetapi percayalah, dan ini bukan nasihat kosong, kamu tidak sendirian. Masih ada yang peduli. Masih ada yang ingin kamu bertahan.
Hidup memang tidak adil. Hidup memang menyakitkan. Tetapi hidup juga punya cara mengejutkan kita dengan kebaikan-kebaikan kecil yang tak terduga. Berikan kesempatan kepada dirimu untuk menyaksikan itu.
Nenek dulu berpesan: “Kalau gelombang datang, janganlah dilawan. Kalau air pasang, janganlah ceburkan diri. Tunggu surutnya, lalu dayunglah sampanmu perlahan.”
Tunggu surutnya, Saudaraku. Tunggu surutnya.
Dunia butuh kamu lebih lama lagi.
Penulis Arsih Zul Adha
Mahasiswa Departemen Hukum Tata Negara, Prodi Ilmu Hukum UMRAH





