Suarasiber.com (Tanjungpinang) – Warga dari enam desa serta 3 dusun di Kecamatan Lau Baleng, Kabupaten Karo, Sumatera Utara mengumpulkan uang guna membangun patung Jokowi di Desa Kuta Mbelin.
Patung setinggi 6 meter dengan fondasi 1,5 meter dibangun sebagai bentuk lambang rasa syukur warga Liang Melas Datas (LMD) atas perbaikan jalan sepanjang sekitar 37 kilometer yang menjadi akses vital di wilayah tersebut. Sabtu (17/5/2025).
Adapun enam desa dan tiga dusun itu Desa Sukajulu, Desa Kutambaru, Desa Batumakmak, Desa Kutambelin, Desa Polatebu, Desa Kutapengkih, Dusun Kutakendit, Barisan dan Cerumbu.
Bentuk patung ini tidaklah utuh, bagian kaki berbentuk suluh yang melambangkan semangat bergerak dan mengobarkan semangat masyarakat. Tangan kanan patung terangkat seolah melambaikan tangan, sementara badan patung tampak seperti jalinan.
Simbolisme ini mengingatkan pada tradisi lokal dan kisah warga yang mengantarkan tiga ton jeruk sebagai oleh-oleh kepada Presiden Jokowi sebagai bentuk permohonan perbaikan jalan.
Monumen ini tidak sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga menjadi simbol penyemangat bagi masyarakat agar tetap antusias dalam menjalani berbagai kegiatan sehari-hari.
Melansir Tempo, ketua panitia pembangunan Juma Jokowi, Adil Sebayang mengatakan, biaya pembangunan patung dikumpulkan oleh warga sejak akhir tahun 2021.
Sebelumnya, pada 6 Desember 2021 warga perwakilan enam desa dan tiga dusun mengantarkan 3 ton jeruk ke Istana Negara. Perwakilan warga diterima Presiden Jokowi kala itu.
Jokowi mengatakan, jalan rusak segera diperbaiki. Dia memerintahkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengecek ke lapangan lewat Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Sumut, Direktorat Jenderal Bina Marga pada 5 Desember 2021.
Seorang warga Desa Kutambelin, Sebayang mengatakan sebelum jalan diperbaiki, ia menyebut hanya mobil hardtop yang bisa lewat. Setelah kedatangan Jokowi, jalan pun diperbaiki.
Atas dasar itulah warga membangun patung ini, meski ada kontroversi terkait besaran anggaran serta unsur politis di dalamnya. (***)
Editor Yusfreyendi





