BEBERAPA waktu belakangan, Tanjungpinang mendadak sering diwarnai kabar duka yang serupa — seseorang ditemukan mengakhiri hidupnya secara tragis. Di rumah, di kamar sepi, di pohon-pohon, atau di bangunan kosong.
Warga terperanjat, media lokal menulis dengan nada prihatin, dan linimasa media sosial ramai bertanya: Ada apa dengan kita?
Kota yang dikenal teduh dengan lantunan gurindam dan rentak zapinnya kini menyimpan suasana yang muram dan sunyi.
Di balik senyum masyarakat yang ramah, ada banyak jiwa yang tengah bertarung dalam diam.
Banyak yang menyebut, ekonomi adalah akar dari segalanya. Sejak pandemi yang berlanjut dengan gelombang efisiensi, hidup di Tanjungpinang—yang bergantung pada sektor jasa, perdagangan, dan ASN—tak lagi semudah dulu.
Harga naik, peluang kerja sangat-sangat sempit, sementara kebutuhan terus menghimpit. Di tengah keresahan itu, muncul “penyelamat semu”: judi online.
Awalnya sekadar iseng. Seribu jadi dua ribu, dua ribu jadi sepuluh ribu. Hingga tanpa sadar, candu itu menelan semuanya: gaji, motor, tabungan, rumah, tanah bahkan harga diri.
Ketika kalah, bukan hanya uang yang habis, tapi juga semangat hidup. “Main sekali lagi, siapa tahu balik modal,” bisik setan kecil dalam pikiran.
Dan saat sadar sudah terlilit utang ke sana-sini, sebagian memilih jalan paling tragis—menyerah pada hidup.
Cerita-cerita itu kini menjadi rahasia umum di warung kopi dan grup WhatsApp warga. “Katanya karena judol,” bisik seseorang, sementara yang lain mengangguk penuh iba.
Namun di balik semua bisik-bisik itu, ada satu hal yang sering terlupakan: betapa sunyinya seseorang sebelum memilih diam untuk selamanya.
Mungkin mereka pernah berteriak minta tolong, tapi tak ada yang mendengar. Mungkin mereka pernah tersenyum, padahal hatinya retak.
Dalam masyarakat kita yang masih kaku berbicara soal kesehatan mental, depresi sering dianggap lemah iman. Padahal yang mereka butuhkan bukan ceramah, tapi telinga yang mau mendengar.
Karena itu, memiliki teman untuk bercerita sangatlah penting. Setiap orang butuh ruang aman untuk meluahkan perasaan tanpa takut dihakimi.
Dengan bercerita, beban bisa sedikit terurai, napas terasa lebih lapang, dan terkadang solusi muncul dari sekadar didengarkan.
Persahabatan dan empati adalah benteng pertama yang bisa menahan seseorang agar tidak terjerumus dalam jurang keputusasaan.
Satu telinga yang mau mendengar bisa lebih berharga daripada seribu nasihat yang datang terlambat.
Fenomena ini bukan semata soal ekonomi atau judi. Ini tentang kehilangan harapan. Tentang sistem sosial yang sibuk dengan urusannya masing-masing, sementara banyak jiwa tergelincir di senja yang sepi.
Namun semua belum terlambat. Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat harus bergerak cepat—bukan hanya menutup situs judi, tapi membuka ruang untuk berbagi dan menyembuhkan.
Sediakan pos konsultasi psikologis gratis di tiap kelurahan, aktifkan kembali semangat gotong royong di lingkungan, dan perkuat literasi finansial serta edukasi mental masyarakat.
Kita tidak boleh membiarkan keheningan menjadi simbol kekalahan manusia di kota ini.
Tanjungpinang seharusnya menjadi tempat orang hidup dengan harapan, bukan tempat di mana keputusasaan bersembunyi di setiap sudutnya.
Di bawah langit biru Kepri yang luas, kita semua punya tanggung jawab yang sama: menyelamatkan nyawa sebelum semuanya terlambat.
Sebab di balik setiap orang yang memilih mengakhiri hidupnya, selalu ada tanda-tanda yang pernah ia kirim — kita saja yang terlalu sibuk untuk membacanya. (*)
(*) Zainal S.Sos, Praktisi Budaya di Tanjungpinang





