free page hit counter

Warga Pemilik Pondok Wisata Trikora Bahkan Tak Mampu Perbaiki Fasilitas

Loading...

Suarasiber.com – Pandemi Covid-19 yang menghantam Indonesia Maret 2020 lalu telah mengubur harapan warga Trikora pemilik pondok wisata sederhana.

Sebelum corona tiba, pantai dan pondok yang dikelola pribadi menjadi penghasilan utama. Hal ini sangat beralasan sebab dalam sebulan, setidaknya ada empat hari minggu.

“Setiap minggu pondok penuh terisi. Apalagi kalau lebaran atau tahun baru dan liburan sekolah, ramai sangat,” ujar lelaki yang disebut Datuk, yang mengelola pantai wisata di dekat warung kopi, Trikora, beberapa hari lalu.

Biaya sewa satu pondok berkisar Rp40 – 60.000. Meski makanan yang dibuat di warungnya hanya mie rebus dan goreng, ternyata cukup laris.

Namun corona telah memupus harapan tuanya, pantai tak lagi bisa dijadikan andalan.

Senada dengan Datuk, ada juga anak seorang pengelola wisata pantai yang mengisahkan sulitnya saat ini.

Ia lantas menunjukkan tiang-tiang pondoknya yang sudah keropos. Manandakan sudah minta diganti, atau setidaknya diperbaiki.

“Nggak kuat beli kayunya buat tiang dan rangka atap,” tuturnya.

Lelaki bernama Rudi ini mengatakan, untuk satu lori kayu hutan gelondongan dengan ukuran diameter untuk tiang pondok harganya Rp2,5 juta.

Harganya naik Rp1 juta dibandingkan beberapa tahun lalu ia memesan dua lori batang kayu untuk mendirikan sejumlah pondok.

Selain harganya mahal, belum tentu sehari dua hari bisa mendapatkan jumlah yang dipesan. Hal ini karena hutan yang ada sudah berubah fungsi.

“Pencari kayu harus menebang di sini, satu lagi di sana, satu lagi di ujung sana. Jaraknya jauh-jauh, itu juga tak sekitar Trikora,” lanjutnya.

Dari pantauan suarasiber, tak sedikit pondok-pondok wisata yang dikelola perorangan kondisinya sudah rapuh.

Pengunjung juga tak banyak yang datang. Kebanyakan sepi, atau kalu ada hanya satu atau dua orang di satu pantai yang dikelola warga.

Demikian juga dengan warung-warung makanan yang berderet di sebuah tempat yang dipasang tembok pembatas denga pemecah ombak di bawahnya.

Sebagian tutup, sementara yang buka juga sepi. “Nggak pasti sekarang, bang. Kadang minggu ramai kadang sepi, banyak sepi sejak corona,” ujar seorang pedagang, Ndi.

Untuk menutup kebutuhan, warga mengaku berharap dari Bansos yang diberikan pemerintah. (fut)

Loading...