Sabtu, 29 November 2025

Tembakan Pesta Arung Belawa yang Bikin Singapura Jadi Bintang: Stori Tanjungpinang 1819

Tayang:


BAYANGIN, bro, akhir tahun 1819, tepatnya tanggal 26 Desember 1819 sekitar pukul 9 malam di Rhio/Riau (sekarang Tanjungpinang, red) lagi rame banget. 

Ada pesta pernikahan adat Bugis bikin suasana panas: orang joget, pantun melayang, dan senjata ditembakin ke udara biar suasana makin meriah. 

Bau ikan bakar sama cengkeh dari kapal dagang nempel di udara, bercampur menguar ke udara disambar sengatan angin laut. 


Tapi, di benteng Belanda di Tanjungpinang, tembakan itu bikin kaget komandan Belanda Kapten Artileri Belanda G.E. Königsdorff. 

Dia kirim pasukan kemudian menciduk 5 orang dari mereka. Termasuk bangsawan Bugis Daeng Ronggik.

Salah paham ini berujung petaka: berakibat tewasnya Daeng Ronggik dan kemarahan orang Bugis nggak bisa dibendung.

Arung Belawa, tokoh pemimpin Bugis yang penuh karisma, nggak bisa tinggal diam. 

14 Januari 1820 sekitar 400 Bugis menyerang lalu merebut benteng pantai dan mengepung garnisun Königsdorffer.

Tapi sayang, Bugis kalah, bro karena pada 25 Januari bala bantuan Belanda datang dari Melaka dan Muntok. 

Tanggal 29 Januari, Belanda melancarkan serangan balik besar. Hasilnya tragis: Belanda kehilangan 7 orang, 13 luka. Bugis menderita sekitar 80 korban tewas.

Kampung mereka juga ludes terbakar. Hati Belawa perih, tapi dia tahu nggak bisa bertahan. 

Akhirnya, dia bawa sekitar 500 orang Bugis nyeberang ke Singapura, cari harapan baru di pulau yang waktu itu masih sepi.

Di Singapura, residen Inggris pertama di sana, William Farquhar, sambut mereka dengan tangan terbuka. “Bikin kampung di tepi Sungai Rochor aja,” katanya. 

Dari situ, lahirlah Kampong Bugis, cikal bakal kawasan legendaris di Singapura, Bugis Junction. 

Dampaknya besar: perdagangan Bugis yang semula di Rhio/Riau (Tanjungpinang, red) beralih ke Singapura, memperkuat posisi Inggris dan melemahkan Belanda. 

Raffles bahkan mengejek Belanda: “Kekaisaran mereka runtuh berkeping-keping.”

Inilah titik balik yang membuat Singapura cepat berjaya, sementara Tanjungpinang kehilangan momentum emasnya.

Karena Arung Belawa nggak cuma bawa keluarga, tapi juga para saudagar dan jaringan dagang mereka yang udah terkenal: rempah-rempah seperti cengkeh dan lada, kain, sampe perahu pinisi yang jadi kebanggaan. 

Pelabuhan Singapura, yang tadinya sepi dan cuma kampung kecil mendadak ramai. Kapal dari Eropa, India, dan Tiongkok berdatangan, ngincar “rempah” Bugis. 

Tanjungpinang? Sayang, mulai meredup, soalnya pusat perdagangan pindah ke tetangga sebelah.

Tapi cerita Arung Belawa nggak selesai di situ. Tahun 1824, Belanda coba tarik dia balik ke Tanjungpinang dengan iming-iming gaji bulanan gede, 500 florin per bulan.

Belawa, yang mungkin capek atau pengen pulang ke akarnya, setuju. Dia bawa keluarga dan pengikut setianya, tapi ratusan saudagar besar Bugis yang sudah betah di Singapura gak mau balik ke Rhio.

Mereka yang ikut Arung Belawa kembali ke Rhio, gak mau balik ke kampung lama yang udah hancur karena pertikaian di tahun 2019. 

Mereka kemudian bikin permukiman baru di seberang teluk Tanjungpinang, yang sekarang dikenal sebagai Kampung Bugis.

Meski begitu, kejayaan perdagangan Bugis udah telanjur nyangkut di Singapura.

Belanda dengan segala upaya berusaha mengembalikan kegemilangan Rhio/Riau (Tanjungpinang). Upaya yang terbukti gagal.

Puncaknya, Perjanjian London 1824 antara Inggris dan Belanda membagi kekuasaan: Inggris menguasai Malaya (termasuk Singapura), Belanda menguasai Hindia Belanda (termasuk Rhio/Riau). 

Sejak itu, Singapura berkembang jadi pusat dagang dunia, sementara Rhio makin tersisih.

Arung Belawa pun dikenang dengan dua wajah. Di Tanjungpinang, dia pahlawan yang mendirikan Kampung Bugis, bawa jiwa Melayu-Bugis yang kental. 

Di Singapura, tanpa disangka, dia ikut nyalain mesin yang bikin kota kecil itu jadi pelabuhan dunia. 

Bayangin, bro, gara-gara tembakan pesta yang salah paham, dua pulau ini punya cerita yang terhubung selamanya. 

Tanjungpinang mungkin nggak seberkilau Singapura, tapi di setiap sudut Kampung Bugis, semangat Arung Belawa masih hidup—bawa aroma rempah dan mimpi besar orang Bugis. 

Kisah ini disadur dari artikel karya Benjamin J.Q. Khoo berjudul Wedding Bugis Uprising Singapore Riau yang diterbitkan di biblioasia.nlb.gov.sg/. (*/zainal)

(*) Praktisi Budaya di Tanjungpinang

Editor Yusfreyendi

Loading...

BAGIKAN BERITA INI

spot_img

Update

spot_img

BACA JUGA
Berita lainnya

Festival Budaya Dunia Siap Digelar di Tanjungpinang, Dimeriahkan Wali Band

Suarasiber.com (Tanjungpinang) - Provinsi Kepulauan Riau resmi bersiap menyambut...

Yaqin Tuangkan Kegigihan Cinta dalam Single Terbaru “Pawang”

Suarasiber.com (Jakarta) – Solois dan musisi Yaqin kembali menghadirkan...

Berduka Atas Wafatnya PB XIII, Keraton Yogyakarta Hentikan Sementara Sejumlah Wisata

**Suarasiber.com (Yogyakarta) - ** – Keraton Yogyakarta menyampaikan duka...

Vin Diesel Konfirmasi Fast & Furious 11 Berlanjut, Produksi Disebut Mulai 2025

Suarasiber.com - Kabar baik untuk penggemar Fast & Furious!...