free page hit counter

Program Pemberdayaan Masyarakat dan Kemampuan untuk Mandiri

Loading...
Cindy Antika

Pemberdayaan masyarakat menjadi istilah yang semakin lama semakin gampang ditemukan. Tak hanya di perkotaan, di pedesaan pun pemberdayaan masyarakat banyak dilakukan.

Terjadi kebingungan sebenarnya terhadap istilah tersebut. Bantuan pemerintah disebut untuk pemberdayaan masyarakat, pelatihan membatik juga demikian. Padahal menurut penulis pemberdayaan masyarakat bukan semata-mata melibatkan masyarakat untuk sebuah kegiatan.

Salah satu dasar yang penulis gunakan ialah apa yang dirumuskan oleh Fahrudin bahwa pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memampukan dan memandirikan masyarakat.

Di dalamnya ada dua kata yakni memampukan dan memandirikan. Penulis sengaja membangun penjelasan pada dua hal tersebut.

Dalam kacamata penulis, memampukan dari kata dasar mampu artinya masyarakat yang diberdayakan mampu melakukan apa yang diajarkan atau dilatih. Kalau ada pelatihan kerajinan pembuatan kerang sebagai perhiasan di pegunungan tentu harus dipertimbangkan.

Katakanlah peserta pelatihan bisa mengikuti. Mereka bahkan bisa berkreasi dengan bahan contoh yang dibawa. Namun untuk produksi ke depan, harus dipikirkan untuk mendatangkan kulit kerang dari daerah pantai ke gunung.

Kalau dari kajian harganya tak masuk, sebaiknya pelatihan untuk warga yang ada di pegunungan diganti yang sesuai dengan kondisi yang ada. Misalnya membuat manisan atau camilan dari buah-buahan yang tumbuh di dataran tinggi barulah sesuai.

Masyarakat yang diberdayakan akan mampu melakukan apa yang diperolehnya selama pelatihan, workshop atau apapun itu namanya.

Mampu di sini harus alami, tidak dipaksakan terus-menerus. Jika pada awal sebuah proses kreatif harus dipaksa tidak masalah. Toh yang dipaksa ialah semangatnya agar termotivasi untuk mengubah hidup lebih baik saat diberdayakan.

Tetapi kalau dipaksakan terus menerus agar mampu, tidak akan bertahan lama. KIta lihat berapa banyak uang dihabiskan sia-sia karena pelatihan yang tidak direncanakan dengan matang.

Kata kedua yang menjadi inti artikel ini ialah mandiri. Penulis percaya, tidak perlu diuraikan panjang lebar arti dan makna mandiri. Bahkan sejak kecil sebenarnya kita sudah dibiasakan mengartikan kata mandiri oleh orang tua kita.

Misalnya kita diajari makan dengan sendok sendiri, mandi sendiri dan sebagainya. Mandiri memiliki tujuan yang bagus, hasil yang diharapkan sesuai keinginan. Mandiri juga diartikan sebagai sikap yang tidak suka merepotkan orang lain terus menerus.

Begitulah seharusnya sebuah program pemberdayaan masyarakat dijalankan. Selain mampu, masyarakat yang menjadi objek pemberdayaan harus mandiri.

Pelatihan atau workshop atau apapun namanya hanya pembuka jalan. Nyatanya banyak pelatihan yang juga mengajarkan bagaimana memasarkan produk. Artinya sudah dijelaskan tentang proses kreatif sampai menghasilkan.

Hasil dari pemberdayaan masyarakat menurut penulis harus mampu membuat seseorang, beberapa orang atau satu kelompok mandiri. Meski pemberdayaan tak lagi diadakan, namun mereka tidak akan mati berkreasi.

Contoh suksesnya program pemberdayaan masyarakat ialah Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Desa ini memiliki predikat sebagai desa terbaik di Indonesia.

Desa ini memiliki warga yang berangkat ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Oleh perangkat desa, uang yang dikirimkan para TKI disarankan untuk usaha yang menguntungkan, tidak hanya sebatas habis untuk konsumtif.

Dari total jumlah penduduk Desa Majasari yang berjumlah sebanyak 3.000 orang lebih, sekitar 80 persennya berprofesi sebagai TKI. Namun keberadaan TKI ini ternyata berhasil diberdayakan untuk pembangunan desa oleh sang kepala desa.

Hasilnya, warga desa tak hanya memiliki kemampuan namun juga kemandirian. Buktinya pemberdayaan masyarakat ini mampu menekan angka kemiskinan yang awalnya 18 persen menjadi hanya 6 persen dari total jumlah warga.

Tentu harus berjuang, karena Kades Majasari mengarahkan uang yang diterima para keluarga para TKI itu untuk keperluan produktif seperti membangun usaha dan lainnya.

Berkaca dari uraian di atas, suksesnya sebuah pemberdayaan masyarakat bisa dilihat dari hasilnya. Bila semakin redup itu tandanya ada yang salah. Entah tidak mampu atau mandiri atau malah keduanya.

Program pemberdayaan harus disesuaikan dengan kultur masyarakat, sumber daya alam dan sebagainya. Adalah kebijakan yang harus dikritik jika ada yang mencoba memberdayakan masyarakat hanya dengan pelatihan dua jam. Setelah itu tak ada tindak lanjutnya.

Mampu dan mandiri membutuhkan waktu yang panjang. Butuh keseriusan dan ketelatenan. Karena pemberdayaan ialah proses belajar yang dilakukan masyarakat dengan beragam tingkat pendidikan dan ekonomi. ***

Penulis: Cindy Antika; NIM: 18101072
; Jurusan: Ilmu Administrasi Publik Stisipol Raja Haji Tanjungpinang – Provinsi Kepulauan Riau.

Loading...