free page hit counter

Kisah di Balik Revitalisasi Pulau Penyengat, Bansus Tak Jalan hingga Rapat 10 Kali

Loading...

Suarasiber.com – Staf khusus Gubernur Kepri, Syarafuddin Aluan angkat bicara terkait kenapa akhirnya Pulau Penyengat perlu di revitalisasi atau di percantik.

Menurutnya, keinginan mempercantik Penyengat sudah ada dalam benak Gubernur Kepri Pertama H. Ismeth Abdullah. Kala itu bahkan sudah dibentuk Badan Khusus (Bansus) untuk kegiatan revitalisasi Pulau Penyengat.

“Namun sampai tiga gubernur berlalu, Bansus tidak sempat terwujud. Ide revitalisasi Penyengat muncul kembali saat kunjungan Menteri Bappenas tahun lalu di Lagoi, Bintan,” ungkapnya, Kamis (12/5/2022).

Kesempatan itu digunakan Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyampaikan niat soal revitalisasi Penyengat. Ansar juga mengajak Suharso Monoarfa berkunjung ke Penyengat.

Dua hari kemudian, Aluan menghubungi ajudan Menteri Bappenas, menyampaikan niat untuk berjumpa bersama Gubernur Ansar. Pertemuan digelar dengan melibatkan semua deputi di kantor Bappenas.

“Rapat ini untuk mencari anggaran atas usulan Gubernur atas dana sekitar Rp100 miliar lebih untuk revitalisasi Pulau Penyengat,” imbuh Aluan.

Untuk kepentingan ini, Gubernur Ansar berkali kali menjumpai Menteri Bappenas. Menteri lalu menyampaikan ada dana bantuan dari Islamic Developmen Bank sebesar Rp15 miliar dan dari APBN sebesar Rp10 miliar.

Gubernur Ansat tidak berhenti sampai di sini. Rapat kembali dilaksanakan, kali ini dengan Satker Kementerian PUPR sampai beberapa kali.

Pada akhirnya Gubernur meminta kepada Menteri PUPR agar dianggarkan juga dana sekitar Rp5 miliar.

Ditegaskan Aluan, letak kesulitan kegiatan merevitalisasi pulau Penyengat tidak sebatas mencari dananya. Namun kesulitan  dirasakan tidak mudah ketika harus mengurus persyaratan pembangunan dan revitalisasi Pulau Penyengat yang sudah terdaftar sebagai Cagar Budaya Warisan Dunia.

Bagaimana mempersiapkan DED-nya, proses izin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan sebagainya.

Syarat yang diminta oleh Kementerian PUPR dan kemudian harus izin dari Situs Cagar Budaya di Batusangkar, Sumbar.

Semua dijelaskan Aluan memerlukan kajian yang rumit. Dan semuanya harus selesai jika revitalisasi ini akan dilakukan. Rapat dilakukan berulangkali, bahkan lebih 10 kali untuk koreksi dan perbaikan semua dokumen baru.

“Saya rasa perjuangan untuk merevitalisasi Pulau Penyengat tidak semudah yang dalam pikiran kita. Namun semua itu berkat kerja keras kawan-kawan Bappenas, PU dan Satker PUPR. Yang saya sampaikan ini adalah niat baik Gubernur untuk membangun, semoga ini dapat dipahami,” kata Aluan. (zainal)

Editor Yusfreyendi

Baca berita suarasiber.com lainnya di GOOGLE NEWS atau BABE

Loading...