Suarasiber.com (Tanjungpinang) – Tes urine massal yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN) Kepri di Aula Kantor Gubernur, Dompak, Senin (22/9/2025) seharusnya jadi bukti komitmen bersih-bersih narkoba. Tapi yang terjadi justru berubah jadi komedi situasi ala pejabat negeri ini.
Dari total 508 pejabat eselon II, III, dan IV yang diundang, hanya 214 yang datang. Seperti disampaikan Koordinator Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN, Kepri Lisa Mardiyanti sebagaimana dikutip dari batampos.id.
Dan dari 214 orang itu pun sebagian mendadak “raib” begitu botol urine diedarkan.
Sisanya? Entah di mana, mungkin sedang sibuk menjaga “kehormatan” masing-masing.
Ironisnya, Gubernur Ansar Ahmad hadir langsung, bahkan berpidato panjang lebar tentang bahaya narkoba.
Ansar hadir terkait sosialisasi Perda Kepri Nomor 3 Tahun 2024 tentang Fasilitasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan serta Peredaran Gelap Narkoba dan Prekursor Narkotika.
Namun, kehadiran orang nomor satu di Kepri itu pun tak cukup menggugah para pejabatnya untuk patuh.
Kehadiran gubernur terkesan tak lebih menarik daripada pintu keluar aula.
Seorang pejabat yang masih bertahan sampai akhir kegiatan mengaku, “Yang berani ikut tes sampai selesai kebanyakan perempuan. Yang laki-laki banyak yang hilang begitu saja.”
Lalu, apakah ada sanksi bagi yang bolos atau kabur? Ternyata tidak.
Gubernur hanya menyebut akan mencari cara lain, mungkin dengan didatangi ke tempatnya (batampos.id)
Mungkin yang dimaksud adalah jemput bola. Atau antar botol urine kosong dan mengambil botol yang sudah berisi.
Sayangnya, BNN bukan tukang panggil galon yang bisa datang tiap kali dibutuhkan.
Tes urine yang seharusnya menjadi bukti komitmen pemberantasan narkoba, justru berubah jadi drama absensi massal pejabat.
Pertanyaannya sederhana tapi menggelitik: apa sih yang ditakutkan para pejabat itu dari sekadar buang air kecil di botol?
Dan kalau bingung menebak-nebak siapa yang “takut”, masyarakat bisa mengingat tanda-tanda umum orang yang pakai narkoba:
Mata merah atau sayu meski bukan habis begadang.
Mood swing ekstrem, sebentar marah, sebentar ketawa ngakak sendiri.
Berat badan turun drastis tanpa ikut challenge diet.
Gerakan tubuh gelisah dan susah duduk diam.
Jadi, kalau tes urine massal saja bikin pejabat kalang kabut, masyarakat patut bertanya: siapa sebenarnya yang perlu diawasi di Kepri ini? (eko)
Editor Yusfreyendi





