Suarasiber.com – Kecerdasan buatan atau AI semakin banyak digunakan. Google pun tak ingin ketinggalan. Salah satu teknologi yang berkembang pesat ialah ChatGPT milik OpenAI.
Untuk mengimbangi perkembangan AI, Google pun merekrut kembali mantan karyawannya yang bernama Noam Shazeer. Tak tanggung-tanggung, Google harus rela mengeluarkan uang hingga Rp41 Triliun agar pria itu mau kembali bergabung.
Mengutip NY Post via detik.com, Noam masuk ke Google tahun 2000 silam sebagai software engineer. Pada 2021 Noam yang berusia 48 tahun keluar.
Adapun proyek Noam yang ditolak Google bermula pada 2017, saat ia dan Daniel menciptakan chatbot bernama Meena. Menurut Journal, Noam begitu yakin akan Meena sehingga ia meramal suatu hari nanti mesin pencari Google akan digantikannya. Namun, eksekutif Google menganggap terlalu berisiko untuk merilis Meena.
Keluar dari Google, keduanya lantas mendirikan perusahaan sendiri yang diberi nama Character.AI. Karena memang keduanya jago AI, Character AI pun berkembang pesat, hingga dua tahun lalu digunakan 20 juta pengguna aktif bulanan.
Kabar jika Noam akan kembali bergabung diumumkan Google dan Character AI. Bukan hanya Noam dan Daniel yang kembali gabung, Character AI juga membawa beberapa karyawannya untuk bekerja di DeepMind, divisi AI Google.
Informasi dari Wall Street Journal, Google membayar sekitar Rp 41 triliun untuk lisensi teknologi Character.AI sekaligus membawa kembali Noam dan timnya. Kesepakatan lisensi itu memungkinkan Google untuk segera mengakses kekayaan intelektual Character.AI tanpa harus menunggu persetujuan regulasi yang diperlukan jika perusahaan tersebut dibeli.
Noam memang pantas diperjuangkan untuk urusan AI. Bahkan mantan CEO Google, Eric Schmidt mengatakan jika ada orang yang dapat dipikirkan di dunia ini yang mungkin melakukannya, itu adalah Noam. Noam memang dipandang sangat berbakat di bidang AI.
Noam menjadi salah satu dari tiga orang yang akan memimpin upaya perusahaan untuk mengembangkan versi berikutnya dari Gemini, model AI dari Google yang dibuat untuk bersaing dengan rival seperti ChatGPT milik OpenAI. (syaiful)
Editor Yusfreyendi





