Sabtu, 29 November 2025

Batam dan Shenzhen: Dua Kota, Satu Start, Dua Nasib

Tayang:


EMPAT puluh tahun lalu, Batam dan Shenzhen memulai langkah yang hampir bersamaan: sama-sama dibentuk sebagai kota industri dengan harapan menjadi lokomotif ekonomi negara masing-masing. Namun hari ini, perbandingannya bagai langit dan sumur tua.

Shenzhen menjelma sebagai simbol kemajuan China dengan GDP hampir USD 500 miliar (english.www.gov.cn). Batam? Masih tertatih, dengan GDP sekitar USD 10 miliar. Apa yang salah?

Dua Kota, Start yang Mirip


Batam mulai dibangun sejak 1970-an sebagai kawasan industri strategis untuk mendukung eksplorasi migas dan ekspor (bpbatam.go.id). Pada era 1990-an, Batam dijadikan bagian dari kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (FTZ), sebuah status istimewa yang diharapkan menarik investor global.

Shenzhen sendiri baru “lahir” pada 1980, saat Deng Xiaoping menetapkannya sebagai Zona Ekonomi Khusus (SEZ) pertama China (china-briefing.com).

Kota kecil yang awalnya hanya desa nelayan itu, kini menjadi rumah bagi raksasa global seperti Huawei, Tencent, dan DJI. Batam? Masih dihuni oleh industri perakitan dan shipyard yang stagnan.

Shenzhen Melaju, Batam Jalan di Tempat

Pertanyaannya sederhana: kenapa Shenzhen bisa melesat, Batam justru jalan di tempat?

Pertama, komitmen dan konsistensi kebijakan. Shenzhen adalah proyek nasional prioritas. Pemerintah pusat China total dalam mendukung, mulai dari investasi infrastruktur, deregulasi besar-besaran, hingga dukungan SDM.

Sebaliknya, Batam selama puluhan tahun didera “dualisme kewenangan” antara Pemkot dan BP Batam. Investor bingung harus lapor ke siapa. Izin bisa tercecer di meja yang berbeda. Waktu habis, peluang hilang.

Kedua, ekosistem dan arah pembangunan. Shenzhen difokuskan untuk tumbuh ke arah teknologi tinggi, riset, dan finansial digital. Batam masih berkutat di sektor manufaktur klasik, dengan ketergantungan pada tenaga kerja murah dan ekspor barang jadi.

Tak ada ekosistem inovasi, tak ada dorongan riset, dan nyaris tak terdengar kabar startup lokal naik kelas di Batam.

Ketiga, letak strategis yang tidak dimanfaatkan. Batam hanya 20 km dari Singapura—seharusnya ini aset luar biasa. Tapi sayangnya, keterhubungan logistik, digital, bahkan komunikasi bisnis justru lemah. Akses laut dan udara belum optimal, dan proyek vital seperti Jembatan Batam-Bintan masih jadi wacana abadi.

“Batam vs Shenzhen, Nggak Apple to Apple?”

Pertanyaan ini sering muncul, dan perlu dijawab dengan tenang. Ya, benar, China dan Indonesia berbeda dalam skala ekonomi, politik, dan sistem pemerintahan.

Tapi yang dibandingkan di sini bukan siapa lebih kaya atau lebih besar, melainkan bagaimana dua kota yang sama-sama dibentuk dengan visi serupa—sebagai zona industri strategis—bisa berkembang ke arah yang sangat berbeda.

Keduanya dimulai dari nol. Keduanya diberi status khusus. Keduanya berada di lokasi strategis: Batam di depan Singapura, Shenzhen di samping Hong Kong.

Maka membandingkan keduanya tetap relevan—bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk belajar dan mengevaluasi. Kalau Shenzhen bisa tumbuh pesat, kenapa Batam tidak?

Sudah Terlambat? Belum. Tapi Waktu Kita Mepet.

Batam masih punya potensi luar biasa. Letaknya strategis, infrastrukturnya sudah jauh lebih baik dari sebagian besar wilayah lain di Indonesia. Tapi potensi tanpa visi, akan terus jadi deretan angka di atas kertas.

Yang dibutuhkan Batam hari ini bukan sekadar promosi investasi, tapi reformasi pengelolaan yang radikal. Dualisme otoritas harus diakhiri. Kawasan industri harus diberi arah baru — tak lagi hanya menjadi “pabrik murah”, tapi menjadi pusat inovasi, logistik regional, dan teknologi industri 4.0.

Dan yang paling penting: pusat harus serius. Kalau pemerintah bisa all-out membangun IKN di tengah hutan Kalimantan, kenapa tidak bisa menuntaskan Batam yang sudah 50 tahun dibangun?

Shenzhen memberi pelajaran: kota bisa berubah dari kampung nelayan menjadi pusat dunia, asal ada arah, niat, dan konsistensi. Kita tak kekurangan sumber daya — hanya sering kehabisan keberanian untuk berubah.

Kita sudah mulai lari sebelum Shenzhen. Tapi kemudian kita berhenti untuk rapat, dan mereka terus berlari tanpa menoleh ke belakang.” (*)

Sigit Rachmat (wartawan)

Loading...

BAGIKAN BERITA INI

spot_img

Update

spot_img

BACA JUGA
Berita lainnya

KJK Resmi Bentuk LBH, Siap Berikan Pendampingan Hukum Gratis bagi Wartawan dan Masyarakat Kepri

Suarasiber.com (Tanjungpinang) — Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) resmi membentuk...

Paguyuban Lender DSI Gelar Pertemuan Penting Bahas Penyelesaian Dana Tertahan, Total Laporan Capai Rp 900 Miliar

Suarasiber.com (Jakarta) — Paguyuban Lender Dana Syariah Indonesia (DSI)...

Ini 3 Penyebab Ady Indra Pawennari Laporkan Lagi Beritakepri.id ke Dewan Pers

Suarasiber.com (Tanjungpinang) – Sengketa pemberitaan antara Ady Indra Pawennari...

Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) Hadirkan Kepedulian bagi Anak Panti Tanjungpinang

Suarasiber.com (Tanjungpinang) — Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) menunjukkan kepedulian...