free page hit counter

Gubernur Kepri Paparkan Strategi Tangani Covid-19 di Depan Presiden dan Menteri

Loading...

Suarasiber.com – Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad menjadi salah satu panelis yang memberikan paparan dalam Diskusi Panel Rapat Koordinasi Nasional Transisi Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Gedung AA. Maramis Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (26/01).

Gubernur Ansar ditampuk menjadi salah satu narasumber dalam Rakornas ini dan duduk diantara barisan para Menteri karena selama masa pandemi covid19, Pemprov Kepri tercatat sebagai yang terbaik dalam menangani Covid19, untuk diluar Jawa dan Bali.

Tampak Ansar yang juga mantan angora DPR RI tampa duduk santai menjadi panelis. Tampak bersamanya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang juga menjadi narasumber karena dinilai berhasil menangani covid19 se jawa dan Bali.

Adapun acara ini dipandu oleh Menko Perekonomian yang juga Ketua KCP PEN Airlangga Hartanto.

Rakornas ini sendiri sebelumnya telah dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo. Saat itu Presiden mengatakan penanganan pandemi Covid-19 selama 3 tahun terakhir merupakan tantangan yang berat, dimana Republik Indonesia mengumumkan kasus pertama pada 2 Maret 2020, yakni 2 warga Depok dinyatakan positif.

“Selama 3 tahun dalam menangani pandemi maupun mengatasi ekonomi kita. Sebuah tantangan yang sangat berat, sebuah persoalan yang sangat-sangat berat yang kita hadapi saat itu dan tidak ada standarnya, tidak ada pakemnya karena memang kita semuanya belum memiliki pengalaman dalam menangani pandemi ini,” ungkap Presiden Jokowi

Sementara itu, Gubernur Ansar dalam paparannya menjelaskan strategi-strategi dalam penanganan Covid-19 dan Recovery Ekonomi di Kepri. Dalam penanganan covid, Gubernur Ansar mengibaratkannya sebagai kompetisi para kepala daerah. Jadi ketika vaksinasi mulai dilaksanakan di Indonesia, Pemprov Kepri langsung tancap gas.

“Saat itu di kala masyarakat masih mempersoalkan halal dan haram, kita sudah minta 50 ribu dosis. Yang pertama kita suntik para PNS, para ustaz dan kiai, serta para kepala suku. Alhamdulillah ketika Presiden menargetkan di September 2021 tiap daerah minimal harus mencapai 70 persen suntikan dosis pertama, bahkan di Bulan Mei Kepri sudah mencapai di atas 70 persen,” paparnya, dikutip dari rilis Diskominfo Kepri.

Gubernur pun memaparkan sampai saat ini capaian vaksinasi di Kepri untuk dosis I telah mencapai 99 persen, dosis II 89 persen, booster I hampir 60 persen dan booster II 9,3 persen. Ini menjadikan Kepri sebagai Provinsi yang persentase vaksinasinya terbaik di luar Jawa dan Bali.

Strategi lain yang menjadi kebijakan Gubernur Ansar adalah menjamin kehidupan para pekerja rentan dan keluarganya saat terkonfirmasi positif dan dikarantina. Sehingga memudahkan proses 3T (Testing, Tracing dan Treatment).

“Itu terbukti efektif. Saat pekerja rentan saat dikarantina khawatir keluarganya tidak ada yang menjamin makan keluarganya. Maka kita ambil kebijakan melalui APBD sebesar Rp1 juta, Kabupaten Kota menjamin makan keluarganya. Bahkan jika ada yang meninggal karena covid kita beri santunan Rp3 juta,” kata Gubernur.

Sedangkan dalam upaya pemulihan ekonomi, Gubernur Ansar menjelaskan Pemprov Kepri menggunakan dual track strategy. Yang pertama melalui UMKM dengan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Tapi Pemda juga menyediakan bantuan modal kredit Rp20 juta untuk 2.000 UMKM di tahun 2021 tanpa bunga. Kita bekerja sama dengan bank daerah, bunganya pemda yang menanggung. Alhamdulillah masyarakat sangat antusias memanfaatkan itu. Tahun 2022 kita menambah lagi 1.000 UMKM,” ungkap Gubernur Ansar.

Strategi kedua yang disampaikan Gubernur Ansar adalah mendorong percepatan investasi, dengan berbagai diskresi Pemerintah Pusat seperti FTZ dan KEK. Namun, upaya dari Pemprov sendiri adalah mendorong bagaimana pelayanan birokrasi investasi itu lebih baik, cepat, efisien dan efektif.

“Bagi kami insentif itu tidak hanya dalam bentuk fiskal, tapi pelayanan birokrasi investasi yang baik juga menjadi prasyarat percepatan pemulihan ekonomi. Hasilnya berbarengan dengan dibukanya kembali kran pariwisata pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 2020 sempat terkontraksi di angka -3,84 persen, 2021 secara agregat tumbuh 3,86 persen. Di tahun 2022, sampai triwulan III tumbuh 6,03 persen. Kita perkirakan nanti setelah BPS rilis, pertumbuhan ekonomi agregat di tahun 2022 mencapai 5,5 sampai 6 persen,” tutupnya. (***)

Editor Yusfreyendi

Loading...