Suarasiber.com (Jakarta) – Nama Nadiem Anwar Makarim kembali jadi sorotan publik. Setelah resmi ditetapkan sebagai tersangka korupsi proyek laptop Chromebook senilai Rp1,98 triliun oleh Kejaksaan Agung, banyak yang bertanya: siapa sebenarnya sosok Nadiem?
Lahir di Singapura, Besar di Keluarga Intelektual
Nadiem lahir di Singapura, 4 Juli 1984. Ia berasal dari keluarga terpandang: ayahnya, Nono Anwar Makarim, adalah advokat lulusan Harvard yang dikenal kritis terhadap kebijakan publik. Ibunya, Atika Algadrie, penulis lepas yang merupakan cucu dari tokoh perintis kemerdekaan, Hamid Algadri.
Darah keturunan Nadiem beragam—dari Minangkabau, Arab, India hingga Jawa dan Madura. Ia punya dua kakak perempuan: Rayya Makarim, penulis dan produser film, serta Hana Makarim, pengusaha kuliner yang dikenal dengan brand Dough Lab.
Pendidikan Elit, Karier Cemerlang
Sejak kecil, Nadiem sudah mengenyam pendidikan internasional. Ia sekolah dasar di Jakarta, lalu melanjutkan ke United World College of Southeast Asia di Singapura. Pendidikan tingginya ia jalani di luar negeri: meraih gelar Hubungan Internasional di Brown University (Amerika Serikat), lalu melanjutkan MBA di Harvard Business School.
Kariernya dimulai di perusahaan konsultan ternama McKinsey & Company. Ia juga sempat menjadi co-founder Zalora Indonesia sebelum akhirnya terjun ke dunia startup teknologi.
Gojek: Dari Call Center Ojek Jadi Decacorn
Tahun 2010, Nadiem mendirikan Gojek dengan konsep sederhana: call center pemesanan ojek.
Bisnis itu berkembang pesat setelah ia meluncurkan aplikasi mobile pada 2015. Dalam hitungan tahun, Gojek tumbuh menjadi decacorn pertama Indonesia dengan valuasi lebih dari US$10 miliar.
Kesuksesan Gojek membuat nama Nadiem melambung tinggi, bukan hanya di dunia startup, tapi juga di panggung global.
Dari Startup ke Kursi Menteri
Keberhasilan itu membuat Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada Oktober 2019. Namun, sejak saat itu Nadiem resmi mundur dari semua jabatan di Gojek, termasuk CEO dan Presiden Komisaris.
Soal kepemilikan saham, data menunjukkan porsinya makin mengecil. Pada 2018 ia sempat memegang hampir 5% saham, tetapi setelah merger Gojek–Tokopedia menjadi GoTo, namanya tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham signifikan.
Kini, dari Inovator ke Tersangka
Perjalanan hidup Nadiem ibarat roller coaster. Dari lulusan Ivy League, pendiri decacorn, hingga menteri muda yang dianggap visioner.
Namun kini, jejak digitalisasinya justru menyeretnya ke kasus dugaan korupsi yang merugikan negara hampir Rp2 triliun.
Publik tentu masih menunggu: apakah Nadiem akan mampu membela diri, atau justru namanya akan dikenang sebagai bagian dari skandal terbesar di dunia pendidikan Indonesia? (eko)
Editor Yusfreyendi





