Suarasiber.com (Natuna) – Dalam beberapa hari terakhir, langit Natuna kerap diselimuti awan gelap. Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang mengguyur sejumlah wilayah, menyebabkan sebagian jalan tergenang air dan beberapa titik rawan menunjukkan tanda-tanda meluap.
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat Natuna merupakan daerah pesisir yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi.
Menanggapi situasi tersebut, Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Efendie, S.H., S.I.K., M.M., M.Tr.Opsla, mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan.
Ia menegaskan, cuaca ekstrem berpotensi menimbulkan dampak serius mulai dari banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang akibat angin kencang.
“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Kami mengajak warga Natuna untuk selalu waspada, tidak memaksakan diri beraktivitas di lokasi berisiko, serta segera melapor apabila ada kejadian yang membahayakan,” tegas AKBP Novyan di Ranai, Senin (15/9/2025).
Kapolres juga mengingatkan masyarakat pesisir agar berhati-hati saat beraktivitas di pantai maupun melaut. Gelombang tinggi yang kerap muncul saat cuaca ekstrem bisa membahayakan nelayan dan warga di tepian laut.
Sementara masyarakat yang tinggal di sekitar lereng bukit diimbau menghindari kawasan rawan longsor, terutama saat hujan deras mengguyur.
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan terus melakukan pemantauan kondisi lapangan, memastikan akses jalan tetap bisa dilalui, serta bersiaga untuk merespons cepat jika ada laporan darurat dari masyarakat.
Meski demikian, Kapolres meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Dengan langkah pencegahan serta sikap hati-hati, risiko bencana dapat diminimalisir.
“Mari kita saling menjaga, saling mengingatkan, dan selalu mengutamakan keselamatan diri maupun keluarga di tengah cuaca ekstrem yang sedang melanda Natuna,” ujarnya.
Cuaca di Natuna memang dikenal dinamis dan cepat berubah. Namun, kesadaran kolektif dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan alam yang tidak bisa diprediksi. (rls/sya)
Editor Yusfreyendi





