PANTUN Melayu bukan sekadar puisi tradisi. Ia adalah cermin jiwa kolektif, dari sublimasi Freud hingga arketipe Jung dan bahasa Lacan.
Pantun: Warisan Lisan yang Tak Pernah Lekang
Pantun adalah salah satu bentuk puisi tertua masyarakat Melayu. Ia lahir dari budaya tutur, mudah diingat, dinyanyikan, dan diwariskan lintas generasi.
Meski singkat, setiap bait pantun menyimpan makna luas—nasihat, doa, cinta, hingga kerinduan.
Di era digital, pantun masih hidup. Ia hadir di media sosial, acara hiburan, bahkan jadi alat diplomasi budaya internasional. Pantun membuktikan dirinya bukan sekadar puisi tradisi, melainkan teks yang lentur dan terus relevan.
Dari Freud, Jung, hingga Lacan: Membaca Pantun dengan Kacamata Psikoanalisis
Pantun bisa dilihat lebih dalam lewat pendekatan psikoanalisis:
Sigmund Freud: Pantun sebagai sublimasi, penyaluran hasrat tertekan ke bentuk yang diterima masyarakat.
Carl Gustav Jung: Pantun menyimpan arketipe universal dalam ketidaksadaran kolektif.
Jacques Lacan: Pantun adalah arena bahasa, tempat subjek dan hasrat manusia terbentuk—selalu ada yang tertunda, tak pernah sepenuhnya terpuaskan.
Simbol-Simbol Psikis dalam Pantun Melayu
1. Pantun tentang Pertemuan
Kalau ada sumur di ladang, Boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang, Boleh kita berjumpa lagi.
Freud: sumur = metafora libido, energi kehidupan.
Jung: sumur = arketipe sumber kehidupan.
Lacan: janji pertemuan = keinginan manusia yang tak pernah selesai.
2. Pantun tentang Luka dan Maaf
Kalau ada jarum yang patah,
Jangan disimpan di dalam peti.
Kalau ada kata yang salah,
Jangan disimpan di dalam hati.
Freud: jarum patah = trauma kecil yang harus dilepaskan.Jung: simbol kegagalan komunikasi.Lacan: maaf hanya sah jika diungkapkan lewat bahasa.
3. Pantun tentang Kerinduan
Asam Pauh Delima Batu
Anak Sembilang Di Telapak Tangan
Meski Jauh Beribu Batu
Hilang di Mata Di Hati Jangan
Freud: sublimasi frustrasi karena perpisahan.
Jung: simbol asam, delima, dan ikan = kehidupan & kesetiaan.
Lacan: kerinduan = kekurangan yang tak pernah sepenuhnya terisi.
Pantun sebagai Cermin Jiwa Kolektif
Simbol alam—bunga, sumur, jarum, buah—adalah kode psikis lintas generasi. Pantun merepresentasikan pengalaman universal: cinta, kehilangan, pengetahuan, spiritualitas.
Freud menekankan sublimasi hasrat.
Jung menyoroti arketipe kolektif.
Lacan menekankan bahasa sebagai ruang hasrat.
Sintesanya: pantun adalah cermin jiwa kolektif. Ia bukan sekadar artefak tradisi, melainkan teks hidup yang menyingkap lapisan terdalam pengalaman manusia.
Implikasi: Lebih dari Sekadar Seni Kata
Akademik: memperkaya studi sastra Nusantara dengan pendekatan interdisipliner.
Masyarakat: membuat kita lebih dekat dengan diri sendiri lewat kesadaran psikis.
Pelestarian Budaya: pantun bukan hanya tradisi, melainkan refleksi jiwa bangsa.
Penutup: Pantun, Suara Jiwa yang Abadi
Pantun adalah warisan sekaligus jendela. Dalam pantun ada cinta yang ditunda, rindu yang tak terucap, doa yang disamarkan. Ia selalu relevan, karena berbicara tentang hal paling mendasar dalam hidup manusia.
Menjaga pantun berarti menjaga cermin untuk melihat siapa kita sesungguhnya. Ia adalah suara jiwa kolektif yang berbisik sejak dulu—dan akan terus bersuara, sepanjang kita mau mendengarkannya. (*)
(*) Yoan S Nugraha (Mahasiswa Pascasarjana STAIN SAR – Kandidat Psikoanalisis (Institut Psikoanalisis Indonesia)





