DI Tanjungpinang dan Kepulauan Riau, budaya Melayu bukan cuma tarian zapin atau baju kurung yang dipake pas upacara doang. Ini napas, bro!
Ini darah yang ngalir di nadi masyarakat, dari pantun penuh makna, Gurindam 12 Raja Ali Haji yang bikin merinding, sampe tradisi adat yang bikin kita inget siapa kita.
Bahasa Indonesia lahir dari rahim Melayu di sini, lho! Tapi, apa kabar budaya ini sekarang? Dibiarkan merana kayak penutup acara yang cuma diinget pas butuh panggung.
Coba bayangin: tiap musim kampanye, tuan-tuan dan puan-puan berbaju adat, foto-foto di Instagram dengan caption “Lestarikan Budaya Melayu!”.
Janji manis soal festival budaya, dana pelestarian, dan panggung seni dilontarkan lebih kenceng dari petasan Lebaran. Tapi begitu kursi kekuasaan didudukin, apa yang terjadi?
Budaya di-kick balik ke pojokan, cuma dipanggil pas perlu backdrop buat spanduk pariwisata atau gimmick “Kepri Asik”.
Plot twist: APBD triliunan rupiah setiap tahun ternyata masih sangat sulit untuk menyalakan warisan leluhur.
Lihat di lapangan, sanggar seni kayak pasien kritis: hidup segan, mati tak mau. Pelaku seni? Mereka bertahan pake kantong sendiri, bro, kayak superhero tanpa sponsor.
Generasi muda? Jangan tanya, banyak yang lebih hapal lirik lagu K-pop daripada pantun Melayu.
Upacara adat? Kadang cuma dijalanin ala kadarnya, kayak ngerjain PR pas deadline. Pemerintah daerah bilang budaya itu penting, tapi kok cuma jadi stiker di brosur wisata? Mana substansinya, tuan?
Budaya itu bukan aksesori yang dipake pas acara doang. Ini benteng identitas, bro! Kalau dikelola bener, festival budaya bisa narik turis, bikin dompet seniman nggak kering, sekaligus bikin anak muda bangga sama akarnya.
Bayangin: festival zapin yang kekinian, misalnya, dengan panggung megah, live streaming di X, dan merchandise yang kece. Bukan cuma nari doang, tapi bikin ekonomi lokal gerak!
Tapi apa daya, tanpa kebijakan yang serius, ini cuma mimpi basah budayawan.
Kepulauan Riau butuh lebih dari sekadar jargon “lestari budaya”. Butuh anggaran yang beneran nyanyi buat seni, ruang buat seniman lokal unjuk gigi, pelajaran budaya di sekolah yang nggak cuma formalitas, dan masyarakat yang dilibatin, bukan cuma jadi penonton.
Pemerintah harus berhenti main drama “budaya itu penting” cuma pas kampanye. Budaya adalah wajah Kepri—kalau wajah ini luntur, apa jadinya kita?
Dan hei, masyarakat juga bukan penutup toples yang cuma diam. Pelaku seni, akademisi, anak muda, ayo bangun jejaring!
Hidupkan lagi sanggar, bikin event budaya yang kekinian, dan tagih janji tuan-tuan yang suka lupa. Kalau cuma ngeluh di grup WhatsApp, budaya Melayu kita cuma bakal jadi kenangan di museum.
Kata kunci buat tuan dan puan: Jangan cuma omong, buktikan! Budaya Melayu Kepri bukan cuma cerita nenek moyang, tapi masa depan kita. Jangan sampai warisan ini cuma jadi hashtag yang luntur di timeline. (*)
(*) Zainal S.Sos, Praktisi Budaya





